Juni Berdarah Pasca-Reformasi

Bagikan:
Cover Buku Juni Berdarah Pasca Reformasi Karya Adong Eko
Pontianak, jurnalistiwa.co.id -  Wartawan Pontianak Post, Adong Eko kembali melahirkan karya terbaiknya. Yakni sebuah buku berjudul Juni Berdarah ‘Pasca-Reformasi. Ini adalah buku kelima yang diterbitkannya sejak beberapa tahun terakhir.

Juni Berdarah Pasca-Reformasi adalah sebuah buku sejarah gerakan mahasiswa di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak dari sebelum, saat dan sesudah reformasi.

Buku yang rencananya akan dilaunching pada pertengahan Februari nanti, selain mengangkat semangat gerakan mahasiswa, juga mengangkat peristiwa memilukan, yakni tragedi berdarah, Rabu 14 Juni 2000 atau kurang lebih peristiwa yang terjadi 19 tahun silam.

Kisah itu adalah tewasnya seorang mahasiswa Politeknik atau saat ini bernama Politeknik Negeri (Polnep) Pontianak, yakni Syafaruddin. Ia adalah mahasiswa semester dua yang ikut dalam aksi mengawal laporan pertanggungjawaban Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Mayjen Aspar Aswin (almarhum).

Pada hari itu, Syafaruddin tewas diduga tertembak ketika berada di Jalan Ahmad Yani atau seberang jalan depan kantor Gubernur Kalimantan Barat. Tak hanya ia, mahasiswa lain yang menjadi korban adalah Ar Irham, Presiden Mahasiswa BEM UPB saat itu.

“Buku ini ditulis berdasarkan pengakuan, saksi, korban dan pelaku sejarah saat itu. Ditulis dengan metode diskritif naratif, sesuai dengan apa yang disampaikan narasumber saat terlibat gerakan mahasiswa,” kata penulis buku, Adong Eko, Selasa (29/1/2019).

Adong mengatakan, buku itu lahir untuk kembali mengingatkan tentang semangat gerakan mahasiswa saat reformasi, bahwa mereka memiliki peran begitu strategis untuk mengawal pembangunan yang dilakukan pemerintah.

“Harapannya, kaum intelektual saat ini dapat belajar dari pendahulunya bagaimana memainkan perannya. Memperjuangkan hak masyarakat tertindas, menyuarakan kebenaran yang mereka yakini,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Adong, buku dengan cover foto wajah Syafaruddin itu lahir untuk mengingatkan kepada siapapun, baik institusi penegak hukum, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, bahwa hingga saat ini kasus penembakan yang menewaskan seorang mahasiswa itu belum terungkap, meski sudah berlangsung selama kurang lebih 19 tahun.

“Insya Allah bulan depan buku ini akan terbit. Bagi yang ingin mengoleksi buku ini dapat membelinya langsung dengan penulis dengan harga Rp70 ribu sampai dengan Rp80 ribu dengan menghubungi nomor telepon 089520266468,” tuturnya.

Adong berharap, karya kelimanya ini dapat menjadi tambahan literasi di Kalimantan Barat. Dan dapat menjadi buku sejarah tentang gerakan mahasiswa di Kalimantan Barat.

Penulis: Adi
Editor: Sukardi
Bagikan:

PONTIANAK

REVIEW

Komentar:

0 comments:

close