Kosmogoni Bukti Keeksistensian Tuhan

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Yusuf An Nasir

Alquran sedikit sekali berbicara tentang Kosmogoni (Kejadian Alam). Mengenai metafisika penciptaan, Alquran hanya mengatakan bahwa alam semesta beserta segala sesuatu yang hendak diciptakan Allah di dalamnya tercipta sekedar dengan firman-Nya: “Kun!” jadilah “Fayakun” Maka Terjadi. Oleh karena itu Allah adalah pemilik dan penguasa yang mutlak dari alam semesta yang tak dapat disangkal. Karena kekuasaan-Nya yang mutlak, maka ketika Allah hendak menciptakan langit dan bumi, maka Allah berfirman kepada keduanya “...Datanglah kamu keduanya menurut perintahku dengan suka hati maupun dengan terpaksa” (41:11).

Itulah sebabnya mengapa Alquran menyatakan bahwa keseluruhan alam semesta sebagai “Muslim”. karena setiap sesuatu yang berada di dalamnya (kecuali manusia yang dapat menjadi atau tidak menjadi “Muslim” menyerah kepada Allah dan memuji-Nya. Satu-satunya petunjuk di dalam Alquran mengenai “pembentangan” alam adalah ayat : "...apakah manusia-manusia yang ingkar itu tidak menyaksikan (mengetahui) bahwa langit dan bumi (jagat raya ini) adalah sebuah massa yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan kemudian kami membentangkannya?..” (21:30). Disebutkan pula bahwa keseluruhan proses penciptaan alam semesta ini terjadi dalam “enam masa”.

Alquran memang hanya sedikit sekali berbicara mengenai kosmogoni, tetapi Alquran sering kali dan berulang kali membuat pernyataan-pernyataan mengenai alam dan fenomena-fenomena alam. dan pernyataan-pernyataan ini menghubungkan alam dengan Allah, dengan manusia, ataupun dengan kedua-duanya. Pernyataan-pernyataan ini umumnya menggambarkan kekuasaan serta kebesaran Allah yang tak terhingga dan menyerukan agar manusia beriman kepada-Nya, atau menggambarkan belas kasih-Nya yang tak terhingga dan menyerukan agar manusia bersyukur kepada-Nya. Di dalam kedua hal ini, baik kebesaran alam semesta dan manfaatnya bagi manusia, maupun stabilitas dan regularitas fenomena-fenomena alam, sama-sama ditekankan.

Jika engkau menabur benih dan merawatnya maka engkau dapat mengharapkan hasilnya, tetapi jika tidak maka janganlah engkau harapkan. Jika engkau membuat sebuah kapal, kemudian menaruhnya ke tengah lautan, dan angin datang bertiup, maka engkau dapat mengharapkan perdagangan yang menguntungkan, tetapi jika tidak janganlah engkau harapkan demikian. Jadi di dalam setiap kejadian sebab-sebab alamiah selalu ada.

Disamping sebab-sebab alamiah tersebut ada pula sebab-sebab lain yang lebih penting dan memberikan makna serta intelligibilitas kepada keseluruhan proses alamiah tersebut. Sebab-sebab yang lebih tinggi ini bukanlah duplikat atau pelengkap terhadap sebab-sebab alamiah tersebut. Sebab-sebab ini bekerja di dalam sebab-sebab alamiah, atau lebih tepatnya jika di katakan: identik dengan sebab-sebab alamiah. Alquran mengemukakan sebab-sebab alamiah dan sebab-sebab ilahiah atau religius di dalam konteks-konteks yang berbeda dan jelas sekali, dengan tujuan-tujuan yang berbeda.

Perbedaan terpenting di antara Allah dengan ciptaan-Nya adalah: jika Allah tak terhingga dan mutlak, maka setiap sesuatu yang diciptakan-Nya adalah terhingga. Setiap sesuatu memiliki potensi-potensi tertentu tetapi betapapun banyaknya potensi-potensi tersebut tidak dapat membuat yang terhingga melampaui keterhinggaannya dan menjadi tidak terhingga. Inilah yang dimaksudkan Alquran bahwa setiap sesuatu selain Allah “memiliki ukuran”. Jika suatu ciptaan melanggar hukumnya dan melampaui ukurannya, maka alam semesta menjadi kacau. Alquran sering mengemukakan tata alam semesta yang sempurna ini tidak hanya sebagai bukti mengenai adanya Allah tetapi juga sebagai bukti mengenai keesaan-Nya.

Di sini harus kita tanamkan bahwa “ukuran” ini mempunyai sebuah bias holistik yang kuat, yaitu pola-pola, watak-watak, dan kecenderungan demi kecenderungan. Sebuah peristiwa tidak dapat di fahami berdasarkan kejadian-kejadian dan aksi-aksi tertentu. Oleh karena itu perkataan “ukuran” ini dapat menunjukan teori predeterminasi (takdir), walaupun dapat diartikan sebagai semacam “determinisme holistik”.

Perbedaan di antara alam dengan manusia adalah jika bagi manusia aksi-aksi moralnya terjadi karena kehendaknya sendiri, maka tidak demikian halnya bagi alam. Sesunguhnya alam sedemikian terjalin erat dan bekerja dengan regularitas yang sedemkian rupa sehingga ia merupakan keajaiban Allah. Selain Allah, tak ada sesuatupun yang dapat membangun alam yang maha luas dan kokoh ini.

Referensi-referensi mengenai fenomena-fenomena seperti regularitas siang dan malam, musim hujan yang menyuburkan tanah dan musim kemarau yang menggersangkan tanah yang saling bergantian, acapkali kita jumpai di dalam Alquran.

Misinisasi raksasa atau alam semesta ini beserta segala proses-proses kausalnya adalah pertanda (ayat) atau bukti yang paling penting mengenai Penciptanya. Kecuali yang Maha Kuat dan Maha Pengasih yang mempunyai maksud tertentu di dalam penciptaan alam semesta ini, maka siapakah yang dapat menciptakan sesuatu dengan dimensi yang sedemikian luasnya dan dengan keteraturan serta design yang sedemikian rumit dan mendetailnya.

Tetapi manusia meremehkan, melengahkan, bahkan mengingkari Allah. Karena menurut pandangannya proses-proses alam terjadi karena sebab-sebab tersendiri. Ia tidak menyadari bahwa alam semesta adalah sebuah pertanda yang menunjukan kepada sesuatu yang berada di atasnya dan bahwa tanpa sesuatu itu alam semesta beserta sebab-sebab alamiahnya tidak pernah ada.

Manusia memandang peristiwa-peristiwa alam karena sebab-sebab alamiahnya, tanpa memahami keterlibatan Allah di dalam peristiwa-peristiwa tersebut, dan apabila terjadi “keajaiban supranatural” barulah mereka tidak menyangsikan lagi bahwa kejadian ini disebabkan oleh Allah.

Walaupun dapat dikatakan bahwa alam semesta bersifat otonom karena ia bekerja menurut hukum-hukum yang diberikan Allah kepadanya, namun kita tidak dapat mengatakan bahwa alam semesta bersifat otokratis, karena ia tidak memiliki ultimasi atau rasionalnya sendiri sebagai bagiannya yang integral.
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close