Hati-hati Dengan Cinta, Ia Bisa Tumbuh Kapan Saja I Dua Wejangan Mahabbah Ala Imam Syafi'i

Bagikan:

Ilustrasi/Net

Oleh: Isa Saburai

jurnalistiwa.co.id - Kata mahabbah sudah tidak asing di telinga kita lagi. Apa lagi kalau kita anak pesantren, pasti mahabbah sudah sangat familiar. Berbicara tentang mahabbah, kita tahu tidak arti mahabbah itu sendiri? Mahabbah adalah kondisi dalam hati manusia yang muncul tanpa disengaja. Mahabbah juga sering disebut dengan cinta.

Sedangkan cinta menurut KBBI adalah suka sekali; senang sekali. Nah, dengan pengertian ini, maka bisa kita simpulkan bahwa setiap orang pasti pernah cinta atau mahabbah dengan orang lain seperti orang tua cinta kepada anaknya, suami cinta kepada istrinya atau sebaliknya, murid bermahabbah dengan murobbi (guru)nya.

Lalu apakah boleh kita cinta (mahabbah) dengan lawan jenis dalam artian bukan muhrim alias kekasih? Imam Syafi'i memberikan wejangan kepada kita dalam kitabnya yang berjudul "Diwan al-Imam asy-Syafi'i." Beliau memberikan dua wejangan tentang cinta (mahabbah), yaitu:

1. Bagian dari bencana itu ketika engkau mencintai, sementara orang yang kau cintai tidak mencintaimu.

Dari poin pertama, dapat kita simpulkan bahwa cinta bertepuk sebelah tangan adalah bagian dari bencana. Kenapa bisa demikian? Karena waktu, tenaga, dan tubuh kita disia-siakan oleh orang yang kita cintai, tetapi dia tidak mencintai kita. Sakit gak si? Pastilah. Kalau kata pemuda sekarang si, "Sakit Tak Berdarah, hehehe."

Oleh karena itu, cintai (mahabbah) kepada seseorang yang benar-benar tulus mencintai kita juga dan tidak memandang akan kekurangan yang kita miliki. Sebab manusia adalah tidak ada yang sempurna, bukankah yang sempurna itu hanyalah milik Allah SWT?

2. Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah SWT.

Di poin kedua ini sudah sangat jelas, ya. Bahwa kita tidak boleh mencintai (mahabbah) kepada orang yang tidak mencintai Allah SWT. Dia aja berani tidak mencintai Allah SWT dan meninggalkan Allah SWT, apalagi kepada kita. Jadi, mahabbahlah kepada para ulama yang benar-benar menjalankan perintah Allah SWT agar kita juga mendapatkan cahaya dan petunjuk akan kebaikan juga.

Itulah wejangan yang diberikan oleh Imam Syafi'i untuk kita yang sedang dilanda cinta (mahabbah). Tak perlu disesali jika kita sudah mencintai seseorang yang tidak mencintai kita atau tidak mencintai Allah SWT. Saat ini, kita hanya perlu memperbaiki diri dan niat agar selalu mencintai seseorang yang salah. Kalau andaikan dulu kita pernah mahabbah kepada orang yang tidak mencintai Allah SWT, sekarang perlahan-lahan tinggalkan dia atau ajaklah dia agar mencintai Allah SWT.

Budayawan Indonesia juga pernah berkata seperti ini, "Kita bisa merencanakan menikah dengan siapa pun, tetapi kita tidak bisa merencanakan cinta kita untuk siapa." (Sujiwo Tejo)

Berhati-hatilah dengan kata cinta karena dia bisa tumbuh kapan saja. Entah siang atau malam, dia akan datang seperti ajal, tidak ada yang mengetahuinya. So, jagalah hati agar dirimu tidak mudah tersakiti oleh orang yang kau cintai, apalagi dia tidak mencintai Sang Ilahi. Miris melihat pemuda sekarang lebih mencintai orang-orang korea yang tidak cinta Allah SWT bahkan tidak tahu Allah SWT itu siapa?

Padahal kita sebagai umat Islam terbesar dan kita juga punya banyak ulama tersebar diberbagai dunia dengan keterampilan yang berbeda-beda. Dengan kita mahabbah kepada para ulama, membuat diri kita akan tentram menuju Rabb Ilahi. Bukankah kita hidup mencari keberkahan Allah SWT dan ridanya? Kalau memang itu, mari ubah mahabbah kita dari yang dulu cinta dengan artis korea menjadi cinta para ulama, seperti habaib dan kiai.

 

Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: