Musibah dan Muhasabah Awal Tahun 2021

Bagikan:


Di awal tahun 2021, Indonesia kembali diuji dengan berbagai musibah, mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, gempa di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan di daerah lainnya, longsor di Sumedang, meletusnya gunung semeru dan erupsi gunung merapi serta bencana lainnya di berbagai daerah, hingga wafatnya ulama, menjadi kabar duka yang memenuhi berita di media-media pada masa pandemi covid-19.

Namun sepertinya,  musibah itu datang sekadar menimbulkan duka laras, kemudian setelah itu tak berbekas apa-apa.

Kegelisahan yang dirasakan oleh masyarakat pada tahun sebelumnya dan mempunyai harapan baik akan berakhirnya pandemi covid-19 sertah pulihnya ekonomi, justru sebaliknya pada awal tahun 2021 ini bertambah lagi ujian yang dihadapi, manusia diuji seberapa ikhlas dan sabar untuk menghadapi berbagai musibah yang terjadi saat ini, semua warga Negara Indonesia berbelasungkawa, turut berduka atas apa yang telah terjadi, berharap yang terbaik semoga kita semua diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menjalani semua. 

Musibah merupakan ujian dan teguran dari Allah SWT, tidak hanya bagi yang merasakannya, namun juga bagi yang menyaksikannya, karenanya manusia tidak diperbolehkan   untuk mengeluh terhadap musibah yang menimpa bahkan sebaliknya harus memperbanyak syukur dan istighfar. Sebab Allah menjadikan musibah dan penyakit sebagai medium bagi kita agar bertrasformasi menjadi hamba yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Syeh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber dalam nasehatnya ketika kita sedang diuji atau mendapatkan musibah ucapkanlah Alhamdulillah terlebih dahulu, barulah innalillahi wa inna ilaihi rajiun, karena dengan memuji Allah SWT saat mendapatkan musibah justru akan membuat hati kita tenang. Nasehat ini bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga sebagai hamba bisa lebih meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT .

Konsep muhasabah diri menurut Imam Al-Ghazali adalah selalu memikirkan, memperhatikan serta memperhitungkan apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat. Tujuan muhasabah menurut konsep Imam Al-Ghazali adalah agar seseorang dapat melihat kekurangan terhadap amalannya dan menjadi lebih bertanggung jawab kepada dirinya, serta menyadarkan seseorang dari terus melakukan perkara yang sia-sia. 

Saat ini seakan-akan alam memberi teguran kepada manusia apa yang sudah dilakukan manusia terhadap alam, yang mana dengan banjir teguran alam terhadap manusia yang menebang pohon dan hutan dengan sekala besar yang mana air tak dapat lagi menyerap di tanah, dan lonsor yang mana tanak tak lagi di ikat oleh akar, serta bencana yang lainnya yang harus kita pikirkan apa yang sudah diperbuat sebelumnya.

Muhasabah diri haruslah dilakukan pada saat ini dengan memperbanyak istighfar, karena dengan melakukan muhasabah dapat mendidik hawa nafsu agar tidak sering lalai dengan nikmat dunia, bertindak sesuai dengan moral serta berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, dapat menyucikan jiwa dan membantu dalam menjaga hubungan sosial masyarakat serta kembali mewujudkan negara yang aman dan sejahtera.

Semoga masyarakat Indonesia diberi kekuatan untuk merespon semua dengan sikap terbaik berlandaskan keimanan juga mampu berkontribusi untuk meringankan beban saudara-saudara kita di lokasi bencana dan memudahkan proses evakuasi, mempercepat penyembuhan dan pemulihan dengan semangat gotong-royong harus kita tingkatkan dalam membatu keluarga Indonesia sesuai dengan peran dan kemampuan masing-masing, memberikan ikhtiar terbaiknya, sehingga bencana dapat diatasi lebih mudah.

Penulis: Muhammad Azhar Oktamika, Mahasiswa KPI Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Bagikan:

ARTIKEL

OPINI

Komentar:

0 comments: