Forum AICIS Ke-19 Bahas Permasalahan Membangun Karakter Gen-Z

Bagikan:

Jakarta, jurnalistiwa.co.id - Pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang ke 19, yang dihelat pada tanggal 1 sampai 4 Oktober 2019, bertempat di Hotel Mercure Batavia Jakarta, mengangkat sebuah tema yang aktual; relevan dengan keadaan zaman saat ini yang serba digital. Tema yang diusung dalam AICIS 19 ini bertajuk “Digital Islam, Education and Youth; Changing Lanscape of Indonesian Islam”. Ini maknanya yang disasar secara umum dalam perbincangan AICIS 19 ini adalah generasi muda Islam. Jika diteroka lebih dekat, maka pertemuan tahunan ini berangkat dari kegelisahan tentang berbagai perubahan selera keberagamaan yang terjadi di dunia Islam atau studi Islam pada hari ini, khususnya yang menyasar generasi muda.

Salah satu speaker AICIS asal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Syamsul Kurniawan misalnya, membawa isu mengenai “The Social Environment of Education and the Dilemma of Digital Native; A Study on Z Generation of Malay Ethnic in Pontianak”. Berangkat dari teori Marc Prensky mengenai “Digital Native” dan “Digital Immigrant” Kurniawan menjelaskan secara kritis tentang terjadinya dilema lingkungan sosial pendidikan generazi z (Gen-Z) yang oleh banyak pakar pendidikan dianggap menjadi sebab kurang berhasilnya dalam program membangun karakter. Sebabnya bukanlah karena UU Sisdiknas 20 tahun 2003 yang mengamanahkan pendidikan karakter itu tidak relevan. Justru UU ini masih sangat relevan menurutnya jika dikaitkan dengan komitmen pemerintah dalam revolusi mental.

Hanya saja, kemunculan media baru di tengah-tengah masyarakat pada hari ini, termasuk orang-orang Melayu, mengakibatkan kebutuhan akan sumber-sumber belajar baru, cara-cara baru dalam mengasuh, mengajar atau mendidik, serta paradigma baru. Gen-Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Gen-Z adalah generasi setelah Generasi Y, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Mereka mengalami konsekuensi dari era yang sering disebut-sebut mengalami keadaan disrupsi.

Syamsul Kurniawan, yang merupakan awardee program 5000 Doktor Kementerian Agama tahun 2018 di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memaparkan data-data yang menarik terutama mengenai pergeseran selera Gen-Z pada hari ini, khususnya orang-orang Melayu yang tidak menyukai model-model pembelajaran yang konvensional. Dalam belajar agama Islam misalnya, keberadaan ustadz-ustadz di media online atau media sosial seperti di facebook, youtube, dan sebagainya pada hari ini lebih banyak menarik simpati mereka ketimbang ustadz-ustadz atau kiyai-kiyai yang mengajar agama Islam dengan cara-cara konvensional. Maka muncullah figur-figur sepertu Ustadz Abdus Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Hanan Attaki, Felix Siaw, dan sebagainya sebagai figur penting dalam pembelajaran agama Islam di kalangan Gen-Z.

Mirisnya, Gen-Z di kalangan orang-orang Melayu di Kota Pontianak sebagaimana hasil penelitian, mulai banyak yang terasing dengan keberadaan kiyai-kiyai atau ustadz-ustadz lokal di sekitar mereka, yang sebelumnya (di kalangan generasi Y) dianggap punya otoritas penting dalam pembelajaran agama Islam. Begitupula posisi guru atau dosen, baik di sekolah atau perguruan tinggi. Sehingga bukan mustahil peran kiyai, ustadz, guru, dosen, dan sebagainya hari ini akan tergantikan oleh media baru tersebut. Contoh lain, tradisi ngaji di pesantren yang belakangan sudah mulai bergeser ke tradisi ngaji online yang jelas pada ranah ini menyasar kelompok Gen-Z.

Kemunculan media baru menurut Kurniawan juga mengakibatkan perubahan gaya hidup orang Melayu. Orang Melayu yang sangat menjunjung tinggi kesantunan sebagai seorang Melayu dengan berbagai kearifan lokal yang melingkarinya, mulai terancam akan kehilangan identitas kemelayuannya. Sehingga menurut Kurniawan, jika dilema Gen Z sebagai digital native pada saat ini tidak segera dicarikan jalan keluarnya, maka bukan tidak mungkin ada generasi yang hilang di masa depan, di mana mereka terasing dengan pantang larang, dan atau tradisi-tradisi keislaman seperti pengajian albarjanzi, halal bihalal sebulan penuh selama lebaran, dan sebagainya.

Untuk itu Syamsul Kurniawan, diakhir pemaparannya menyarankan pentingnya kiyai, ustadz, guru dan dosen serta orang tua sebagai aktor penting dalam lingkungan sosial pendidikan, agar “melek digital”. Mereka harus menyiapkan sumber-sumber belajar digital dan model belajar yang sesuai dengan karakteristik Gen Z sebagai digital native seperti digital parenting, digital learning, e-learning, dan lain-lain. Kurniawan mengingatkan jangan sampai perubahan zaman yang ditandai oleh kemunculan media-media baru pada hari ini, direspon keliru sehingga lebih banyak sisi mudharatnya ketimbang sisi manfaatnya. Tetapi Kurniawan juga menggaris bawahi, bukan dalam konteks sebagai “ancaman” melainkan sebagai “tantangan”. Era digital, menyuguhkan tantangan-tantangan sekaligus peluang tentang bagaimana menjadi milineal tanpa harus kehilangan identitas sebagai Melayu. Terlihat audiens sangat antusias dengan isu dan diskursus yang dibawa oleh ASN Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di IAIN Pontianak ini.


Penulis: Abdullah
Editor  : Sukardi
Bagikan:

JAKARTA

NASIONAL

PENDIDIKAN

Komentar:

0 comments: