Review Buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” Karya Mark Manson

Bagikan:
Cover Depan Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat/Net
Oleh: Kiki Ramadani

Ini adalah buku ke empat yang saya selesaikan pada awal tahun ini. Pertama kali melihat judulnya yang sangat absurd membuat saya menyakini tidak akan bisa menyelesaikannya. 

Namun banyak teman yang merekomendasikan buku ini, akhirnya saya baca. Setelah membacanya barulah saya mengetahui maksud dari buku ini. Disaat tertimpa masalah, dipastikan jiwa dan raga menjadi plong.

Buku terjemahan karya dari Mark Manson ini akan membantu kamu berpikir sedikit lebih jelas untuk memilih mana yang penting dalam kehidupan dan mana yang sebaliknya.

Kamu tidak lagi menerima masalah dengan tenang dan menganggap bahwa itu adalah hal yang tidak menyenangkan dan memalukan, betul?

Kamu mulai merasa sepertinya ada sesuatu yang salah dengan dirimu, yang menggerakkan kamu ke semua jenis kompensasi yang fatal dan akhirnya berada lingkaran setan yang mulai mengambil alih peradabanmu.

Jadi, mari kita ulas hal yang menarik dari buku ini yang menekankan kata “Bodo Amat”.

Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh, masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda.

Kamu tidak akan bisa menjadi sosok yang penting dan mengubah hidup beberapa orang, tanpa menjadi bahan candaan dan tertawaan bagi orang lain terlebih dahulu. Tidak akan bisa. Tidak ada yang bisa menghindari kesulitan. 

Ada sebuah ungkapan, entah ke mana pun kamu pergi, disitulah dirimu. Hal yang sama juga berlaku untuk kesulitan dan kegagalan. Masa bodoh ke mana pun kamu pergi, akan ada 300 kilogram kesulitan yang menantimu. Intinya adalah menemukan hal sulit yang bisa kamu hadapi dan nikmati.

Untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada kesulitan, pertama-tama kamu harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Jika kamu menyadari kalau dirimu secara konsisten memberikan porsi perhatian yang terlalu berlebihan untuk hal sepele yang membuatmu gusar. 

Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupanmu, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenagamu. Karena jika kamu tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatianmu akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna dan sembrono.

Entah kamu sadari atau tidak, kamu selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan.

Orang-orang yang komentarnya sangat kamu risaukan sebelumnya, tidak lagi terhitung di dalam kehidupan. Penolakan-penolakan yang menyakitkan yang pernah kamu rasakan, telah memberi andil yang sangat baik. Kamu akan jadi tahu betapa kecilnya perhatian yang diberikan oleh orang lain pada detail-detail superfisialmu. 

Intinya, kamu akan menjadi semakin selektif terhadap perhatian yang rela kamu berikan. Inilah sesuatu yang disebut dengan kedewasaan. Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga.

Itulah tiga seni dari bersikap bodo amat. 

Sayangnya, bagi banyak orang, rasanya hidup tidak sesederhana itu. Hal itu dikarenakan mereka menghadapi masalah dengan paling tidak dengan melakukan penyangkalan maupun menjatuhkan mentalitas korban.

Jad, apa yang menentukan kesuksesan kita bukanlah “Apa yang ingin kita nikmati?” tapi “Rasa sakit apa yang ingin kita tahan?” Kita harus menentukan pilihan. Kita tidak mungkin memiliki hidup yang bebas dari rasa sakit. Siapa diri kita yang sebenarnya ditentukan oleh apa yang ingin kita perjuangkan.

Ini bukan tentang kekuatan kehendak atau omong kosong tentang keuletan. Ini juga bukan contoh nyata dari ungkapan “no pain, no gain”. Ini adalah komponen hidup kita yang paling sederhana dan mendasar : perjuangan kita menentukan kesuksesan kita. 

Permasalahan-permasalahan kita melahirkan kebahagiaan kita, seiring dengan masalah-masalah yang naik levelnya, menjadi semakin baik. Semua peningkatan dan pertumbuhan pribadi muncul berkat adanya sebuah kesadaran sederhana. Kesadaran itu adalah bahwasanya, kita secara pribadi bertanggung jawab atas segala hal dalam hidup kita.

Kita tidak bisa selalu mengambil kendali terhadap apa yang terjadi pada kita. Namun kita selalu bisa mengendalikan cara kita menafsirkan segala hal yang menimpa kita, dan cara kita merespon.

Begitulah kurang lebihnya isi dari buku ini. Buku ini akan menjadi rekomendasi dari saya untuk kamu yang sering kali pusing menghadapi masalah.

Satu kutipan yang di sampaikan Mark dalam bukunya, “Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, kamu harus bijaksana dalam menentukan kepedulianmu”.
Bagikan:

BUDAYA

PENDIDIKAN

REVIEW

Komentar:

0 comments:

close