Cari Disini



Proposal Penelitian: Menulis Rencana Kerja, Bukan Berteori (2)

Bagikan:
Ilustrasi/Net

Oleh: Ibrahim (ab_irhamiy)

Sebagai dosen, saya seringkali didatangi oleh mahasiswa yang ingin konsultasi mengenai rencana penelitian. Apalagi sebagai dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian. Mereka selalunya menyebut konsultasi judul. Karena memang yang seringkali mahasiswa  ajukan adalah judul (tepatnya rencana judul)- meski saya tidak begitu sepakat dengan sebutan itu. Tapi, ya sudahlah.

Saya, sebagaimana umumnya dosen, bahkan  penguji (ketika ujian) pasti akan bertanya; apa yang akan anda kaji dengan judul tersebut. Apa  masalah dengan judul penelitian yang anda usulkan?

Satu pertanyaan dasar (dari beberapa pertanyaan dasar lainnya), yang seringkali membuat mahasiswa tanpak bingung dan sulit menjawabnya dengan baik. Padahal itu substansi. 

Ketidakmampuan menjawab pertanyaan dasar itu dengan baik menunjukkan lemahnya sebuah rencana penelitian. Bahkan itu layak untuk menjadi dasar dalam menentukan lulus tidaknya sebuah rencana penelitian.

Karena tidak mungkin sebuah rencana penelitian akan bisa dilaksanakan jika pertanyaan dasar tadi tidak bisa dijawab dengan baik dan jelas oleh seorang peneliti. Karena jawaban atas pertanyaan dasar itulah yang mestinya mendasari sebuah proposal penelitian yang baik.

Sebagai sebuah rencana kerja, proposal penelitian mestinya memuat langkah kerja dan tahapan yang akan dilalui dalam proses penelitian. Karena itu sangat tidak pantas jika ada bagian dari proposal yang ditulis sendiri tapi tidak difahami dengan baik dan jelas oleh peneliti.

Sebagai sebuah rencana kerja, proposal ditulis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan penelitian. Dengan kata lain, proposal yang baik mesti bisa memberikan arah atau pedoman bagi peneliti dalam melakukan kerja-kerja penelitian di lapangan.

Artinya, dengan berpedoman pada proposal, seorang peneliti tidaklah bekerja seperti halnya orang buta, meraba dan tanpa arah yang jelas. Dengan proposal peneliti sudah punya arah untuk bekerja (meneliti). 

Pesan orang bijak, tuliskan rencana kerja yang akan anda lakukan, dan kerjakan setiap rencana yang telah dibuat dalam proposal. Sebaliknya, jangan mengerjakan sesuatu yang tidak masuk dalam rencana kerja anda (tidak ada dalam proposal).

Sebagai sebuah rencana kerja, proposal penelitian memuat beberapa pertanyaan penelitian yang peneliti buat sendiri, baik pertanyaan utama (mayor research question) maupun pertanyaan spesifik (minor research question). Pertanyaan-pertanyaan inilah selanjutnya yang akan memandu peneliti untuk mencari data di lapangan, menemukan argumentasi faktual (analisis), dan untuk selanjutnya menghasilkan kesimpulan sebagai jawaban akhir (hasil) dari penelitian yang dilakukan.

Artinya, proposal bukan saja menjadi pedoman kerja dalam melakukan penelitian, akan tetapi menjadi acuan atau standar  untuk menentukan sebuah penelitian itu benar-benar sudah selesai atau belum. Bahkan standar bagi penilai untuk menguji kekuatan ilmiah sebuah penelitian.

Sebagai sebuah rencana kerja, kita juga tidak membuat rencana kerja sesuka hati (tanpa acuan). Proposal mesti ditulis dalam format dan sistematika yang baik, sebagaimana ditentukan dalam pedoman penulisan (pedoman penulisan skripsi untuk mahasiswa). Karena itu ikuti dan patuhi acuan atau pedoman tersebut. 

Mematuhi ketentuan penulisan yang sesuai dengan pedoman adalah mutlak penting. Karena kesempurnaan sebuah proposal itu sangat bergantung pada kesesuaian nya dengan ketentuan pedoman. Karena itu saya meng-istilahkan pedoman penulisan sebagai "kitab sucinya" dalam menulis (baik menulis proposal, maupun menulis laporan penelitian). 

Karena itu pastikan pedoman penulisan menjadi acuan standar dalam menulis proposal penelitian, apalagi terkait dengan penulisan proposal skripsi. Persoalan nya, banyak mahasiswa menulis proposal (bahkan laporan skripsi) tidak berpedoman pada buku panduan penulisan yang ada.

Padahal setiap kampus, atau institusi yang mewajibkan atau meminta penelitian selalunya menyiapkan pedoman penulisannya. Karena itu pastikan pedoman tersebut diikuti dan dipatuhi.

Sebagai sebuah rencana kerja, proposal penelitian yang baik mesti memuat substansi dari aspek 5 W + 1 H (what, why, when, where, to whom, dan How). Substansi dari rencana kerja yang akan dilakukan dalam aspek 5 W + 1 H, bukan teori belaka.

Bagaimana menulis aspek 5 W + 1 H dalam proposal penelitian, sila ikuti tulisan berikut nya...

*Villa Damai3_Kotabaru_ ba'da Isya, 09/01/19

Bagikan:

OPINI

TIPS

Komentar:

0 comments: