Tugas Berat untuk Pemuda Sebagai Pengawas dalam Pemilu

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Arrum Aura Islami*

Pergantian Camat, Kepala Daerah, anggota Dewan, bahkan Presiden selalu menjadi peristiwa yang hangat untuk dibicarakan bahkan tidak hanya di warung kopi. Suasana menjadi heboh, marak, bahkan kericuhan pun sering terjadi akibat ulah pemilu, entah apa hal yang mendasari semua ini. Paradigma perebutan kekuasaan pun tidak boleh sepenuhnya disalahkan oleh kaum intelek, karena aspek itu akan selalu ada walaupun sering kali ditutup-tutupi. Setiap calon selalu berorasi dan mengumandangkan janji-janji manis walaupun masih dipertanyakan pemenuhannya. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh oknum-oknum tim sukses saja, tetapi suara kericuhan dari rakyat pun tak kunjung kalah.

Pada hakikatnya kita tau siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi kebanyakan orang sanggup penutupi kebenaran dan bahkan berani membenarkan hal yang seharusnya  salah hanya karena sesuap nasi. Inilah kondisi miris yang sedang terjadi di negeri ini. Tapi kebenaran tetaplah kebenaran,  kebenaran akan selalu diperjuangkan, dan kebenaran akan selalu terbukti. Walaupun banyak orang yang memilih membisu, tetapi ada saja pahlawan yang berani menyuarakan kebenaran meskipun nyawa jadi taruhannya. “Banyaknya kejahatan bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orang baik yang memilih diam”, inilah yang dapat menggambarkan kondisi yang sekarang ini sedang terjadi.

Lantas mucul pertanyaan pada benak kita yaitu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita hanya berdiam dan menunggu nasib baik, menunggu datangnya pemimpin baik tanpa ada usaha apapun? Tidak, sebagai pemuda tidak sepantasnya melakukan hal seperti itu, pemuda harus bertindak dan bergerak karena pada hakikatnya setiap pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk memikirkan nasib bangsa ini.

Tetapi hal yang sangat mengecewakan adalah ketika pemuda saat ini mulai tidak peduli dengan bangsa ini, mereka cenderung apatis,egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Berlomba-lomba meraih penghargaan, hadiah, gelar, penghormatan tanpa memperhatikan dan memikirkan kondisi orang-orang yang ada disekitar. Sulitnya mencari pemuda yang peduli dengan orang-orang sekitarnya, peduli dengan bangsanya, dan pemuda yang menangis ketika kebenaran sudah mulai tidak ditegakkan. Entah apa yang mendasari hal itu, sungguh sulit untuk dipikirkan.

Walaupun kondisi sedemikian rumit, cahaya di tengah kegelapan tetap selalu ada. Masih ada pemuda yang peduli dengan bangsanya, pemuda yang menangis ketika kebenaran dilanggar, dan pemuda yang mencita-citakan Indonesia menjadi negara maju. Ya, itulah pemuda cemerlang, kekuatan terbesar bangsa, selalu memandang ke arah depan. Sebagai pemuda sepatutnya kita harus peduli dengan apa yag sedang terjadi di negeri ini, apapun yang sedang terjadi kita harus turut terlibat. Salah satu keadaan yang dimana pemuda itu harus terlibat adalah ketika pemilu.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa pada masa-masa pemilu suasana menjadi panas, perang pemikiran bertebaran dimana-mana, isu-isu politik selalu diperbincangkan, perdebatan selalu terjadi. Ada dua pilihan pada diri kita, yaitu ikut ke dalam keadaan tersebut atau lebih memilih untuk berpikir kritis dan memikirkan nasib bangsa kedepannya.

Pemuda harus berwawasan luas karena kemajuan dan kehancuran bangsa tergantung padanya, sebagai agent of change atau subjek pengubah keadaan,dan ketika melihat keadaan yang sedang terjadi sekarang mampu memberikan solusi. Pemuda sebagai sosok pengawas adalah tugas yang pantas diemban oleh seorang pemuda terutama dalam hal pemilu, yaitu harus bersedia menjadi pelopor pemilu bersih, penegak kebenaran, dan berani bertindak ketika ada kecurangan-kecurangan yang terjadi.

Harus diakui bahwa tugas dari seorang pengawas adalah tugas berat dan beresiko besar, tetapi siapa lagi yang akan melakukan ini kalau tidak pemuda. Tidak mudah tertipu oleh kata-kata manis yang dilontarkan oleh oknum-oknum adalah kondisi pemuda pada idealnya.
Menurut hasil Susenas pada tahun 2017 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 63,36% juta jiwa,  24,27% diantaranya adalah pemuda atau dapat diperkirakan 1 dari 4 orang manusia Indonesia adalah pemuda. Oleh karena itu, pemuda dijadikan sebagai objek kampanye dari pemilu, karena partisipasi dari kamu muda memang sangat menentukan nasib dalam proses pemilu tersebut.

