Review Film Half Girlfriend: Ikatan Setengah, Budaya Lokal Dipandang Sebelah Mata, dan Kemerdekaan Perempuan yang Belum Terpenuhi

Bagikan:


"Cinta ya cinta, tapi karena pelaku cinta adalah manusia, maka cinta tidak pernah sederhana"
Cinta tidak pernah sesederhana yang dilihat dan dilogika. Ia tak pernah punya peristiwa pasti seperti halnya rumus matematika satu ditambah satu sama dengan dua.

kalau kita melihat kisah cinta seseorang, seharusnya itu terdengar mudah. Mungkin cinta itu sesimpel saling suka, lalu saling menyatakan cinta, lantas saling memiliki. Kelar, selesai urusan. Tapi dalam semesta kehidupan manusia ini, cinta tidak pernah semudah itu.

Bagi yang merasakan, cinta itu begitu rumit untuk didefinisikan. Karena itu ia tidak akan mulus-mulus saja dalam perjalanannya. Ia nyata, namun seperti kata para pujangga, ia tidak pernah bisa terlukis oleh kanvas pelukis manapun. Kita tidak pernah tahu pasti cinta, perasaan mencinta itu seperti apa bentuk nyatanya.

Menurut saya, seperti itulah premis awal kisah cinta dalam film ini. Madhav Jha (Arjun), seorang pria dari desa bernama Simrao mulai mendaftarkan diri di kampus ternama, bertaraf internasional di New Delhi. Hampir putus asa untuk melanjutkan, karena gegar budaya yang ia rasakan. Terutama di persoalan adaptasi kehidupan berbahasa Inggris di kampus tersebut.

Saat ia sudah menelpon ibunya, berniat untuk pulang saja, tetiba ia melihat seseorang yang akan membuat hidupnya tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumya.

Seperti kebiasan khas film romansa India remaja, pertemuan pertama ini memberikan efek yang tak terlupakan bagi Madhav Ia melihat seseorang yang memperkuat alasannya untuk melanjutkan perkuliahan. Ria Solani (Shradda). Madhav menenulusuri segala cara untuk dekat dengan Riya. Dan Ria pun memberikan sinyal penerimaan.

Sampai di sini kita kira ini sudah selesai tinggal pendekatan dan hari pengungkapan saja .

Tapi tentu saja tidak seperti itu. Kerumitan bermula dari ketidaksamaan mereka mendefinisikan cinta dan keputusan hidup bersama. Bagi Madhav cinta itu sudah cukup dari pandangan pertama. Tapi bagi Riya, cinta itu justru harus melewati proses.

Ketidaksepamahan itu makin meruncing ketika Madhav makin tidak sabaran ingin mendapat kepastian, sampai melakukan hal-hal yang gegabah dan naif yang justu membuat Ria semakin tidak nyaman.

"Ku tahu kenyataan dari perasaan ini akan menikamku. Tapi aku akan terus berada di depan pintu hatimu. Karena ibuku pernah berkata, jangan menyerah, jangan pernah kalah"

Tapi mereka tahu padahal mereka saling menyukai. Tapi ada rumit dalam diri Ria yang tidak bisa membawa hubungan ini naik level ke hubungan cinta yang sebenarnya.Sehingga terciptalah hubungan aneh tersebut. Kau sudah mendapatkan setengah hatiku, akupun sebenarnya merasakan hidup yang luar biasa ketika bersamamu. Maka marilah kita jalani saja dulu, anggap saja kita adalah Half Girlfriend, setengah pacar. Ria mencetuskan.

Dalam film ini saya menemukan tentang seseorang dan lingkungan yang begitu naif, bahkan terkesan bodoh dalam pendifinisian pembuktian cinta. Seperti halnya seseorang yang dibutakan oleh asmara, Madhav mengikuti saran-saran teman-temannya tentang bukti apakah Riya benar-benar mencintainya atau tidak. Mulai dari harus  jalan kencan, mau diajak nonton, bahkan mengajak berciuman dan melakukan suatu hal di dalam kamar. Tentu saja ini membuat Riya meninggalkannya.

Itulah kegagalan pertama Madhav. Dan film pun dipercepat tiga tahun kemudian.

"Entah itu sedetik, sehari, maupun setahun, ketika Ria bersamaku, maka aku telah menjalani seluruh hidupku"
Sebegitulah jalannya filmnya ini selama sejam awal. Lalu sejam 10 menit berikutnya Madhav menyadari kenaifannya, tapi tidak menyembuhkan kekeras kepalaannya, ia  masih memperjuangkan cintanya. 

Saya memberikan  bintang tiga untuk pembangunan cerita cinta dalam film. Karena terlalu picisan, dan banyak hal yang terlalu simplistis bagi saya terhadap alasan-alasan mereka saling suka. Belum ada hal spesial, kecuali hubungan aneh, serba setengah tersebut.

Tapi saya acungi jempol untuk plot cerita yang mengungkungi kisah cinta itu. Kritik sosial dibangun.

Tujuan awal Madhav kuliah sebenarnya adalah ingin  mencari pengalaman supaya ilmu yang didapat bisa dibawa pulang ke kampung halamannnya. Ibunya mendirikan sekolah untuk anak-anak tidak mampu di kampungnya.

Ia tidak pernah menyukai bahasa Inggris, yang ini membuatnya kesulitan beradaptasi di kampus dan lingkungan sekitar New Delhi.

