INDONESIA TERSERAH, Keputus-asaan atau Sindiran untuk Kita

Bagikan:
Indonesia Terserah/Net

Oleh: Ibrahim (ab_irhamiy)

JURNALISTIWA.CO.ID - Beberapa hari terakhir ini netizen dihebohkan dengan tagar `Indonesia Terserah` yang posting oleh teman-teman tenaga medis pada tanggal 15 Mei yang lalu.

Tagar tersebut mengundang perhatian banyak pihak, terutama netizen yang segera membanjiri kolom komentar dan like. Tak heran dalam waktu seketika tagar tersebut menjadi viral dan menduduki rangking teratas instagram, trending di twiter dan berbagai media sosial lainnya.

Tagar `Indonesia Terserah` yang menampilkan gambar dan video tenaga medis dengan berpakaian APD lengkap menghadap kamera sedang memegang tulisan Indonesia??? Terserah???. Ada juga yang membelakangi kamera dengan baju APD betuliskan `Indonesia Terserah`, dengan tangan kanan diarahkan ke kepalanya menyerupai pistol.

Ada apa dengan tagar ini? apa sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan oleh para tenaga medis dengan tagar tersebut? Terlepas dari pesan apa yang sesungguhnya dimaksudkan, ramai dari warganet yang memberikan komentar, dukungan dan like terhadap tagar ini. Ibarat bola, tagar `Indonesia Terserah` sudah terlanjur bergulir menjadi konsumsi dan perhatian warganet.

Tak sedikit yang langsung menghubungkan tagar ini dengan keputus-asaan tenaga medis yang menghadapi lonjakan kasus positif di tanah air. Meskipun ini langsung dibantah oleh pihak tenaga medis sebagaimana dilontarkan oleh dokter relawan Debryna Dewi.

Menurutnya, tagar tersebut bukanlah berarti tenaga medis akan menyerah dan berhenti melaksanakan tugasnya, melainkan tetap akan bertugas dengan semangat, bahan tampa lagi peduli dengan apapun sikap dan kepatuhan masyarakat (tribunews.com, 18 Mei 2020).

Ada juga yang menghubungan tagar ini sebagai ungkapan kekecewaan tenaga medis dengan kebijakan pemerintah kurang jelas dan tidak tegas. Bahkan memberikan kelonggaran transportasi akhir-akhir ini. Hal ini terkait dengan melonjaknya penumpang yang antrian di terminal bandara, stasiun kereta api dan lain-lain.

Bahkan harian merdeka.com menurunkan berita dengan judul `Indonesia Terserah` dan lunturnya semangat tenaga medis menghadapi pandemi. Benarkan vonis itu? Benarkan semangat tenaga medis telah meluntur? Tampa harus menjawabnya, kita bisa memaklumi besarnya peran dan tanggung jawab yang dipikul oleh tenaga medis sebagai garda terdepan melawan pandemi ini.

Di saat orang lain harus berada di rumah untuk menghindari penularan virus, mereka justru terus berada di luar rumah, di rumah-rumah sakit merawat para pasien. Di saat orang-orang diliburkan dari pekerjaan untuk berdiam diri di rumah berkumpul dengan keluarga, mereka justru harus terus pergi, ke luar rumah, bekerja dan berjaga di rumah sakit. Bahkan mungkin akan menyambut lebaran dari rumah sakit.

Jika sebagian warganet memahami tagar tersebut sebagai ekspresi kewalahan dari tim medis, adalah sesuatu yang dapat dipahami mengingat lonjakan kasus positif yang masih terus meningkat dari hari ke hari. Sementara jumlah tenaga medis kita terbatas. Kita hanya punya dokter yang tidak sampai 200 ribu orang. Dokter Spesialis Paru hanya ada 1.976 orang.  Artinya, satu dokter paru harus melayani 245 ribu warga Indonesia (Doni Monardo, news.etik.com).

Di luar apapun makna tagar `Indonesia Terserah` yang dimaksudkan oleh rekan-rekan tenaga medis, dan beragam tafsiran warganet, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah, terjadinya kerumunan banyak orang akhir-akhir ini di bandara, terminal bis, dan statiun kereta yang diakibatkan adanya kebijakan pemerintah melonggarkan transfortasi menjelang lebaran.

Sementara kasus positif di tanah air masih dalam lonjakan yang cendrung naik. Belum lagi, suasana di tempat perbelanjaan, di pasar-pasar, di mall-mall yang terus dipadati oleh pengunjung untuk berbelanja kebutuhan menjelang lebaran.

Kondisi ini sama sekali tidak menunjukkan adanya kepatuhan terhadap himbauan social/phsycal distancing, justru sebaliknya menghadirkan kerumuman orang yang luar biasa. Sangat masuk akal jika kekhawatiran terhadap kondisi ini akan memicu lonjakan kasus positif di tanah air.

Bila kekhawatiran ini yang terjadi, angka kasus positif terus meningkat tak terkendali, tentu saja menambah beratnya tugas dan beban tenaga medis di lapangan sebagai garda terdepan. Karena itulah tagar `Indonesia Terserah` mesti kita fahami dalam perspektif pikiran positif (positif thingking-husnuzhon) sebagai sindiran untuk kita semua, seluruh komponen bangsa ini.

Bahwa rekan-rekan tenaga medis juga manusia yang punya keterbatasan kemampuan, mereka juga punya hak untuk selamat dan aman sebagaimana kita. Jika mereka merasakan keletihan dan kewalahan dalam tugas mulia ini, itu sesuatu yang manusiawi.

Tapi yakinlah bahwa mereka akan tetap bekerja dan menjalankan tugas mulia ini, bahkan tampa mempedulikan sikap masyarakat yang acuh terhadap protokol keselamatan dan kesehatan, seperti diungkapkan oleh Debryna.

Tagar `Indonesia Terserah` yang digaungkan oleh para tenaga medis akan lebih positif jika kita maknai sebagai sindiran peringatan untuk kita semua (pemerintah dan masyarakat). Untuk pemerintah supaya lebih serius dan bijak dalam mengambil langkah penanganan kasus ini. Lebih tegas dan jelas dalam menjalankan setiap kebijakan yang dibuat.

Kemampuan pemerintah mengambil kebijakan yang tepat dan keseriusannya menghentikan kasus ini menjadi kekuatan dan semangat bagi rekan-rekan tenaga medis di lapangan.

Untuk kita sebagai masyarakat, tagar `Indonesia Terserah” mesti dipahami sebagai sindiran dan peringatan supaya kita lebih disiplin mematuhi aturan keselamatan dan kesehatan demi kemaslahatan bersama. Menjaga kesehatan diri, keluarga dan masyarakat dengan patuh menerapkan protokol kesehatan, antara lain social/phsycal distancing dan menghindari kerumunan.

Dengan begitu kita bukan saja bisa menyelamatkan diri sendiri dari ancaman penularan virus, akan tetapi juga menyelamatkan tenaga medis dari beban tugas yang lebih berat lagi.

Terimakasih rekan-rekan medis, terimakasih atas perjuangan yang tak pantang lelah kalian di garda depan. Sindiran mu dalam tagar `Indonesia Terserah` telah menjadi cambuk pengingat bagi banyak orang di negeri ini, bahwa kondisi negeri ini sangat bergantung (sangat bergantung) pada sikap kita semua- seluruh komponen bangsa ini dalam menghadapi wabah.

Semoga cambuk ini (tagar `Indonesia Terserah`) menjadikan kita semua (pemerintah dan masyarakat) sadar untuk lebih serius dan disiplin dalam mengatasi pandemi ini. Wallahu a`lam, (Villadamai, 200520/271441).
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: