Patuhi “Kitab Suci” menulis: Pelajaran Dari Pak Wo

Bagikan:
Ilstrasi/Net
Oleh: Ibrahim (ab_irhamiy)

Senin, 14 Januari 2019. Seperti hari-hari biasa masuk kerja, jam 07.10 saya sudah tiba di ruangan. Sesampai di rungan, saya sudah mendapai rekan dosen satu ruangan dengan saya (sebut saja pak Wo) juga sudah masuk. Bahkan sudah memberikan bimbingan untuk mahasiswa konsultasi proposal, yang ternyata adalah seminar proposal skripsi pagi itu.

Dengan posisi meja kami yang tidak terlalu jauh, dan saling berhadapan, tentu saja saya bisa melihat dan mendengar proses bimbingan dan seminar yang berlangsung. Saya bisa mengabaikan pandangan, karena saya juga harus melaksanakan rutinitas sendiri sebagai dosen dan ASN. Akan tetapi saya tidak mungkin menutup telinga dari apa yang bisa saya dengar pagi itu. 

Pak Wo memberikan arahan dan bimbingan yang sangat jelas kepada mahasiswa yang seminar itu, terkait dengan proposal penelitian yang diajukan. Diantara persoalan yang menjadi sorotan beliau adalah teknik penulisan defenisi operasional, teknik penulisan kutipan, penulisan sumber rujukan, dan penulisan dafar pustaka. Persoalan substansi materi tidak usah saya komentari di sini.

“defenisi operasional bukan hanya menulis pengertian, tapi juga aspek-aspek yang terkait dengan variabel yang akan ditulis” demikian komentar pak Wo. Bahkan dengan nada keheranan beliau mengatakan; “Saya masih ingat betul apa yang sudah saya ajarkan, terbayang jelas tulisan saya di pojok kanan atas papan tulis. Kok, tidak diikuti...”kesalnya. 

Sang mahasiswa hanya terdiam, mendengar dan mungkin berusaha memahami kesalahannya, sambil mencatat masukan dan arahan dari dosen pembimbingnya.

Kemudiaan dosen itu menyinggung mengenai isi tulisan; “yang mana kutipan- mengambil dari tulisan orang, dan yang mana pemikiran anda sendiri?. Seharusnya kalau itu kutipan dari tulisan orang lain, tulislah sebagai kutipan. Beri tanda kutip dan tuliskan sumbernya dengan jelas. bebuih-buih mulut saya menjelaskan”. Demikian pak Wo mengingatkan dengan tampak kesal.

Kemudian poin berikutnya yang saya dengar betul dari arahan dosen tersebut terkait proposal mahasiswa yang seminar pagi itu adalah dalam hal menulis daftar pustaka. “daftar pustaka itu mestinya sumber rujukan dari semua kutipan di dalam teks, yang bersifat dokumen tertulis. Perkataan orang (lisan) tidak bisa ditulis sebagai bagian dari daftar pustaka”.

Tampa mengabaikan adanya proses dialog dan tanya jawab konfirmasi antara dosen dan mahasiswa, sangat jelas beberapa masukan dan arahan sang dosen yang harus diikuti dan direspon oleh mahasiswa untuk diperbaiki. Sebaliknya mahasiswa juga memahami beberapa kekurangan dan kelemahan dari proposal penelitian yang diajukan.

Apa yang dikesalkan, dan diingatkan oleh pak Wo tadi dalam membahas proposal mahasiswa, sesungguhnya merupakan penomena yang juga sering saya temui pada mahasiswa saya. Berkali-kali dingatkan melalui proses bimbingan, bahkan diajarkan pada saat kuliah metodologi penelitian, masih saja banyak yang tidak mengerti tentang penulisan proposal penelitian. Istilah saya, apakah mereka “tidak mengerti, tidak mau mengerti, dan atau gagal mengerti”.

Kalau tidak mengerti dan mau faham mestinya mereka lebih banyak belajar, baca buku. Kalau tidak mengerti mestinya bertanya dalam proses diskusi dan tanya jawab di kelas, bukan justru diam dan puas dengan ketidak-mengertiannya. Lebih susahnya adalah gagal mengerti, dimana materi tidak dikuasai, tidak mau belajar dan bertanya, dan bahkan mungkin untuk bertanya pun tidak bisa. Kasian deh lo....

Pelajaran terkait persoalan definisi operasional, setiap peneliti mesti mampu menjelaskan dengan baik istilah-istilah dalam penelitian. Orang kuantitatif menyebutnya variabel dan turunannya. Orang kualitatif menyebutkan fokus dan aspek fokus. Semua bagian ini mesti dijelaskan berdasarkan pengertian teori, teori-teori terkait, hingga konsep-konsep yang diinginkan olh peneliti. Definisi operasional (deskripsi teoritis) inilah yang akan mengarahkan peneliti dalam melakukan penelitian nantinya.

Pelajaran terkait penulisan kutipan dan sumber rujukan, mesti dipahami bahwa setiap tulisan itu hanya ada dua kemungkinan; berdasarkan pikiran sendiri, dengan kalimat dan bahasa sendiri; atau berdasarkan pikiran orang lain, kalimat dan bahasa dalam tulisan orang lain. Jika sebuah tulisan tidak disertai sumber rujukan, maka itu “layaknya” bermakna sebagai karya sendiri (ide, kalimat dan bahasa sendiri). 

Sebaliknya, setiap tulisan yang diambil dari pikiran orang lain, kalimat dan bahasa dalam tulisan orang lain MUTLAK harus ditulis sumbernya. Sebab, tanpa menulis sumber, padahal itu pikiran dan kalima tulis orang lain, sama saja dengan mengakui sebagai milik sendiri. Inilah satu bentuk plagiarisme, ketidak-jujuran dahkan kejahatan akademik yang diancam pidana oleh undang-undang. Karena itu, berusahalah menjadi penulis yang jujur.

Pelajaran terkait penulisan daftar pustaka, dalam sebuah proposal dimungkinkan bagi peneliti untuk menulis semua sumber bacaan yang sudah digunakan (dikutif) dalam teks, dan sumber-sumber bacaan yang direncanakan untuk digunakan dalam proses penelitian, meskipun belum dirujuk atau bahkan belum dibaca. Karena itulah sistematika dalam proposal disebut rencana daftar pustaka.

Bagaimana menulis definisi operasional, menulis kutifan dan sumber rujukan, sera menulis daftar pustaka dll sesuai ketentuan penulisan yang baik dan benar? Baca dan ikuti petunjuk penulisan dalam buku Pedoman Penyusunan Skripsi IAIN Pontianak. Itulah “kitab suci” yang WAJIB dibaca dan diikuti oleh semua mahasiswa IAIN Pontianak yang hendak menulis (proposal dan skripsi). Semoga bermanfaat dan terima kasih untuk pelajarannya, pak Wo. 

Vila Damai 3, Subuh 15/01/2019

Bagikan:

OPINI

PENDIDIKAN

Komentar:

0 comments:

close