Pemilihan Rektor Untan Saatnya Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Bagikan:


Oleh: Rosadi Jamani*

JURNALISTIWA.CO.ID- Pemilihan calon rektor sukses digelar Senat Universitas Tanjungpura (Untan), Rabu (16/1/2019). Dari empat bakal calon rektor, terpilihlah tiga calon rektor.

Terpilihlah Prof Dr Eddy Suratman 27 suara, Prof Dr Garuda Wiko 23 suara, dan Dr Ir H Gusti Hardiansyah 1 suara. Sementara Dr Ir Urai Edi Suryadi hanya 0 suara dan tersisih dari persaingan.

Apakah Eddy Suratman yang unggul empat suara dari Garuda Wiko akan ditetapkan menjadi Rektor Untan? Jawabannya, belum. Posisi guru besar Fakultas Ekonomi Untan itu, belum aman. Bahkan, sangat tidak aman. Apalagi posisi Garuda maupun Gusti.
Walaupun belum aman, ketiganya tetap memiliki peluang sama menjadi orang nomor satu di perguruan tinggi terbesar di Kalbar. Lho kok sama peluangnya?

Pasca pemilihan calon rektor itu, ada step terakhir, Pemilihan Rektor (Pilrek). Diperkirakan antara tanggal 27 Februari sampai 7 Maret 2019. Di sini penentunya. Ketiga calon rektor itu kembali berebut suara senat lagi. Bisa saja komposisi suara yang pernah mereka dapat, berubah. Suara bisa bertambah, bisa juga berkurang. Tergantung lobi lag. Eddy yang sudah mendapat 27 suara, bisa saja suaranya bertambah, bisa juga berkurang. Begitu juga sebaliknya dengan suara Garuda dan Gusti.

Dalam hal ini, suara senat tidak lagi menjadi penentu. Justru menjadi penentu adalah suara dari Presiden RI lewat Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti). Suara senat hanya 65 persen. Sementara Kemenristekdikti 35 persen. Suara 35 persen ini bisa disamakan dengan 29 orang pemilih. Seandainya pilihan Kemenristekdikti jatuh pada Gusti Hardiansyah yang hanya 1 suara, dia bisa menjadi pemenang. Apalagi jatuh pada Garuda atau Eddy, he is the winner.

Biasanya, Kemenristekdikti akan mengirim utusan pada Pilrek. Utusan hanya satu orang. Walau satu orang, sama jumlahnya dengan 29 orang. Bisa dibayangkan, betapa menentukannya sang utusan. Tapi, utusan hanyalah utusan. Ia hanya membawa titah siapa yang mengutus. Siapa pengutus utamanya, Presiden RI melewati Menteri Ristekdikti. Dua orang inilah menjadi sasaran lobi tingkat dewa dari ketiga calon rektor tersebut. Lobi tingkat dewa atau lobi tinggi. Mainannya harus di Ring I atau orang yang dekat dengan Presiden.

Siapa yang bisa menaklukan Presiden dan Menteri Ristekdikti, dialah Rektor Untan. Di sini diperlukan pelobi andal. Tak bisa lagi ecek-ecek atau kaleng-kaleng. Harus orang yang memiliki pengaruh besar. Bisa saja ketiga calon rektor menggunakan pengaruh Gubernur, menteri, ketua partai, jenderal, ketua organisasi kemasyarakatan (ormas), tangan kanan Presiden, dan sebagainya. Lobi-lobi ini akan semakin intensif mendekati masa Pilrek. Untuk melakukan lobi, jelas tidak ada istilah “tidak ada makan siang gratis”. Dalam hal ini, saya yakin pembaca paham.

Cuma, saya tidak bisa membayangkan, tiba-tiba suara yang kalah di tingkat Senat, tapi terpilih rektor berkat pilihan 35 persen utusan Kemenristekdikti. Kasus seperti ini sering terjadi. Kadang, menimbulkan gesekan di internal perguruan tinggi itu sendiri. Tak jarang berujung demonstrasi di tingkat mahasiswa. Di sini yang sangat saya khawatirkan. Jangan sampai Pilrek Untan berujung konflik.

Kolaborasi, bukan Kompetisi Ada kampanye, begini kalimatnya, “Sudah saatnya kita tidak lagi berkompetisi, melainkan berkolaborasi.” Kenapa? Kompetisi pasti berujung kalah dan menang. Ada nafsu ingin menyingkirkan dan menjatuhkan lawan dengan segala cara.

Menang pasti senang, kalah berujung sedih, kecewa, dan tak jarang menimbulkan dendam. Kompetisi banyak melahirkan konflik. Walaupun ada mengatakan, kompetisi bisa melahirkan inovasi. Tanpa inovasi, mati. Namun, dalam hal Pilrek Untan, ada baiknya bukan dikatakan ajang kompetisi. Pilrek sebaiknya diubah menjadi ajang kolaborasi. Kenapa kolaborasi? Sebab, berujung pada penyatuan kekuatan. Penyatuan orang-orang hebat Untan. Sementara kalau kompetisi, pihak yang kalah cenderung tidak mau menyatu dengan pemenang.

Belajar dari Pilrek Universitas Mulawarman (Unmul) Kalimantan Timur tahun 2018 lalu. Terpilih sebagai Rektor Unmul, Prof Masjaya. Satu hal paling menarik dari peristiwa Pilrek Unmul ini, terpilihnya Masjaya, bukan karena suaranya unggul dari dua rivalnya. Bukan juga mendapatkan gelondongan suara dari Kemenristekdikti. Masjaya terpilih karena aklamasi. Semua anggota senat tidak mau memilih secara one man one vote, melainkan secara aklamasi. Semua anggota senat sepakat untuk memilih Masjaya sebagai Rektor Unmul. Ayo, mau apa utusan menteri. Gelondongan suaranya tidak dipakai. Tetap yang dipakai suara aklamasi.

Unmul sedang menerapkan kolaborasi, bukan kompetisi. Unmul tidak mau ada konflik efek dari Pilrek. Universitas terbesar di Kalimantan Timur itu justru menyatukan seluruh kekuatan orang hebatnya. Ketiganya bersatu untuk bersama-sama memajukan universitas. Hebatkan Unmul.

Nah, kenapa Untan tidak mengikuti jejak Unmul. Apakah mungkin? Tidak ada yang tidak mungkin. Sekarang kuncinya ada pada Senat Untan. Bila semangat senat juga ingin kolobarasi, pasti bisa seperti Unmul. Pilrek Untan cukup dengan aklamasi. Tiga calon rektor dikumpulkan oleh senat. Berikan pemahaman akan pentingnya kolaborasi, ketimbang kompetisi. Di saat Untan yang masih bertengger di posisi 45 dari seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia, sangat dibutuhkan kolaborasi seluruh kekuatan. Satukan kehebatan Eddy Suratman, Garuda Wiko, Gusti Hardiansyah. Saya yakin dengan kehebatan tiga orang hebat ini bisa menaikkan peringkat Untan. Peringkat dipastikan naik bisa semua kekuatan bersatu, bahu membahu, saling support untuk kejayaan Untan.

Kemudian, dengan kolaborasi semua kekuatan, tak diperlukan lagi lobi tingkat dewa berbiaya tinggi itu. Tak perlu lagi bolak-balik Jakarta-Pontianak untuk menaklukan Presiden maupun menteri. Kalau semua sudah bersepakat aklamasi, tak dibutuhkan lagi suara gelondongan 35 persen. Selesai. Simpel dan murah merah serta menyatukan kekuatan.

Berkolaborasilah Untan. Pilihlah rektor secara aklamasi. Senat harus menjadi mediasi untuk menyatukan kekuatan tiga orang hebat itu. Bila sudah aklamasi, tak dibutuhkan lagi suara utusan menteri. Apabila kekuatan sudah menyatu, Untan pasti hebat. Semoga!


*Alumni S2 Untan
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close