Hikmah Dibalik Pelaksanaan Ibadah Haji

Bagikan:

 

Ilustrasi/NET

Oleh: Rita Diana Lestari*

Menurut Asy Syarif Ali al Jurjani, ibadah adalah perbuatan seorang mukallaf (baligh dan berakal) yang berlawanan dengan hawa nafsunya, dalam rangka mengagungkan Allah SWT. Sedangkan ibadah menurut bahasa berarti mangabdi, tunduk, dan taat. Pada dasarnya, dengan ibadah manusia menunjukkan pengabdian sebagai hamba kepada Allah SWT., dan juga sebagai tanda ketaqwaannya kepada Allah SWT. Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam surah adz Dzaariyaat ayat 56: yang artinya " Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Surat adz Dzaariyaat 51:56).

Allah SWT. telah menjadikan ibadah dalam berbagai cara dan bentuk, ada yang berupa perenungan yang mendalam terhadap kebesaran dan keagungan Allah, ada juga yang berupa munajat dan do'a, ada yang berupa gerakan-gerakan anggota tubuh yang menyimpan makna yang begitu mendalam, kemudian ada yang berupa perintah menahan diri dari beberapa perbuatan yang halal pada beberapa waktu tertentu, dan ada pula yang berkaitan dengan harta yang dimiliki, serta ada pula yang berupa sikap dan perbuatan yang baik terhadap sesama manusia dan juga sesama makhluk.

Dengan demikian, ibadah memiliki makna yang luas meliputi seluruh perbuatan manusia yang beriman kepada Allah SWT. yang secara global terbagi menjadi dua, yaitu hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Yang pertama yaitu ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa, kemudian ibadah finansial sekaligus sosial yaitu zakat, dan yang selanjutnya ibadah fisik sekaligus  sosial yaitu Haji. Sedangkan yang kedua meliputi: tugas membela agama yaitu jihad, tata aturan rumah tangga, yaitu segala yang berkaitan dengan pernikahan, thalaq, nasab, serta warisan, aturan bisnis seperti jual beli, akad jasa, dan lain sebagainya. Mengenai hukuman pidana yaitu qishas, ​​dan had - had.

Dari sekian banyak ibadah yang biasanya dilakukan oleh umat Islam, ada satu ibadah fisik sekaligus sosial yang  begitu istimewa dan juga tidak mudah untuk bisa menjalani ibadah tersebut, lebih tepatnya untuk bisa melaksanakan ibadah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah ini, Ibadah tersebut adalah ibadah Haji.

Tentunya, nama ibadah Haji ini sendiri sudah sangat sering sekali terdengar ditelinga kita. Ibadah ini pertama kali disyari’atkan pada tahun ke-6 Hijriah, sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Ali Imran 3:96-97. Yang artinya “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

Berbicara mengenai Haji, mari kita pahami dulu makna dari Haji. Jadi, kata Haji berasal dari kata al-Hajj yang menurut bahasa berarti menyengaja. Sedangkan secara istilah syari’at Islam Haji berarti menyengaja mengunjungi ka’bah di Mekkah untuk melakukan beberapa rangkaian amal ibadah dengan rukun dan syarat-syarat yang telah di tentukan oleh syara’. Haji juga merupakan rukun islam yang kelima dan pokok ibadah yang keempat, yang sangat diperintahkan oleh Allah SWT. setelah disyari’atkannya ketiga pokok ibadah sebelumnya, yakni ibadah sholat, puasa Ramadhan, dan Zakat.

Melaksanakan ibadah haji sudah menjadi salah satu kewajiban dan juga keharusan bagi kita semua umat Islam yang mampu serta juga merupakan salah satu ibadah yang sangat special sekali bagi semua umat Islam. Dimana nantinya umat islam akan menjalani haji tersebut ketanah yang diberkahi yang terkenal dengan sebutan tanah suci Mekkah. Dengan melaksanakan ibadah tersebut menjadi salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. dan juga yang pastinya sebagai amal ibadah kita untuk bekal diakhirat  akan bertambah jauh lebih banyak. Ibadah Haji ini menjadi ajang bagi umat Islam untuk memperkuat tali persaudaraan dengan sesama muslim. Bahkan, ibadah Haji dapat menunjukkan betapa kokohnya umat Islam jika Bersama-sama bersatu dan bergandengan tangan tanpa melihat, bahasa, dan ras dihadapan umat Islam yang lain.

Dibalik rangkaian pelaksanaan rukun dan syarat-syarat ibadah Haji yang telah di tentukan oleh syara’, terdapat hikmah yang mendalam di balik pelaksanaan ibadah Haji ini. Dimulai sejak jamaah haji mengenakan pakaian ihram, dari hal itu melambangkan kezuhudan manusia dan sebagai bentuk latihan untuk kembali kepada fitrahnya yang asli, yaitu suci dan bersih. Dengan pakaian seragam berwarna putih, jamaah haji berkumpul melakukan Ukuf di ‘Arafah. Kata Ukuf berarti berhenti , sedangkan kata ‘Arafah berarti naik. Dari makna secara bahasa tersebut dapat kita peroleh suatu hikmah, bahwasannya Ukuf di 'Arafah pada dasarnya adalah suatu usaha dimana fisik atau tubuh berhenti di Padang' Arafah, kemudian jiwa atau spiritual tersebut naik menemui Allah SWT.

Ukuf di ‘Arafah ini memberikan rasa keharuan dan menyadarkan umat islam akan peristiwa yang besar yaitu yaumul masyar, yang mana ketika itu manusia diminta untuk mempertanggung jawabkan atas segala hal yang telah dikerjakan selama di dunia. Di Padang 'Arafah itulah, manusia mengakui dan menyadari betapa kecilnya dia dan betapa maha besar dan angungnya Allah SWT., dan juga menyadari bahwasannya semua manusia sama, setara dan sederajat disisi Allah SWT.

Ibadah thawwaf dan sa'i yang dilaksanakan secara serempak dalam suasana khusyu’ dan juga bacaan-bacaan yang dilantuntakan memberikan makna bahwa umat Islam harus hidup dengan penuh ketaatan, serta penuh pengorbanan untuk sampai pada ridha Allah SWT. Pelaksanaan sa’I ini mengingatkan manusia akan perlunya hidup sehat disertai dengan usaha sungguh-sungguh serta perjuangan habis-habisan dalam meraih Kesehatan dan kebahagiaan.

Pada bulan Haji, umat Islam sedunia mengadakan pertemuan tahunan secara besar-besaran, yang jamaah nya berdatangan dari seluruh penjuru dunia, yang terdiri atas berbagai bangsa. Umat islam di persatukan di bawah Ka’bah. Ka’bah lah yang menjadi lambang persatuan dan kesatuan umat islam di seluruh dunia. Pertemuan semacam inilah yang harus digunakan oleh umat Islam dalam rangka pembinaan dan pembangunan umat Islam baik secara nasional maupun internasional.

Dengan menunaikan ibadah Haji, umat islam didorong untuk menjadi manusia yang luas gerak dan luas pandangan hidupnya, yang dapat menambah ilmu dan pengalaman dengan berbagai Bahasa. Memalui perkenalan itu akan lahir rasa hormat dan saling menghargai antar sesame umat islam dari berbagai penjuru dunia. Syarat “mampu dan kuasa”, sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Ali Imran 3:97, telah ditetapkan oleh Allah perintah untuk menunaikan ibadah Haji. Ketetapan itu mendidik umat islam agar menjadi kuat dan sehat dalam bidang harta benda, fisik, dan rohani untuk dapat melakukan ibadah Haji yang sifatnya wajib hanya sekali seumur hidup. Karena syarat itulah yang mengisyaratkan bahwa Haji merupakan ibadah fisik, ibadah rohani, dan ibadah dana.

KH. Zainuddin MZ mengatakan bahwasannya “Haji adalah ibadah yang dimana badan ikut melaksanakan, hati turut juga dan hartapun keluar. Bahkan jika kurang salah satu daripadanya jelas tidak akan bisa terlaksana ibadah haji ini. Kemudian beliau juga mengatakan, “ Ibadah ini hanya bisa di kerjakan di waktu tertentu dan di tempat yang tertentu juga, inilah keistimewaan dari ibadah haji. Oleh karena demikian istimewanya ibadah ini Allah SWT. mendorong melalui lisan baginda Rasulullah SAW. Dimana Nabi bersabda yang artinya “Haji yang mabrur tidak ada balasan yang lain dari Allah kecuali surga”. Ujar KH. Zainuddin MZ dalam video yang diunggah di akun youtube Voice Of Kyai.

Dari hikmah pelaksanaan dan juga keistimewaan ibadah Haji yang telah tersirat di atas, tidak dapat kita pungkiri lagi  bahwasannya ibadah Haji ini sungguh menyimpan hikmah yang begitu luar biasa. Maka dari itu, marilah bersama-sama kita berlomba dan berusaha untuk dapat berangkat ke tanah suci bersama orang-orang yang dicintai.

*Mahasiswi Manajemen Dakwah Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Pontianak

Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: