Para Penuntut Ilmu Harus Perhatikan Enam Perkara Ini

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Ahmad Pratama

Sekarang sudah zaman akhir bukan zaman now lagi. Nah, di zaman akhir ini tidak sedikit pemuda-pemudi khususnya kaum santri dan santri putri lebih khususnya santri yang mempopulerkan dirinya dengan sebutan Santri Zaman Now atau Millenial yang tidak memiliki “Akhlaqul Karimah” yakni perilaku terpuji. 

Dalam kitab karangan Syeikh Zarnuji itu disebutkan 6 perkara mencari.

Pertama, Cerdas (Zakaa’in)
Sebagai salah satu syarat pelajar adalah harus cerdas. Dalam hal ini santri now masih memenuhi syarat. Karena jika tidak, berarti santri itu akal pikirannya di bawah normal alias gila (majnun), sehingga tidak layak menjadi santri. 

Kedua, Tidak Gampang Puas (Hirshin)
Seorang pencari ilmu tidak boleh gampang puas dengan apa yang sudah diperoleh. Karena dengan begitu ia akan terus belajar dan mutholaah. Santri yang mudah puas, hasilnya akan biasa-biasa saja. Namun bagi mereka yang kehausan ilmu akan jadi generasi santri yang benar-benar milenial.

Ketiga, Sabar (Ishthibaarin)
Nah, di poin ini banyak santri zaman sekarang yang gagal. Tidak sedikit zaman sekarang santri yang tidak bisa sabar. Mereka inginnya cepat pulang. Kalau ngaji ingin cepat pulang. Bukan hanya itu, saat mereka wiridan ba’da sholat  lima waktu mereka terburu-buru sehingga cendrung tidak khusyuk. Padahal bacaan sesudah sholat itu sangat-sangat penting terutama untuk melatih kesabaran. Sekali lagi santri zaman sekarang kurang bisa SABAR.

Keempat, Punya bekal atau biaya (Bulghatin)
Rata-rata santri sekarang tidak ada yang tidak mampu. Para santri biasanya dibekali dengan biaya yang cukup, kebutuhan lainnya juga sudah terpenuhi. Tidak ada santri kelaparan di zaman ini.
Malah sebaliknya, santri zaman sekarang cenderung berlomba-lomba dalam balapan makan. Maka tidak heran jika santri sekarang itu rata-rata gemuk.

Kelima, Mengikuti petunjuk ustadz atau Guru (Irsyadi Ustazin).
Ini juga banyak santri yang gagal dari syarat ini. Banyak santri sekarang yang berani kepada gurunya tidak mau diarahkan, dibimbing kurang menghiraukan. Ketika disuruh belajar malah cerita-cerita kesana-kemari.

Keenam, Waktu yang Lama (Thuuli Zamani)
Artinya tidak cukup seorang santri itu hanya mondok satu bulan dua bulan, tapi minimal 3 tahun sampai 6 tahun.

Kalau ada sekarang istilah pondok kilat atau nyantri sebentar itu hanya sebagai hiburan saja. Karena ilmu yang diperoleh dalam waktu yang singkat itu kurang sempurna alias hanya tahu atau paham luarnya saja.
Bagikan:

OPINI

PENDIDIKAN

Komentar:

0 comments:

close