Keemasan Muslimah Mengayun Tarbiyah

Bagikan:
Ilustrasi Muslimah/Net
Oleh: Hidayati*

JURNALISTIWA.CO.ID - Bismillahirrohmanirrohiim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maksudnya, saya memulai membaca basmalah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya.

Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

Tafsir di atas adalah penjelasan detail dari bismillah yaitu juga merupakan surah pertama dari Al fatihah, kenapa artikel ini dimulai dengannya, karena Nabi Sulaiman ternyata selalu menulis bislmillah dalam setiap surat yang dikirimkannya. Apabila setiap sesuatu kita mulai dengan bismillah Allah akan Ridha, karena bismillah merupakan bentuk pengakuan kita bahwa segala sesuatuitu bisa terwujud dan terjadihanya karena atas kehendak Allah Subhanahu Wata’ala.

Nah, berkaitan dengan judul diatas, ana sebenarnya ingin memperantarakan fakta saja kepada Akhwaty fillah, mungkin dari kita dulu belum ada yang tau nih kilas balik dari masa lampau terpuruknya nasib kita para akhwat jika hidup di masa sebelum ada ibu yang harum namanya R.A. Kartini.

Namun taukah ukhty, jauh sebelum itu ternyata Islam telah dulu mengangkat harkat martabat kaum hawa yang berakhir terpuruk setelah zaman jahiliyah. Masa keemasan muslimah-muslimah dalam mengayun pendidikan Islam tergambar seperti dibawah ini.

Pada masa itu sesuai yang diutarakan Husein Muhammad dalam Jurnal Pendidikan Islam dengan Judul Islam dan Pendidikan Perempuan “Kaum perempuan diberi ruang dan waktu untuk belajar sebagaimana kaum laki-laki. Tak berselang lama lahir perempuan-perempuan cendikia, intelektual, ulama, ahli hadits, seniman, budayawan dan sebagainya.”

Fakta bahwa kaum hawa benar-benar berkembang karena Islam, yaitu melalui banyak jalan yang kita sekarang sebut pendidikan dan kalau bahasa arabnya adalah tarbiyah, melalui Ahmad Syauqi, Raja Penyair Arab modern dalam puisinya.

Lihatlah! Utusan Tuhan
Ia tak pernah mencatut hak-hak perempuan beriman
Ilmu pengetahuan menjadi jalan hidup keluarganya
Mereka menjadi ahli hukum,
aktivis politik, kebudayaan dan sastra
Berkat putri-putri Nabi
Gelombang pengetahuan menjulang ke puncak langit
Lihatlah, Sukainah
Namanya menebar harum di seluruh pojok bumi
Ia mengajarkan kata-kata Nabi
Dan menafsirkan kitab suci
Lihatlah
Buku-buku dan kaligrafi yang indah
Bercerita tentang ruang
Perempuan-perempuan Islam yang gagah

Baghdad
adalah rumah perempuan-perempuan cerdas
Padepokan perempuan-perempuan elok
Yang mengaji huruf dan menulis sastra
Damaskus zaman Umayyah
adalah sang ibu bagi gadis-gadis cendekia
Tempat pertemuan seribu perempuan piawai
Taman-taman Andalusia
merekah bunga warna-warni
Perempuan-perempuan cantik bernyanyi riang
Dan gadis-gadis anggun membaca puisi

Puisi-puisi di atas mengungkapkan dengan jelas fenomena perempuan Islam dalam panggung sejarah Islam awal. Pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, paling tidak di tiga tempat: Damaskus, Baghdad dan Andalusia, memerlihatkan aktifitas, peran dan posisi kaum perempuan.

Fakta-fakta sejarah dalam peradaban awal Islam ini menunjukkan dengan pasti betapa banyak perempuan yang menjadi ulama, cendikia dan intelektual, dengan beragam keahlian dan dengan kapasitas intelektual yang relatif sama dengan bahkan sebagian mengungguli ulama laki-laki.

Jadi, pada masa setelah Rasulullah membawa Islam saja pendidikan perempuan telah terapik rapi nan elegan seperti itu, mungkin bisa dibilang, Khadijah r.a. adalah perempuan pertama yang dididik tarbiyah Islam oleh Rasulullah dengan turunnya ayat ini,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (QS. Al ‘Alaq : 1)

Bukankah ayat yang pertama kali diturun ke bumi oleh Allah adalah membaca, Iqra. Maka dari itu pendidikan sangat penting, bukan saja pendidikan formal, namun mencakup segala aspek kehidupan, semua pendidikan itu bisa kita dapatkan dari Alquran dan izin dari Allah, apalagi ayat diatas bukan hanya diperuntukkan laki-laki tapi untuk semua makhluk-Nya. Ada saja cara Allah memberikan segala rahmat, rezeki, dan hidayah-Nya. Dan saah satupertolongan Allah adalah melalui perbaikan mutu pendidikan di negara kita.

Sehubungan dengan Pembukaan UUD 1945 alinea keempat ialah “mencerdaskan kehidupan bangsa”; Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional”; Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang “Standar Pendidikan Nasional”; dan Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang “Guru dan Dosen Menuntut Adanya Kualitas Pendidikan”. Betapapun, penguasaan kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial guru dan dosen mengacu pada amanat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut.

Semua hal tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, peningkatan kualitas pendidikan nasional yang harus diperhatikan elemen masyarakat, terutama civitas akademika.

Untuk ukhty-ukhty supaya dapat gambaran bagaimana hasil dari pendidikan Rasulullah SAW yaitu kisah perjalanan pendidikan Sukainah yang gemilang. Sukainah adalah cicit Rasulullah SAW dan muslimah berpendidikan Islam lainnya sebagai berikut.

Sukainah bint al-Husain (w. 735 M), cicit Nabi adalah tokoh perempuan ulama terkemuka pada zamannya. Pemikirannya cemerlang, budi pekertinya indah, penyair besar, guru penyair Arab tekemuka.

Jarir al-Tamimy, Farazdaq, dan ayahnya Imam Husain bin Ali, menyebut putri tercintanya ini: “Amma Sukainah fa Ghalibun ‘alaiha al Istighraq ma’a Allah” (hari-harinya sering berkontempelasi). Ia sering memberikan kuliah umum di hadapan publik laki-laki dan perempuan, termasuk para ulama, di masjid Umawi. Ia dikenal juga sebagai tokoh kebudayaan. Rumahnya dijadikan sebagai pusat aktifitas para budayawan dan para penyair.

Nama-nama perempuan ulama/intelektual/cendikia, perjalanan hidup dan karya-karya mereka terekam dalam banyak buku. Ibnu Hajar, ahli hadits terkemuka dalam bukunya: “Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah”, menyebut 500 perempuan ahli hadits. Nama-nama mereka juga ditulis ahli sejumlah ulama.

Imam Nawawi, dalam “Tahzib al-Asma wa al-Rijal”, Khalid al-Baghdadi dalam “Tarikh Baghdad”, Ibn Sa’d dalam “Al-Thabaqat” dan al-Sakhawi dalam “al-Dhaw al-Lami’ li Ahli al-Qarn al-Tasi’” dan lain-lain. Imam al-Dzahabi, ahli hadits masyhur, penulis buku “Mizan al-I’tidal”, menyebut 4000 Rijal Hadits, terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Ia selanjutnya mengatakan: “Ma ‘Alimtu min al-Nisa Man Uttuhimat wa La Man Turika Haditsuha” (Aku tidak mengetahui ada perempuan yang cacat dalam periwayatannya dan tidak pula ada yang tidak dipakai haditsnya). Katanya lagi: “Tidak ada kabar yang menyebutkan bahwa riwayat seorang perempuan adalah dusta”.

Demikianlah para akhwaty fillah, gambaran dari masa keemasan muslimah dalam pendidikan (tarbiyah) diwaktu itu, Semoga kita semakin semngat menggapai ridha ilahi dan meraih pendidikan Islam yang telah Allah rezekikan untuk kita. Aamiin.

*Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah
Bagikan:

OPINI

PENDIDIKAN

Komentar:

0 comments: