Lihat Iklan

Siksa Dibayar Nyawa

Bagikan:
Ilustrasi by pxhere.com
Oleh: Sara Gricela

Kelabu dibalik langit biru. Pekat dibalik malam diufuk barat. Pernah tersentuh hingga akhirnya runtuh. Tawa? Binasa. Lara? Terasa. Bagai pemburu haus darah yang mencabut jantung serta mengoyak raga. Awalnya tidak seanarkis yang kukira, hanya saja pada akhir cerita semua mengulang kisah yang sama.

Ini rumahku. Hampa, sepi tak terkira. Namun, aku harus terus bertahan tinggal bersama ayah meski sebenarnya aku juga tersiksa. Hanya berdua tetapi sering sekali terluka. Aku Rasya, anak malang yang kemana-mana membanting tulang. Ibuku telah meninggal ketika usiaku menginjak 20 tahun. Ia mati dalam keadaan sabar. Sabar terhadap ayah yang hingga sekarang tak kunjung sadar. Hingga sekarang aku juga merasakan sabar yang dirasa dan ditanam oleh ibuku. Padahal ini semua adalah rasa pedih tak bersua. Disini, di rumah ini, atau yang lebih pantas kusebut di neraka ini, aku hidup sebagai wanita biasa bersama ayah yang tak kuinginkan ada di dunia ini sebenarnya. Penuh gaya namun tak punya cinta. Penuh siksa hingga ku dewasa. Aku selalu diperlakukan layaknya pembantu rumah tangga, dan juga pencari harta untuk dirinya.

Setiap pagi ku selalu melihat dari luar jendela banyak gadis seusiaku yang bisa bebas kemana saja. Dulu ketika ibu masih ada aku bisa merasakan hal yang sama seperti mereka. Memang, dari dulu ayah selalu sama. Tidak bekerja dan hanya tau meminta-minta. Dulu dengan ibu aku selalu merasa bahagia meski aku juga merasakan sakit di dalam raga. Tetapi semua begitu sangat berbeda setelah ibu tiada. Ayah semakin bertingkah gila dan hanya bisa menyiksa. Pernah suatu waktu aku berpikir untuk pergi meninggalkan ayah sendiri di rumah. Membiarkan ia mati dalam keadaan sendiri. Tidak ingin lagi perduli. Tetapi tiap kali aku berniat, ku selalu teringat akan pesan ibu sebelum menutup mata. Saat paling menyakitkan adalah ketika ibu tiada, ayah hanya pergi keluar bersama teman-temannya. Rasanya hati ingin dendam, tetapi tak bisa. Karena jika ia tiada di dunia, maka aku pun takkan ada.

Aku bekerja, semua kujadikan ladang mencari rupiah. Aku pembantu rumah tangga dimana saja. Di rumah sendiri bersama ayah, di rumah tetangga dari rumah pertama hingga rumah di ujung sana. Tiap kali aku selesai bekerja, tiap kali pula ayah selalu meminta uang yang kudapatkan dari pagi hingga senja. Ingin rasanya ku lawan derita, dan itu pula yang tak ingin kuulang. Aku tidak ingin trauma tuk kesekian kali. Aku tak ingin kepala ini pecah lagi. Dan aku juga tak ingin semua pakaian dilepas lagi.

Desa ini, rumah ini, neraka abadi. Kering tubuh ini karena ambisi tuk selalu berbakti meski seringkali tersakiti hingga pernah sesekali begitu tak dihormati. Kala itu, saat aku sedang membersihkan rumah, ayah datang bersama seorang pria tua pemilik perusahaan terbesar di desa. Berwibawa, kaya, dan melihatku bagai mangsa. Tak kuhiraukan kedatangannya, dan mereka berdua duduk di sofa. Sekitar puluhan juta ia keluarkan, kemudian diberikan kepada ayah begitu saja. Awalnya aku tidak memperdulikan itu untuk apa, hanya saja kayu tebal telah siap di tangan kananku untuk berjaga-jaga. Setelah penerimaan uang itu, ayah pergi keluar rumah menikmati uang puluhan juta. Dan tanpa kuduga, ternyata nafsu pria tua itu begitu kuatnya. Ia langsung menghampiriku dan memegang kayu yang telah ku persiapkan untuk berjaga-jaga. Setelah ia mendapatkan kayu itu, ia langsung mengarahkannya tepat di bagian kaki agar aku tidak bisa berlari. Kemudian beberapa kali ia mencoba menyiksa hingga memukulku dengan kerasnya tepat di bagian wajahku.

Tetesan darah keluar dengan begitu derasnya. Ia goreskan ujung kayu tepat di bagian kaki kiriku. Terjatuh aku tanpa daya, ia mencoba untuk memuaskan hasratnya. Tetapi aku tidak menyerah begitu saja. Ku genggam dengan erat gagang pintu tuk membantuku berdiri, dan ku tendang tepat dibagian kepalanya dengan kaki kanan yang masih bisa. Kemudian ku injak perutnya hingga ia tak berdaya, dan dengan secepat kilat aku keluar meminta pertolongan pada siapa yang ada. Hanya saja tidak ada tetangga yang berani melawannya. Satpam? Polisi? Dimana? Mereka sangat jauh diluar sana. Tak bisa kuharapkan mereka semua. Ayah? Kemana ia? Dendam seketika menguasai jiwa.

Tertatih tatih ku berlari. Hingga akhirnya aku berada di jalan raya dengan jejak darah dimana-mana. Ditarik. Dan ditutup mulut ini dengan tangan seseorang yang entah siapa. Dipaksa aku naik ke atas motornya. Ku ingin menolak, tetapi ku juga ingin menerima. Di pegang erat tanganku agar tak melarikan diri, dan melaju ia membawaku pergi. Desa kian tenggelam oleh malam. Entah sudah berapa jauh ia membawaku. Pandangan seketika buram hingga akhirnya aku memaksa ia berhenti. Dan ketika itu pula aku langsung jatuh pingsan di daerah entah dimana bersamanya.

Tersadar aku, kubuka kedua mata. Ruangan hijau dengan hiasan polos nan indah. Hitam. Kelam. Itulah pandanganku saat ini. tak sempat bertanya dimana aku berada sekarang, salah seorang pria langsung memberi segelas air putih dengan menjelaskan mengapa aku ada disini. Luka, darah, telah terhenti. Perban telah menyelimuti. Berkat pria yang membawaku pergi hingga kesini. “Arfian”. Ia mengulurkan tangannya kearahku. “Rasya”, jawabku. Ia menanyakan kepadaku apa yang terjadi hingga semua tubuh ini dilukai. Ku hanya terdiam tanpa kata, karena itu semua tak perlu tuk diketahui dunia. Singkat cerita, ia menawarkanku untuk bekerja dengannya. Aku menolak. Ia memaksa. Tetap kumenolak. Dan ia semakin memaksa dengan sopannya. Lalu aku pun menerima dengan sedikit terpaksa.

Ia adalah Arfian. Pria berusia 25 tahun, tiga tahun lebih tua dariku. Ia adalah seorang guru bahasa Indonesia. Di kota yang sekarang aku berada. Jauh dari desa yang layaknya neraka. Rumah nuansa hijau sederhana yang ia tempati sendiri karena kedua orang tuanya telah tiada dan ia belum memiliki belahan jiwa. Ia lelaki yang baik dan juga berkharisma. Bukan aku langsung percaya, akan tetapi itu semua terpancar dari wajah dan nada bicaranya. Ia menyuruhku untuk tinggal degannya. Lalu, apa kami akan tinggal berdua di satu rumah? Tidak. Ia masih memiliki satu kontrakan tepat disamping rumahnya dan ia meminta aku untuk menempatinya.

Tiga hari kemudian saat pagi hari kala burung sedang bernyanyi, ia menyuruhku bergegas bersiap-siap. Telah ia persiapkan pakaian untukku dari mendiang adik perempuan dan ibunya. Aku bertanya mau dibawa kemana, ia hanya diam saja. Entah mengapa rasanya aku percaya sekali dengannya. Lalu kami pergi dengan mengendarai sebuah sepeda motor milik Arfian dan tiba di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Ia membawaku ke salah satu kantin disana, dan entah bagaimana ceritanya aku langsung diperkerjakan oleh salah satu ibu-ibu penjual di kantin itu. ternyata ia adalah teman baik Arfian, lelaki yang telah membantuku. Ibu Endang namanya, gemuk, tinggi, dan juga cantik parasnya. Ia begitu periang dan menerimaku dengan begitu saja. Tak perlu waktu lama, aku sangat cepat akrab dengannya. Ia adalah seorang janda yang memiliki anak dua. Kedua anaknya bersekolah di sekolah yang sekarang aku berada. Pian memintaku untuk menunggunya hingga ia pulang dan aku tidak boleh kemana-mana.

Tiga bulan telah berlalu, cerita yang dulu kelabu tak lagi menjadi satu. Aku telah menikmati pekerjaanku dan duniaku saat ini hingga aku lupa dengan ayah yang sedang apa saat ini. Arfian selalu menghibur dan menemaniku. Banyak hutang budiku padanya. Karenanya aku dapat menikmati dunia meski baru sebentar saja. Aku rindu ibu, dan aku juga rindu pada ayah. Aku ingin berziarah dan aku ingin memberikan uang kepada ayah. Aku tidak pernah berbagi cerita kepada Arfian karena aku tidak ingin membebaninya.

Waktu itu, saat sore tiba, aku pergi ke sebuah pasar untuk membeli bahan makanan. Meski rumahku dan rumah Arfian sedikit terpisah, tetapi aku selalu menyiapkan sarapan dan makan malam untuknya meski hanya memberi tanpa masuk ke dalam sana. Seringkali ia menolak karena tak ingin uangku habis hanya untuknya. Tetapi seringkali pula aku selalu membuatkannya karena aku berhutang budi padanya. Sore itu, tanpa sengaja aku menabrak seorang pria tua. Ku lihat wajahnya dan ternyata ia adalah pria tua yang mencoba untuk menodaiku dan telah membeliku melewati ayahku yang buta karena harta. Tanpa pikir panjang aku langsung mendorongnya dan melarikan diri, ia beserta anak buahnya tidak menyerah untuk mengejarku. Ku keluarkan handphone dari tasku. Terjatuh dan terhempas aku oleh jalanan licin. Handphoneku? Telah hancur diinjak oleh pria tua itu.

Lalu ia menelfon seseorang dan mengatakan bahwa ia telah menemukanku. Siapa yang ditelfon olehnya? Apakah pria lain lagi? Atau ayah?. Benar saja, tak lama, ayahku datang dengan wajah yang begitu merah padam. Tiap helai rambutku ditarik olehnya hingga ku tak bisa berbuat apa-apa. Tubuh ini ikut terseret hingga penuh luka. Dipukul dengan menggunakan kayu ayah dan anak buah pria tua itu. Arfian datang dengan saat yang sangat tepat. Setelah ia memukul mereka ia mencoba menarikku tetapi aku sendiri tak kuasa tuk meninggalkan ayahku. Meski ia begitu jahat dan kejam, tetapi ia tetaplah ayahku. Ku bantu ayah untuk bangun, dan tanpa disangka, pria tua itu memukul Arfian tepat dibagian pundaknya. Pian terjatuh begitu saja, jika aku melawan maka pria tua itu bisa saja bertingkah gila atau bahkan menghabisi Arfian.

Ayah yang kubantu tadi juga kembali bangkit dan memukul. Ia tidak memukul Arfian, melainkan ia memukulku tepat di bagian dahiku menggunakan kayu. Ia dan pria tua itu telah lama mencariku karena merasa dendam atas kejadian waktu itu. Aku yang tak lagi berdaya, hanya bisa terbaring di jalan raya. Tak lama kemudian, beberapa warga datang dengan membawa tiga orang polisi yang siap untuk menangkap mereka. Tak habis akal, mereka memukul salah satu polisi dengan kayu yang mereka pegang lalu mereka lari dengan secepat kilat. Tidak ada pilihan lain, akhirnya salah satu polisi menembakkan peluru tepat ke belakang perut ayah dan ke kaki pria tua itu. Sedangkan anak buah dari pria renta telah diamankan oleh warga yang telah murka.

Begitu sakit hati ini menyaksikan ayah yang tertembak mati oleh polisi. Tanpa memperdulikan diri, dan dengan berlumurah darah di dahi, aku berlari kecil menuju ke arah ayahku yang telah tak sadarkan diri. Matanya telah terpejam, denyut nadi telah berhenti, dan nyawa telah tiada lagi. Nangis dengan begitu histeris aku menyaksikan kematian ayah yang tidak berbeda jauh dengan kematian ibuku. Bahkan untuk meminta maaf saja tidak ada lagi waktu. Ayah telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Semua warga serta pihak kepolisian dan Arfian hanya bisa menyaksikan dengan derai air mata. Salah satu pihak kepolisian meminta maaf kepadaku. Aku tidak membencinya, bahkan aku berterima kasih karena ia telah datang disaat yang tepat tuk menjalankan tugasnya.

Arfian? Mengapa aku lupa dengan Arfian?. Ku serahkan mayat ayahku kepada pihak kepolisian yang sedang menghubungi ambulance. Ku hampiri Arfian yang terluka oleh pria tua. Aku yang sudah berlumuran darah seakan menahan semua derita demi menolong Arfian yang merelakan nyawanya. Bukan aku yang membantunya, malah ia yang menguatkan dirinya untuk menggendongku hingga memasukkanku pula ke dalam mobil ambulance kedua. Hitam pandanganku saat itu, hingga akhirnya aku pun memejamkan mata. Tak lama, aku tersadar dan dengan kepala yang sudah diperban. Bukan dokter yang aku cari, melainkan Arfian. Ia tak ada ketika aku membuka mata. Ku kuatkan diri untuk berdiri menuju keluar, dan ternyata Arfian ada di balik pintu. Ia lalu menyuruhku untuk baring kembali. Ia keluar untuk membelikanku makanan karena ia tahu, makanan di rumah sakit tidak akan ada rasanya untukku.

Mati, berhenti. Penyiksaan telah berakhir. Dan Ayah yang selalu menyiksaku kini telah mati. Cerita ini telah usai dan takkan ada lagi air mata yang berderai.

Bagikan:

CERPEN

SASTRA

Komentar:

0 comments:

close