Kalau kita menegok sejarah memang India adalah bekas jajahan Inggris, bukan hanya jajahan fisik, hal ini juga menyisakan penjajahan budaya.

Hampir bisa didapati di semua negara berkembang, perasaaan inferior terhadap budaya, merasa kecil dengan budaya sendiri, merasa bangga dengan meniru bangsa besar ini biasa terasakan. Tidak terkecuali sebagian masyarakat India yang dipotret dalam film ini.

Bahasa Inggris dan kebudayaan Barat seakan menjadi penanda kelas sosial. Sistem yang dibangun nampaknya seperti itu. Semisal kebanggan berlebih terhadap orang yang bisa berbahasa Inggris, dan terkadang standar kepintaran seseorang akan diakui hanya dengan melihat kebisaan seseorang dalam berbahasa Inggris.

Hal inilah yang dikritik oleh film ini. Madhav Jha hampir tidak diterima di Universitas, hanya karena jelek dalam berbahasa Inggris, padahal di aspek lainnya Madhav membuat catatan hebat. Lalu untuk apa universita ini sir, mencetak mahasiswa yang hebat, bijak, dan berguna untuk masyarakat atau hanya mencoba meniru-niru bangsa-bangsa yang jauh di luar sana.

Kembali ke kisah Madhav dan Ria. Ihwal kebisaan berbahasa Inggris inilah yang membawa mereka bertemu kembali, lagi dan lagi. Karena setelah lulus, dalam pengabdiannya terhadap sekolah rintisan ibunya, Madhav diundang yayasan Bill Gates untuk tawaran bantuan. Ia harus membawakan pidato dihadapan Bill Gates, tentang sekolah yang mereka rintis dan kelayakan mereka dalam menerima bantuan.

Dan tentu saja, pidatonya harus berbahasa Inggris, dan Madhav belum juga bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Lalu apa hubungannya dengan Ria? Ria sejak kecil telah lancar berbahasa Inggris, karena ayahnya adalah orang Barat. Madhav membujuk Ria untuk mengajarinya. Dan Ria pun mau.

Bagi Madhav, ini adalah kesempatan untuk memupuk harapannya berikutnya. Mereka kembali berhubungan, walau dengan hubungan sebagai guru dan murid.

Tapi lagi-lagi ketika Madhav menuntut kepastian, Riya kembali pergi. Menerbitkan kegagalan selanjutnya bagi Madhav.

Dan ini membebani Madhav dalam kelancaran di hari berpidatonya.

"Aku telah mendengar banyak pidato dengan bahasa Inggris yang sangat bagus dan bijak. Tapi kau di sini membawakan pidato dengan bahasamu sendiri. Dan aku sangat tersentuh. Karena apa? karena kau membawakan pidatomu dengan hati. Dan hati tidak memiliki bahasa yang berbeda"

Sampai selesai film, saya mencari dan menerka apa muasal kerumitan perasaan Ria Solani ini. Tapi saya tidak dapat jawaban pasti. Hanya ada sekilas yang mungkin bisa dijadikan alasan. Ria punya kehidupan keluarga tidak kalah rumit. Ibunya sering disiksa ayahnya, ingin ditinggalkan ayahnya, tetapi ibunya yang justru berjuang terus mempertahankan pernikahan itu, karena apa? bukan karena anak, bukan karena Ria, tapi karena keyakinan ibunya, "bahwa seorang perempuan sangat pantang untuk bercerai"

Kepercayaan itu telah mengungkung secara turun temurun bagi sebagian perempuan di India, menurut film ini, dan mencoba dikritik di film ini.

Beberapa kali saya menonton film romansa Bollywood, memang kritik terhadap kerumitan perempuan dan cara hidupnya ini selalu ada.

Bayangkan keyakinan buta bahwa perempuan yang bercerai dianggap hina. Bahkan ketika selalu ada perceraian selalu perempuan yang disalahkan karena tidak bisa menjaga hubungan rumah tangga. Padahal boleh jadi, bagi perempuan, perceraian adalah salah satu jalan terbaik untuk kebaikan dirinya. Karena misalnya mendapat penyiksaan, tidak seperti kehidupan yang dijanjikan, dan sebagainya.

Dalam film ini, bahwa di kampung halaman Madhav, perempuan dilarang bersekolah hanya karena sekolah itu tidak memiliki toilet perempuan. Ini yang membuat Madhav memperjuangkan sekolah itu.

Akhir film, kisah cinta Madhav dan Ria tidak begitu memuaskan, karena tidak ada kesimpulan lebih banyak atas alasan kerumitan perasaan Ria, bahkan ada beberapa premis yang tidak masuk akal (silahkan nonton, dan temukan sendiri hehe) Tapi saya mendecak kagum pada hal-hal yang tidak terduga dalam tahapan-tahapan ending pertemuan mereka. Sungguh tidak tertebak. Akhir yang mengesankan

Terakhir, entah kenapa menurut saya feel romantis yang saya dapat justru dari lagu yang sering diperdengarkan ketika pada momen tertentu. Lagu itu enak sekali didengar dan mudah diingat.

Oh I Know That to Leave Has Come
Im Not Ready For This Moment to Be Done...
Stay a Little Longer With Me, Baby
Won't You Stay a Little Longer With me


Bagikan:

INTERNASIONAL

REVIEW

SASTRA

Komentar:

0 comments: