Cari Disini



Proposal Penelitian: Menulis Rencana Kerja, Bukan Berteori (1)

Bagikan:
Ilustrasi/Net

Sejak seminggu belakangan ini saya bergelut dengan rencana penelitian para mahasiswa, khususnya peserta kelas metodologi penelitian komunikasi yang saya ampu. Maklum di akhir semester seperti ini adalah jadwal penyempurnaan rencana penelitian yang saya sebut klinik proposal Penelitian.

Sebagai program mata kuliah, klinik ini diberikan untuk membantu mahasiswa kelas metodologi menghasilkan proposal skripsi yang baik dan layak diteruskan ke seminar proposal. 

Karena memang, bagi mahasiswa yang berhasil membuat proposal Penelitian yang baik (sesuai standar kelas metodologi), mereka bukan saja akan mendapat nilai kelulusan mata kuliah yang baik, akan tetapi diberikan akan rekomendasi ke Prodi untuk langsung disiapkan ke proses seminar proposal skripsi.

Sejak Minggu lalu klinik ini dimulai, dan masih akan berlanjut beberapa hari kedepan. Puluhan draf proposal yang harus saya koreksi, saya bimbing dan saya arahkan. 

Berjam-jam saya harus duduk nongkrong melayani mahasiswa yang konsultasi melakukan klinik. Seperti itulah rutinitas akhir semester dari program kuliah metodologi penelitian yang saya berikan untuk membantu mahasiswa. 

Ada banyak catatan yang substansial dari proses seperti ini, antara lain:

Pertama, masih banyak dari mahasiswa yang tidak memahami substansi proposal penelitian yang sesungguhnya adalah rencana kerja penelitian yang akan dilakukan. Karena dia rencana kerja, maka proposal harusnya dibuat secara praktis dan operasional. 

Praktis maknanya pasti bisa dikerjakan. Operasional maknanya berisi langkah-langkah kerja yang akan dijalankan dalam proses penelitian.

Kedua, sebagai rencana kerja yang akan dilakukan, proposal mestinya ditulis dan direncanakan berdasarkan fakta atau realita yang mereka hadapi dan fahami, bukan konsep teoritis apalagi "hanya meniru" tulisan orang lain. 

Lebih miris lagi, ketika menulis secara teoritis pun tidak benar-benar difahami maksudnya. Menyulus tapi tidak menguasai bahan (teoritis) yang ditulis. 

Jika tidak faham dengan rencana yang dibuat, apakah bisa melaksanakannya dalam praktek penelitian? 

Pasti tidak jawabannya. 

Lalu, untuk apa menulis dan membuat perencanaan yang tidak bisa dikerjakan?

Ketiga, sebagai sebuah rencana kerja yang bersifat praktis dan operasional, menulis proposal juga mensyaratkan pemahaman teoritis penelitian yang baik, terutama menyangkut aspek-aspek metodologinya. 

Karena dalam prakteknya, kita akan meneliti sesuai dengan langkah kerja metodologi ilmiah (ilmu penelitian). 

Untuk aspek ini juga, saya melihat masih banyak kelemahan dari draf rencana penelitian mahasiswa. Mereka tidak menguasai materi (teoritis) penelitian ilmiah, masih kurang membaca buku-buku Metodologi, sehingga sulit dalam menyiapkan rencana kerja penelitian (proposal) yang baik.

Keempat, dalam menulis proposal penelitian, umumnya mahasiswa tidak berangkat dari hasil pengamatan di lapangan, atau bahan bacaan (referensi) yang baik dan benar. 

Menulis hanya dengan "dugaan" semata (tanpa data pendahuluan-pre eliminary research), maka akan menghasilkan kehampaan belaka.  

Menulis hanya dengan "meniru" konsep orang, bahkan kopi paste dari penelitian orang lain sama saja dengan menyiapkan jebakan untuk diri sendiri. Karena sesungguhnya substansi penelitian satu dengan yang lainnya tidak pernah sama. 

Apakah tidak boleh membaca, melihat penelitian orang lain, dalam hal ini skripsi yang sudah dihasilkan?

Boleh, justru penting untuk rujukan dan perbandingan. Tapi bukan ditiru apa adanya, apalagi copy pasti (menyalin apapun isinya). 

Lebih parah lagi, saya masih menemukan tulisan mahasiswa  yang berisi kajian teoritis hasil "meniru" dari skripsi orang lain, yang isi dan sumbernya sama sekali tidak difahami.

Kesimpulannya, proposal yang tidak praktis dan operasional, apalagi tidak difahami dengan baik dan benar, adalah jebakan bunuh diri saja. Sebab pada akhirnya, kita hanya akan meneliti seperti apa yang telah direncanakan. 

Kita juga akan menjawab permasalah sesuai dengan apa yang telah dituangkan dalam rencana (proposal) penelitian. 

Kalau demikian, mestinya menulis proposal (bahkan meneliti) bukan pekerjaan yang sulit, sebab kita hanya mengerjakan apa yang kita tulis/ kita rencanakan. Hakikatnya, kita sendirilah yang merencanakan dan kita juga yang mengerjakannya.

Kita sendiri yang membuat pertanyaan (fokus atau rumusan masalah), dan kita sendiri yang akan menjawabnya dari data dan keseluruhan hasil penelitian. 

Kalau begitu, mengapa masih ada yang tidak memahami cara kerjanya? 

Disitulah persoalan kesungguhan dan ketepatan cara belajar yang harus difahami oleh mahasiswa. Bahwa menulis proposal adalah membuat rencana kerja yang akan dilakukan, bukan Berteori. 

Bahwa proposal penelitian yang baik adalah membuat rencana kerja penelitian yang jelas, praktis dan operasional.

Lalu, bagaimana menulis proposal yang baik dan mudah? 
Ikuti tulisan selanjutnya...

*Vila Damai-Subuh Selasa, 08/01/19

Bagikan:

OPINI

TIPS

Komentar:

7 comments: