Review Film Secret Superstar: Perempuan, Impian, dan Kehidupan

Bagikan:
Net

"Impianmu yang membuat hidupmu bernilai"

Ketika selesai nonton film ini, sekilas terlihat tulisan "For Mother and Motherhood" di credit title, dan barulah saya menyadari bahwa film ini memang menyimpan pesan kuat terhadap keteguhan seorang ibu. Film ini dipersembahkan itu ibu.

Jika kalian ingin melihat bagaimana supernya seorang ibu, lihatlah film ini. Bilamana kalian ingin mencari alasan untuk memeluk ibu dengan penuh cinta, lihat sang tokoh ibu dalam film ini. Atau barangkali kalian hanya perlu pengaduk emosi pemicu tangisan, segeralah tonton.

Sebelumnya, ketika nonton saya hanya fokus kepada sang tokoh utama, Insia (Zaira), gigih dan keras kepala mewujudkan mimpinya, ingin menjadi penyayi.

Insia terlahir di keluarga dengan seorang ayah yang masih konservatif memandang wanita. Baginya wanita tidak pantas berprofesi menjadi penyayi, karena nanti toh akan menjadi istri, Dan menurut pengalamannya wanita disekolahkan supaya menjadi pintar, agar bisa mengangkat derajat suaminya dan tidak memalukan bagi suami.

Jadilah penghalang Insia menjadi penyayi itu menjadi konflik dalam film ini. Insia punya bakat menyanyi, menciptakan lagu, dan bergitar. Tapi ia terlahir dalam kondisi keluarga yang seperti itu.

Pada berbagai sisi, dunia ini memang tidak adil. Tapi bagi Insia, pantang untuk menyerah begitu saja. Berbagai cara ia lakukan untuk mengatasi itu. Dan ia punya ibu yang mendukung impiannya itu, walau tetap ia tidak bisa apa-apa di hadapan suaminya.

"Kau bisa minta apa saja dengan Ibu, apa saja, tapi dari apa yang ibu bisa berikan, bukan dari Kehidupan"

Yang paling saya suka dalam film ini adalah Karakter Najma (Meher Vij), ibunya Insia ini. Karakter dibuat berkembang dan kita dibuat merasa mengikuti perkembangan itu. Dari seorang istri dan ibu yang polos, penakut, naif, ragu-ragu, kemudian menjadi pemberani dan akhirnya menjadi pahlawan sebenarnya dalam film ini.

Najma hanyalah seorang wanita yang apa mau dikata belum sempat mengecap pendidikan formal karena langsung dinikahkan dengan seorang suami yang memandang seorang istri hanya seorang pelengkap dalam rumah tangga.

Tapi dari keterbatasannya itu, ia berjuang memberikan segalanya untuk memenuhi kebahagiaan keluarganya, terutama impian Insia.

"Kau tahu kenapa kita selalu bangun di pagi hari usai tidur dan bermimpi? Karena kehidupan itu sendiri telah mengajari kita bahwa kita harus meraih dan mewujudkan impian itu setelah kita menetapkannya"

Menarik sekaligus mengharukan bagaimana Insia dan Ibunya ini memperjuangkan Impian itu.  Kalian harus nonton sendiri aksi-aksi itu.

Dari bapaknya  Insia (Raj) kalian melihat fenomena bagaimana rendahnya perempuan dipandang dalam sebuah tatanan keluarga. Dan barangkali ini masih banyak terjadi di sekitar kita.

Net
Yang menjadi kekurangan dalam film ini menurut saya adalah lagu-lagunya saja yang kurang ngena. Lagunya akan berasa hanya jika kita memang benar-benar nonton dan menghayati filmnya.

Juga satu lagi, di sini sebenarnya ada tokoh yang diperankan oleh Aamir Khan. Tapi ia hanya menjadi tokoh pendukung di sini, dapat porsi sebagai penolong Insia saja, itupun terkesan dipaksakan. Jika kalian merindukan tokoh yang diperankan Aamir Khan seperti di film-film sebelumnya, kalian tidak akan mendapatinya di sini. Karena karakter yang dimainkannya berbeda sekali, kalian akan terkejut melihatnya.

Tapi  juga seperti biasanya film yang di mana Aamir Khan terlibat di dalamnya, pastilah menggugah rasa, memotivasi, sekaligus juga mengandung kritik namun dipoles dengan halus. Kita merasa tersengat sekaligus juga merasa sadar bahwa itu sedang terjadi. Dan harus lanjut melihat fonemena itu dan mengambil hikmah darinya.

"Ibuku terus berjuang melanjutkan kisahku, memberi warna, kebahagiaan dan sebagainya. Di saat ayahku dan dengan segala ketidakadilan hidup terhadap perempuan ingin menamatkan kisah itu. Maka siapakah superstar sebeneranya? aku dengan segala anugerah yang kumiliki, atau ibuku yang telah memberikan anugerah itu?"


Bagikan:

INTERNASIONAL

REVIEW

SASTRA

Komentar:

2 comments:

close