Sejarah dan Perkembangan Beladiri Karate di Sekolah-sekolah

Bagikan:

Oleh: Apriyan Tito Prayoga

Karate adalah seni beladiri yang berasal dari jepang, seni beladiri ini sedikit dipengaruhi oleh seni beladiri cina kenpo, seni beladiri ini pertamakali disebut “tote” yang berarti tinju cina, ketika karate masuk ke jepang nasionalisme jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya sehingga sensei Ghicin funakhosi mengubah kanji Okinawa (tote=tnju china) dalam kanji jepang menjadi “karate”.

Gichin Funakhosi
Gichin funakhosi lahir di shuri, kerajaan ryuku, 10 november 1868 dan meninggal di Tokyo jepang, 26 April 1957.

Seni beladiri karate ini tidak hanya berkembang di jepang saja tetapi di Indonesia seni beladiri karate ini juga berkembang pesat sekali, karate di Indonesia bukan di bawa oleh tentara jepang melainkan oleh mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya di jepang.

Karate ini di Indonesia sangat berkembang pesat bahkan sudah menjadi hal yang lumrah di temukan dalam beladiri yang di perlombakan bahkan menjadi beladiri wajib bagi Tentara Nasional Indonesia, walaupun beladiri ini bukan asli dari Indonesia tetapi orang Indonesia banyak menjuara perlombaan-perlombaan karate mewakili Indonesia.

Didasari hal tersebut banyak diemui di seklah sekolah membuka extrakulikuler karate karena agar bisa mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa dan juga banyak di selenggarakan perlombaan untuk pelajar misalkan O2S, POPDA dan masih banyak lagi.

Sekarang di setiap sekolah-sekolah sudah banyak membbuka ranting-ranting untuk menjadi wadah pelatihan dan pengembangan beladiri karate ini, pada setiap minimal 6 bulan sekali diadakan Ujian penurunan KYU/Kenaikan sabuk untuk para murid yang mengikuti karate bahkan dari setiap ranting-ranting di seklah sudah ada yang menghasilkan pelatih karate DAN-1 dan DAN-2 untuk membantu mengelola dan melatih.

Untuk kenaikan sabuk Hitam biasanya di adakan di provinsi dan peserta yang mengikuti harus menyertakan surat rekomendasi dari pengurus cabang, Dan sudah memenuhi ketentuan yang sudah di atur.

Ujian kenaikan tingkat ke sabuk hitam DAN 1 biasanya di lakukan serentak dan peserta berasal dari berbagai daaerah yang ada di provinsi tersubut, bahkan juga ada yang bersal dari luar provinsi yang mengadakan ujian tersebut.

Untuk ujian penurunan KYU dari sabuk putih hinggga ke sabuk Coklat biasanya di lakukan di ranting/di sekolah yang mengadakan masing-masing dan pengujian dilakukan oleh sensei/ sihang yang memiliki wewenang untuk menguji.


Seni beladiri karate ini tidak mengenal usia, siapa saja boleh mengikuti walaupun dari tingkkat SD, SMP hingga ke perguruan tingggi, maka dari itu perkembangan beladiri karate ini banyak tersebar di sekolah-sekolah dan perguruan tingggi dan peminat beladiri karate ini sanggat banyak.

*Mahasiswa IAIN Pontianak
Bagikan:

OLAHRAGA

Komentar:

0 comments: