Hari Raya Kabut

Bagikan:
Terhitung telah beberapa tahun ini masyarakat di pulau kalimantan, sumatera dan wilayah riau telah merayakan hari raya kabut, yang saban hari menyiksa mata, sedangkan pemerintah dan perlement hanya bisa duduk tanpa celana memandang tanpa mata, membaca tanpa kesigapan, dan merasa tanpa iba. Peristiwa kabut asap telah menjadi makanan setiap tahun bagi masyarakatnya. Sedangkan korporat ongkang-ongkang kaki diselimuti uang yang menjelma permadani.

Oleh: Muhardi Juliansyah

Pak, tak terasa ya, hari raya kabut sudah tiba
Mata kami pak, mata kami memerah
Sedangkan paru-paru sudah kami ganti menjadi ingsang dan trakea
Senang bukan pak? Dibayar mahal oleh penguasa hanya untuk mematikan ikan dan belalang dengan perlahan.

Sudah kami siapkan hidangan, air payau dan minyak dari kelapa untuk dimandikan pada nisan sendiri
Kami takmampu pak, takmampu membayar mahal
Sedangkan saku celana bapak amat tebal untuk kami tumpuk dengan uang

Enak ya pak, tinggal di gedung mewah dan sejuk
Air ada manis-manisnya
Sedang air kami ada payau-payaunya

Pak, bahagia bukan bersahabat dengan orang berkantong tebal
Tapi kami dengan ikhlas bersahabat dengan kabut pekat yang setiap saat mengincar kegelapan.

Pak, selamat hari raya kabut
Kami segenap rakyat yang dikelilingi pengap mengucapkan "bapak kapan taubat’’
Sedangkan anak-anak kami saban hari berobat.
Dari rakyat yang begitu mencintai konglomerat.
Bagikan:

PUISI

SASTRA

Komentar:

1 comments: