Perempuan Bukan Pemuas Nafsu

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh : MUHAMMAD HOTIP

JURNALISTIWA.CO.ID - Perempuan adalah manusia yang berjenis kelamin betina. Berbeda dari wanita, wanita adalah sebutan yang digunakan untuk manusia yang berjenis kelamin atau bergender perempuan. Wanita adalah panggilan umum yang digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa, sedangkan perempuan dapat merujuk pada orang yang telah dewasa maupun yang masih anak-anak. 

Ketika berbicara perempuan, tidak lepas dari yang namanya seks atau hanya sebagai alat pemuas nafsu dari laki-laki hidung belang. Memang tidak semua laki-laki behidung belang tetapi sebagian besar mereka hanya melihat perempuan sebagai alat pemuas nafsu saja. 

Ketika berbicara mengenai pernikahan ataupun perkawinan, pasti yang terbenak hanyalah malam pertama, kedua ketiga, apakah itu merupakan ibadah menurut agamanya atau hanya syahwat yang berselimut agama. 

Menurut Badan Pusat statistic penduduk Indonesia pada tahun 2018 ada 265 Juta Jiwa, laki-laki 139 Juta Jiwa dan Perempuan 137 juta jiwa (Dkatadata.co.id). Dengan jumlah perempuan sebanyak itu tentu tidak bakalan habis kaum perempuan, bahkan menurut BPS angka perempuan bakalan terus naik dari tahun ketahun melebihi jumlah laki-laki di Indonesia. 

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional sebagai bentuk solidaritas internasional agar perempuan di seluruh dunia terbebas dari diskriminasi dan kekerasan. Apakah dengan adanya hari perempuan internasional tersebut kasus-kasus mengenai diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan bakalan berkurang dengan signifikan. 

Setiap manusia memang mempunyai hak dan kewajibannya sebagai warga Negara Indonesia, hanya saja Negara belum bisa memenuhi kebutuhan warga negaranya dengan memberikan keadilan yang setara dengan seluruh rakyat Indonesia tanpa harus memandang jenis kelamin.

Seiring berjalannya waktu, 2017-2019 saya melakukan observasi abal-abalan mengenai kasus-kasus perempuan , mengenai diskriminasi, kekerasan, seksual, pelecehan, jual beli perempuan, di kota Pontianak dan media social. Dengan beragam tempat yang saya datangi, seperti hotel, warkop remang-remang, tempat karoke, clabing, kos-kosan, kontrakan, sedangkan di media social seperti fb, instagram, dan beberapa messenger yang berada di hp android, dan bahkan di media-media berita online. 

Saya tidak bisa memprediksi berapa jumlah atau angkanya hanya saja kalau di pesrsenin keseluruhan 59 sekian persen. Perkiraan angka tersebut menurut saya sangat idela untuk digunakan sebagai prediksi. Karena apa yang saya lihat dilapangan perempuan hanya sebagai alat pemuas nafsu para lelaki. kalaupun jika ada seorang perempuan yang menjual tubuhnya kepada laki-laki hidung belang, dengan alasan butuh uang atau kebutuhan ekonomi, tentu laki-laki tersebut harus berfikir jernih dengan memberikan pekerjaan yang lebih layak atau pu hal yang lainnya tanpa harus memakai tubuh perempuan tersebut.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan informasi dari kompas.com, mengenai pelecehan seksual terhadap seorang murid yang dilakukan oleh gurunya, pelecehan seksual anak yang dilakukan ayahnya dan beberapa berita yang juga tidak jauh berbeda dengan judul tulisan ini. Ntah, apa yang terbenak di dalam fikiran-fikiran laki-laki tersebut sehingga mereka malkukan tindakan tidak terpuji tersebut. Apakah sebegitu buruknya prilaku seorang laki-laki dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji di depan Tuhannya?

Bukannya masyoritas rakyat Indonesia ber-agama atau mereka hanya memakai agama sebagai selimut supaya tidak dingin. Saya tidak menjastifikasi kaum laki-laki dengan persepsi negative, tetapi pada faktanya realita dilapangan memang seperti itu. Manusia di ciptakan ke dunia memang berpasang-pasangan sesuai dengan ketentuan Tuhan yang telah menciptakannya. 

Laki-laki dan perempuan sama di hadapan Tuhan yang maha esa, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19). 

Jika memang seorang laki-laki merupakan seorang pemimpin, maka tentulah ia akan berbuat adil, bukan malah sebaliknya. Kasih sayang bukanlah sebuah alasan untuk memperlakukan perempuan denga tidak baik, melainkan kasih sayang seorang laki-laki adalah sebuah jubah pelindung bahkan jubah keadilan untuk memberikan sebuah kesejahtraan rohani dan jasmani atau jiwa dan batin mereka. Bahkan  Nabi Muhammad SAW bersabda اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا  “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729).

Jika engkau dilahirkan dari Rahim seorang perempuan (Ibu) maka cintailah yang melahirkanmu, jika kau mencintai perempuan (Ibu) yang melahirkanmu, maka cintailah seluruh saudari ibu-mu.
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: