Lihat Iklan

Kesenian Tari Kuda Lumping

Bagikan:

Oleh : Wiwin Kurniawati*

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya yang beraneka ragam, sebagai contoh dari adanya kebudayaan di Indonesia adalah kesenian tari kuda lumping. Kuda lumping adalah tarian tradisional jawa yang menampilkan sekompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda-kudaan yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak) dan ada juga yang terbuat dari anyaman bambu yang kemudian diberi motif atau hiasan dan direka seperti kuda. Selain itu kuda lumping juga identik dengan hal-hal magis. Kuda tiruan yang digunakan dalam tarian kuda lumping dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga masyarakat jawa menyebutnya sebagai jaran kepang.

Meskipun kesenian kuda lumping ini telah ada pada jaman kerajaan, namun kesenian kuda lumping ini masih eksis di daerah Jawa, dan masih mempunyai daya tarik tersendiri untuk membuat pada penonton terpikat yang tariannya diiringi suara gending yang sangat khas Jawa.
Dijawa tengah, kuda lumping sering dipertunjukkan apabila sedang ada acara hajatan seperti mantenan, khitanan, kaul dan juga acara ritual seperti sedekah bumu dan lain-lain. Kesenian kuda lumping masih menjadi tanda tanya, siapa yang mencetusnya? Dikarenakan tiap masing –masing daerah dijawa hamper semua memiliki kesenian kuda lumping yang bervarisi bentuknya, tapi itu semua bukan menjadi persoalan, karena kebudayaan di Indonesia itu cukup banyak dan kita harus bangga menjadi orang Indonesia yang kaya akan budayanya.

Dalam kesenian kuda lumping, menampilkan prajurit baerkuda yang pemainnya akan kesurupan, itu salah satu atraksi spiritual yang membuat pada penonton merasa deg-degan dan terpacu rasa penasarannya. Kesurupan biasa ditampilkan ketika para pemainnya sudah mulai kepanasan, badan berkeringat dan pikiran mulai buyar, dan khodamnya sudah mulai berkumpul dipertunjukan itu, lalu masuk ketubuh pemain kuda lumping hingga sipemain itu tidak sadarkan diri, dia bergoyang, sambil dicambuk, makan bara api, makan beling atau kaca, makan silet, bunga dan atraksi lainnya,  sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.

Sejarah Kesenian Kuda Lumping berasal dari daerah Ponorogo Jawa Timur. Menurut sebuah legenda, Raja Ponorogo selalu kalah dalam peperangan. Sang raja masygul dan gundah. Akhirnya ia pergi ke sebuah pertapaan. Ketika sedang khusu-khusunya memohon kepada Dewa Jawata Sang Marasanga, ia dikejutkan oleh suara tankatingalan. Suara itu ternyata wangsit dari Sang Jawata. Isinya apabila raja ingin menang perang, ia harus menyiapkan sepasukan berkuda. Ketika pergi ke medan perang, para prajuritpenunggang kuda itu diiringi dengan "bande" dan rawe-rawe.

Konon, bande dan rawe-rawe itu menggugah semangat menyala membabi buta di kalangan para prajurit penunggang kuda. Ketika bertempur mereka mabuk tidak sadarkan diri tapi dengan semangat keberanian yang luar biasa menyerang musuh­-musuhnya. Demikianlah dalam setiap peperangan para prajurit bergerak dalam keadaankalap dan memenggal kepala musuh-musuhnya dengan kekuatan yang tangguh. Akhimya. lasykar Raja selalu memperoleh kemenangan.
Untuk menghormati Dewa sang pemberi wangsit dan memperingati kemenangan demi kemenangan kemudian setiap tahun diadakan upacara kebaktian dengan suguhan acara berupa tarian menunggang kuda-kudaan yang menggambarkan kepahlawanan, sebagai suatu prosesi dari prajurit penunggang kuda yang kalap dan menyerbu musuh-musuhnya. Selanjutnya tarian menunggang kuda-kudaan itu berubah menjadi sebuah kesenian yang digemari masyarakat. Tarian itu kemudian diberi nama Kuda Lumping.

Dalam pementasannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para warok, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam bergaris merah dengan kumis tebal. Para warok ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih. Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe, dan pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.

*Mahasiswa IAIN Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close