Mirisnya Kondisi Pendidikan di Desa Parit Tengah

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh : Arwiyani

Pendidikan adalah suatu hal yang mutlak bagi warga negara Indonesia. Pendidikan adalah jalan yan terbaik untuk meningkatkan taraf kehidupan sebuah generasi tak terkecuali di Indonesia. Dimana Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kemajemukan dalam berbagai dimensi kehidupan, baik strata sosio-kultur, politik, ekonomi, juga kondisi geografis dan topografi alamnya. Perbedaan yang dimiliki masyarakat bangsa Indoensia itu di suatu pihak menjadi  kebanggaan, tetapi di lain pihak menjadi penghambat dalam menjalankan roda pembangunan bangsa, khususnya pembangunan di dunia pendidikan. 

Pendidikan di Indonesia belum merata. Kesenjangan kualitas pendidikan antara di kota dengan di daerah terpencil masih tinggi. Masih banyak sekolah-sekolah di daerah terpencil yang masih belum mendapat  perhatian khusus dari pemerintah Indonesia seperti Desa Parit tengah Kecamatan Sungai Ambawang. Bangunan  sekolah  yang megah di perkotaan dengan  fasilitas sarana dan prasarana belajar mengajar  yang begitu lengkap  menjadi  hal  wajib. Akan  tetapi, semua itu  menjadi  hal  yang  langka  ketika  kita  membandingkan dengan  kondisi Pondok Pesantren Miftahul Huda Desa Parit tengahBerbagai masalah yang menghambat proses pendidikan di suatu daerah tersebut masih sering muncul. 

Masih kurangnya sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana ini meliputi gedung sekolah beserta isinya, peralatan-peralatan sekolah yang menunjang proses belajar mengajar di suatu sekolah, atau lembaga tempat belajar, dan kualitas tenaga didik. Selain itu terdapat beberapa masalah lainnya yaitu, distribusi tidak seimbang, insentif rendah, kualifikasi dibawah standar, guru-guru yang kurang kompeten, serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang ditempuh, penerapan kurikulum di sekolah belum sesuai dengan mekanisme dan proses yang standarkan. 

Permasalahan lainnya adalah angka putus sekolah juga masih relatif tinggi. Serta pola pembelajaran anak yang masih konvensional, sebab guru hanya menerangkan secara ceramah tanpa ada inovasi atau modifikasi sistem pembelajaran. Sehingga tidak ada fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar yang mereka lakukan, dan juga tenaga didik yang mengajar dengan ilmu yang seadanya. Kondisi tersebut menjadi  kondisi  yang  lumrah di daerah terpencil  tapi di satu sisi menjadi  hal  yang  tabu di perkotaan.  

Tak banyak yang mengetahui atau peduli dengan nasib pendidikan anak-anak di daerah Parit tengah. Banyak anak didesa tersebut yang bernasib malang karena tak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu. Semua kondisi dan masalah ril yang ada di daerah terpencil menjadi masalah bersama yang menggugah rasa nasionalisme kita untuk mengatasinya. Dalam perpektif ini rasa nasionalisme yang kita bangun terbentuk melalui kesadaran universal dari seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memberi prioritas bagi percepatan pelayanan pendidikan dan peningkat mutu pendidikan di daerah terpencil tersebut.

*Mahasiswa IAIN Pontianak                                              


Bagikan:

OPINI

PENDIDIKAN

Komentar:

0 comments:

close