Hal itu boleh-boleh saja, tetapi banyak pemuda yang mudah sekali percaya dengan apa yang didengar tanpa pertimbangan lebih lanjut. Mempercayai tanpa pertimbangan yang matang adalah kelemahan dari pemuda, mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman dari pemuda tersebut. Fakta tersebut jangan dijadikan kelemahan bagi kita tetapi dijadikan sebagai media evaluasi dalam proses pembelajaran, agar semangat untuk terus belajar bagi para pemuda selalu bergejolak.
Pemilihan umum 2019 mendatang adalah pemilihan umum yang dilaksanakan serentak dan pastinya akan menjadi hal yang sangat rumit bagi pemilih. Ada lima kertas yang harus dicoblos yaitu Presiden dan Wakilnya, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Partisipasi pemuda dalam pemilu mendatang adalah dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak golput. Memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa satu suara sangat berharga dan sangat menentukan nasib Indonesia ke depannya.

Tidak hanya itu, pemuda juga harus menjelaskan kepada masyarakat mengenai ketentuan dan larangan ketika masa-masa pemilu, termasuk aturan berkampanye yang banyak sekali terjadi pelanggaran.
Pemilu adalah sarana penunjang dalam mewujudkan sistem ketatanegaraan secara demokratis. Sesuai dengan pasal 1 ayat (2) yang berbunyi “kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”, oleh karena itu pemilu pada hakikatnya merupakan proses ketika rakyat sebagai pemegang kedaulatan memberikan mandat kepada para calon pemimpin untuk menjadi pemimpinnnya.

Indonesia adalah negara demokratis, sehingga pemilu menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Integritas penyelenggaraan dan proses penyelenggaraan pemilu adalah prasyarat penting agar hasil pemilu mendapat legitimasi dari rakyat dan peserta pemilu, hal ini dapat dilihat dari adanyan asas luber dan jurdil (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil). Asas penyelenggaraan pemilu tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh seluruh komponen masyarakat. Tetapi masih saja sering terjadi pelanggaran dalam penerapannya, inilah yang menjadi tugas dari pemuda untuk mengsosialisakikan arti sesungguhnya dari asas tersebut kepada masyarakat.

Rakyat secara keseluruhan tidak boleh hanya dianggap sebagai pemilih saja tetapi juga dilibatkan sebagai pengawas dari proses pemilu, untuk menjamin proses pemilu yang demokratis dan akuntabel. Meskipun pada dasarnya yang bertugas sebagai pengawas proses pemilu adalah Badan Pengawas Pemilu  (Bawaslu) secara institusional, tetapi keterlibatkan rakyat dalam proses pemilu akan lebih mendorong penguatkan sistem pengawasan itu sendiri. Ini dilakukan pastinya memiliki dasar, yaitu tidak semua hal bisa diawasi oleh Bawaslu, peran masyarakatlah yang sedang dibutuhkan untuk melakukan pengawasan di lingkungan-lingkungan sekitarnya.

Minimnya kaum muda yang berminat untuk menjadi pengawas pemilu adalah alasan mendasar terciptanya tulisan ini. Pada kondisi idealnya, seharusnya kaum mudalah yang harus lebih banyak menjadi pengawas dalam proses pemilu dengan alasan bahwa anak muda mudah dibentuk. Zaman yang selalu berubah, ke depannya kita akan beralih ke penggunaan IT. Kehadiran pemuda dijadikan sebagai objek pengembangan sistem yang ada agar pengawasan semakin tinggi.

Bisa membaca keadaan adalah salah satu tuntutan pribadi bagi diri kita semua, memiliki wawasan luas adalah kekuatan bagi diri pemuda. Ketika gejolak-gejolak politik mulai memanas, ketika masa-masa pemilu sebentar lagi, pemuda seharusnya menjadi pengawas.

Menjadi pengawas maksudnya adalah selalu memperhatikan kondisi Indonesia, kejadian-kejadian yang terjadi harus selalu dipantau. Pemuda sebagai pengawas harus bertindak sesuai dengan garis kebenaran, dan berani bertindak ketika kebenaran sudah mulai dilanggar. Walaupun berani bertindak ketika kebenaran dilanggar, tetapi keselamatan harus tetap diutamakan. Artinya strategi juga harus dilakukan untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Itu semua dilakukan agar pemilu bersih dan sehat dapat terealisasi di Indonesia, dan agara pemilu 2019 bisa lebih baik dari pemilu 2014. Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk mengawasi jalannya pemilu, menegakkan kebenaran, mengedepankan asas luber dan jurdil, agar suara hati rakyat bisa diperjuangkan.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: