Ustad Muhammad Yusuf: Di Bulan Muharram Tidak Boleh Ada Pembunuhan, Maksiat, Apalagi Perceraian

Bagikan:

Pontianak, jurnalistiwa.co.id - Pada bulan Muharram dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Hal tersebut disampaikan oleh Ustad Muhammad Yusuf saat menjadi pembicara dalam acara Diskusi Online yang dilaksanakan oleh HMPS HKI, pada Senin (31/08/2020) lalu. 


"Muharram adalah salah satu dari empat bulan selain Zulqaidah, Zulhijjah, dan Rajab yang tersebut dalam Al-Qur’an (QS. At Taubah : 36). Kata Muharram artinya dilarang, pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya," jelasnya dalam Diskusi Online yang mengangkat tema '1 Jam Bersama Muharram' tersebut.


Ia menambahkan bahwa didalam bulan ini terdapat puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, yaitu puasa Asyura.


"Pada hari ke sepuluh pada bulan Muharram dalam penanggalan islam terdapat hari Asyura yaitu disunahkan untuk berpuasa, seperti sabda Nabi Muhammad Saw; 'Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di (bulan) Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam,' (H.R Muslim)," jelasnya.


Selain itu ia juga menjelaskan banyak sekali tradisi yang dilakukan masyarakat ketika Muharram tiba, yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai sikap salah kaprah, diantaranya yang Pertama, menyiapkan makanan khusus untuk hari Asyura.


"Kedua, memakai celak mata pada hari Asyura, maka dia tidak akan sakit mata selama tahun itu. Ketiga, siapa yang mandi besar pada hari Asyura maka dia tidak sakit selama setahun itu," tuturnya.


Dosen Hukum Keluarga Islam itu menambahkan banyak orang beranggapan bulan muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husein ra. terbunuh pada bulan itu. 


"Sebagian masyarakat tidak melaksanakan pernikahan dan melakukan upacara khusus sebagai tanda turut berduka atas tewasnya Husein ra. Bahkan dengan cara menangisi, memukul-mukul bahkan melukai wajah dan punggung mereka," ungkapnya.


Ia juga menambahkan tradisi bubur Asyura dalam karifan lokal dianggap banyak mengandung nilai-nilai moral dan budaya dan sebagai sarana bersilaturahmi, bergotong royong, saling berbagi dan memberi makan.


"Tradisi ini layak untuk dipertahankan, tetapi harus tetap dibersihkan dari keyakinan-keyakinan diluar Islam,” tuturnya.


Ustadz Yusuf menuturkan bahwa banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari datangnya bulan Muharram.


"Refleksi di Bulan Muharram diantaranya, menyadarkan umat bahwa agama kita mempunyai cara hitung atas waktu secara khusus, yaitu tahun Hijriyah. Momentum untuk meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah, Memiliki ide dan tekad untuk berhujrah di bulan Muharram," jelasnya.


Tenaga pengajar di Pondok Pesantren Darunna'im itu juga menegaskan agar di bulan ini tidak boleh ada pembunuhan, maksiat, dan perceraian.


"Bulan muharram adalah bulannya Allah, tidak boleh ada pembunuhan dan perang apalagi bermaksiat pada bulan ini, suami istri juga tidak boleh bertengkar apalagi bercerai," tegasnya.


"Pada tradisi Asyura hal yang sangat disayangkan apabila masyarakat sangat antusias melestarikan tradisi tersebut, namun justru meninggalkan sunnah junjungan kita Rasulullah SAW,” tutupnya mengakhiri Diskusi Online 1 Jam Bersama Muharram.


Jurnalizen: Ika Ayuni Lestari
Editor: jurnalistiwa.co.id

Bagikan:

JURNALIS WARGA

JURNALIZEN

PONTIANAK

Komentar:

0 comments: