Hubungan Spiritualitas dengan Kecemasan Usia Lansia

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Megawati

Kecemasan adalah perasaan khawatir yang tidak jelas dan sering dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan atau memperingatkan seseorang akan adanya bahaya yang mengancam. 

Kecemasan pada lansia disebabkan oleh berbagai sumber, seperti ancaman terhadap integritasi fisik yang mengakibatkan ketidak mampuan fisiologis seseorang untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan ancaman terhadap self esteem yang dapat merusak identitas diri dan integritas fungsi sosial. 

Kecemasan yang tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan beberapa dampak, yaitu cendurung memiliki penilaian negatif tentang makna hidup, perubahan emosional dan gangguan psikosa. Kecemasan akan berakibat pada gangguan pendengaran, kesulitan mengingat dan sosial emosional.

Meningkatnya jumlah lansia akan mengakibatkan kecemasan pada lansia juga semakin meningkat. Prevalensi kecemasan pada dewasa dan lansia di dunia pada sektor komunitas berkisar antara 15 sampai dengan 52,3%. 

Kecemasan bisa dialami oleh seluruh kalangan usia, namun pada realitanya lansia lebih sering mengalami kecemasan. Kecemasan dipicu oleh peurunan fungsi baik secara biologis maupun psikologis. Prevelensi kecemasan di indonesia pada lansia meningkat mulai dari 3,2 % menjadi 14,2% dan semakin meningkat 3,5% pertahun. 

Kecemasan yang meningkat sudah seharusnya menjadi perhatian khusus bagi semua orang. Kecemasan akan mengakibatkan masalah kesehatan seperti asma, artritis, sakit kepala, tukak lambung, dan penyakit jantung yang disebabkan oleh ketegangan yang tidak pernah usai dan kecurigaan yang tidak putus-putus. 

Kecemasan dapat diekspresikan melalui resspon fisiologis, yaitu tubuh memberi respon dengan mengaktifkan sistem saraf otonom (simpatis maupun parasimpatis). Sistem saraf simpatis akan mengaktifasi respon tubuh, sedangkan sistem saraf parasimpatis akan meminimalkan respon tubuh. 

Respon tubuh terhadap kecemasan adalah reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar, bila korteks otak menerima ransang akan dikirim melalui saraf simpatis ke kelenjar adrenal yang akan melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) yang meransang jantung dan pembuluh darah sehingga efeknya adalah nafas menjadi lebih dalam, nadi meningkat dan tekanan darah meningkat atau hipertensi.

Analisa Univariat
Karakteristik responden pada penelitian ini terdiri dari usia lansia 60-70. Karakteristik menggambarkan karakteristik demografi responden yang mengalami kecemasan.rata-rata usia 63 tahun.

Data menunjukkan tingkat pendidikan dan status perkawinan berhubungan dengan kecemasan menggunakan analisa spearmen tingkat pendidikan.

Hasil di atas sejalan dengan penelitian yang menggambarkan bahwa individu dengan pendidikan tingkat rendah hanya 14,5% yang mempunyai tingkat pengetahuan yang rendah pula terhadap kecemasan, dibandingkan dengan individu yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi sebanyak 50,5% mempunyai pengetahuan yang lebih baik mengenai kecemasan. 

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pasien dengan resiko terkena kecemasan berdasarkan tingkat pendidikan sangatlah berpengaruh terhadap pengetahuannya semakin tinggi pendidikan semakin baik untuk pengetahuannya terkait dengan penyakit kecemasan dan berbanding terbalik terhadap pasien dengan tingkat pendidikan rendah akan mempunyai penyetahuan yang rendah pula mengenai kecemasan sehingga mempengaruhi seseorang beresiko terkena kecemasan. 

Faktor – faktor yang menyebabkan depresi tingkat ringan dan cemas pada lansia yang tinggal di panti sosial adalah dikarenakan beberapa faktor yang kemudian menimbulkan beberapa gejala depresi, faktor-faktor tersebut antara lain berkurangnya interaksi sosial, kesepian, masalah sosial ekonomi dan masalah kepribadian, sedangkan gejala yang timbul adalah seperti adanya gejala secara fisik seperti sedikit kehilangan selera makan, kurangnya tidur, kecemasan, kurangnya aktivitas atau aktivitas yang menurun dan gejala secara psikis seperti hilangnya rasa percaya diri dan sensitif. 

Penelitian internasional memiliki prevelensi yang berbeda tentang kesepian. Walaupun lansia yang dilaporkan semakin kecil, tapi memiliki kemungkinan bahwa prevelensi lansia yang mengalami kesepian tidak akan turun setelah usia mencapai 60 tahun.

Analisa Bivariat
Ada hubungan spiritualitas dengan kecemasan lansia. Hasil analisis p value 0,000 dan pearson correlation -,875 yang berarti ada hubbungan antara sipritualitas dengan kecemasan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang memaparkan bahwa spiritualitas berhubungan dengan menajemen kecemasan. Spiritualitas dalam berbagai agama terbukti dapat menurunkan kecemasan seseorang.

Memaparkan hasil yang sama dengan judul spiritual care membaca doa dan zikir terhadap kecemasan pasien pre operasi seksio sesario.

Penelitian ini menyatakan spiritualitas memiliki pengaruh terhadap kecemasan. Semakin baik spiritualitas maka semakin rendah tingkat kecemasan.

Spiritualitas yang terpenting adalah membangun kebaikan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan. Spiritualitas sangat penting kerena mempengaruhi tingkat kecemasan yang di hadapi sewaktu-waktu bagi lansia yang merupakan tahap akhir siklus hidup manusia. 

Penyebab kecemasan pada lansia adalah kurangnya lansia mendekatkan diri kepada Tuhan dan membatasi pergaulan dengan individu lain dan lebih mementingkan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Penelitian tentang tingkat kecemasan dengan cara meningkatkan spiritualitas bermanfaat bagi keluarga dan lansia dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan bergaul dengan individu lain.

*Mahasiswi IAIN Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close