Harmoni Sejak Dini

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Febri Utami

Kian hari kita kian disuguhkan dengan berbagai macam siaran dan pemberitahuan melalui media dan televisi mengenai konflik-konflik yang belakangan ini terjadi di Indonesia. Mulai dari konflik yang melanda Papua dan konflik RUU yang berujung pada aksi demonstrasi mahasiswa.

Memang dalam menjalani kehidupan kita tidak bisa terpisah dari yang namanya konflik. Bahkan di dalam diri kita sendiri pun sering terjadi konflik, tepatnya di dalam hati. Namun demikian, kita masih memiliki kesempatan dan upaya untuk mencegah serta menghindari ancaman yang menyebabkan konflik.

Dalam merealisasikan upaya tersebut, Prodi Studi Agama-agama IAIN Pontianak yang bekerja sama dengan SINAU Institut menyelenggarakan sebuah kegiatan guna mensosialisasikan kerukunan antar umat beragama dengan mengusung tema “Harmoni Sejak Dini”.

Sosialisasi ini ditujukan kepada siswa siswi SMA khususnya SMA Negeri 3 Pontianak karena pada usia-usia saat itulah manusia terutama remaja mudah terprovokasi sebab emosional dan cara berpikirnya yang masih labil. Adapun sosialisasi ini mengundang pemateri dari empat agama yang berbeda yaitu, Islam, Katolik, Budha dan Hindu.

Konflik biasanya terjadi akibat adanya gesekan-gesekan yang timbul dari perbedaan, seperti perbedaan dalam perspektif, perbedaan dalam beragama dan perbedaan dalam hal-hal lainnya yang pada masing-masing pihak tidak mau mendengarkan dan menerima penjelasan dari pihak sebelah, melainkan tetap berada pada sikap egonya sendiri. Seharusnya perbedaan ini tidak menimbulkan konflik.

Dalam penyampaian bapak Sunarto yang merupakan penganut agama Budha, beliau mengatakan “Bangsa kita adalah bangsa yang penuh dengan keberagaman. Ada sekian banyak suku, ras dan agama yang berbeda. Namun bangsa ini tetap bisa bersatu, tidak seperti bangsa lainnya. Apabila kita bisa bersatu dalam perbedaan, maka kita bisa hidup harmonis”.

Selain itu munculnya sebuah konflik dapat bermula dari sebuah prasangka dan stigma terhadap suatu pihak, yaitu mengenai hal-hal yang kita pikirkan yang belum diklarifikasi dan cenderung bersifat negatif. Kak Isa Oktaviani, seorang penganut agama Katolik mengatakan “Prasangka, stigma dan stereotip negatif adalah hal yang dapat menjadi seseorang menjadi anti sosial”.

Memang benar hal-hal seperti itu membuat kita menjadi manusia anti sosial karena secara tidak sadar telah men-judge suatu pihak atau kelompok tertentu tanpa kita ketahui dulu keadaan yang sebenarnya, hingga dengan demikian membuat kita lebih memilih untuk menghindar dari dari pada menghadapinya.

Lantas bagaimana cara kita menyelesaikan sebuah konflik yang sudah terlanjur terjadi? Dalam Q.S Asy-Syura ayat 40 yang memiliki arti: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. Dan pada Q.S An-Nahl ayat 126 yang artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar”.

Untuk hal ini bang Faiz Badruddin yang merupakan penganut agama Islam menyampaikan “Di dalam Islam dalam menghadapi dan menyelesaikan sebuah konflik kami diajarkan untuk saling memaafkan. Dan saling memaafkan itulah merupakan cara terbaik untuk meredakan sebuah konflik”

Mari sama-sama kita menjaga persatuan dan kesatuan dalam bangsa ini, karena “Indonesia bukan tentang Islam, Kristen, Hindu, Budha, Madura, atau Melayu. Indonesia itu beragam. Tanpa dia tidak ada aku. Tanpa aku tidak ada dia. Indonesia itu aku, kamu dan kita” ujar Isa Oktaviani. Selain itu bapak Putu Dupa Bandem dari agama Hindu juga menyampaikan “Kita tidak pernah meminta kita lahir dimana, dan mau memeluk agama apa, karena sudah ditakdirkan oleh tuhan. Makhluk ciptaan Tuhan adalah bersaudara. Kalau kebersamaan bisa dijaga, maka harmoni bisa diwujudkan”. Semoga kita semua bisa menjaga keharmonisan NKRI. Sebab kita adalah ndonesia dan Pancasila adalah dasar negara kita.

Pontianak, 27 September 2019

Bagikan:

OPINI

SOSIAL

Komentar:

0 comments: