Implementasi K-13 dalam Mapel PAI di MAS Babussalam Al-Hasyimi Peniraman 2018

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh : Rizqi Amaliah*

JURNALISTIWA.CO.ID- Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah Babussalam Al-Hasyimi Peniraman Kabupaten Mempawah berjalan dengan lancar atau sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Karena guru yang mengajar di bidang tersebut menguasai materi secara mendalam, dan juga buku siswa dalam bidang Pendidikan Agama Islam terfasilitasi atau siswa memiliki buku masing-masing sehingga ketika proses pembelajaran siswa tidak lagi di tuntut untuk menulis tetapi  dituntut untuk mendengarkan dan memahami penjelasan materi yang disampaikan oleh guru kemudian mengolahnya sendiri hasil dari proses penyampaian materi oleh guru PAI tersebut dan jika sudah memahaminya maka dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu praktek untuk bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Di MAS Babussalam AL-Hasyimi Peniraman Menerapkan Kurikulum 2013 dalam bidang  PAI karna  kurikulum ini memiliki empat aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Jadi dalam pelajaran agama seperti Al-Qur’an Hadits atau Aqidah Akhlak misalnya, Mereka tidak hanya sekedar mengetahui teori saja tetapi siswa juga dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-sehari atau di lingkungan tempat dia berada Ketika di luar sekolah.

Menurut kepala Sekolah MAS Babussalam Al-Hasyimi jika sekolahan mereka bisa menghasilkan siswa dan siswi yang berguna bagi masyarakat sekitar dan bangsa atau  siswa memiliki sikap baik, otomatis pendidikan agama di sana tidak sia-sia dengan kurikulum yang mereka gunakan.
Jadi tujuan dari sekolahan ini menggunakan Kurikulum 2013 dalam bidang PAI agar siswa bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama dia sekolah dalam kehidupan sehari-harinya bukan hanya di sekolahan saja tetapi di rumah dan di lingkungan sekitarnya juga, agar  tidak hanya sekedar pengetahuan saja.

Juga bertujuan untuk mengubah mainset tentang kecerdasan anak dengan begitu diharapkan siswa dapat menjadi sosok yang cerdas tidak hanya di dalam pengetahuannya saja melainkan sikap dan keterampilannya juga, artinya seimbang antara kognitif, afektif, dan psikomotorik. 
Dalam penerapan Kurikulum 2013 setiap sekolah pasti mengalami hambatan atau kendala yaitu: Pertama, dalam hal penilaian, k-13 ada 4 penialian (aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku), yang sulit adalah dalam aspek sikap, karna aspek sikap meliputi perangai sopan santun, adab dalam belajar, sosial, absensi, dan agama.

Kesulitan penilaian dalam aspek ini banyak disebabkan karena guru tidak setiap saat mampu mengawasi siswa-siswinya. Sehingga penilaian yang dilakukan tidak begitu efektif. Kemudian dalam lapangan guru juga masih ada yang tidak tahu atau kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga seakan-seakan k-13 hanya sebutannya saja “memakai” tetapi tidak penerapannya. 

Kendala kedua, karna di sini memakai dua kurikulum sehingga dalam penilaian di rapot tetap menggunakan KTSP dan tetap memakai ranking, jika menurut pemerintah rangking itu bisa menumbuhkan sifat persaingan dan permusuhan, Kepala Sekolah di sini berbeda pendapat dengan mereka, karna menurut mereka rangking itu merupakan sebuah rewards atau penghargaan kepada siswa atau siswi yang berprestasi untuk lebih giat lagi dalam belajar dan merasa termotivasi, sehingga siswa-siswi akan berlomba-lomba untuk bisa memperbaiki nilai mereka dengan terus menerus belajar dan mencari tahu tentang ilmu.

Akan tetapi guru juga harus memberikan pandangan terhadap siswa bahwasanya kesuksesan seseorang tidaklah dilihat dari nilai yang diperoleh saja akan tetapi dilihat juga dari cara seseorang tersebut menjalankan kehidupan sehari-harinya dan akhlaknya, agar siswa tidak hanya berjuang untuk mendapatkan nilai tertinggi tetapi juga harus bisa mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama proses belajarnya di sekolah.

Tetapi dalam implementasi kurikulum 2013 tidak hanya ada faktor penghambatnya saja, tetapi juga ada faktor pendukung, yaitu seperti para pendidik yang telah ikut bimtek atau sosialisasi mengenai kurikulum 2013 , sehingga guru dapat lebih mudah mengimplementasikan kurikulum 2013 tersebut meskipun tidak secara maksimal.

*Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah


Bagikan:

OPINI

PENDIDIKAN

Komentar:

0 comments: