Terjungkal dalam Ketidakberfaedahan: Sebuah Realita Nyata Akhir Zaman

Bagikan:
Ilustrasi/Net

Oleh: Haidar Ramananda


Terlalu banyak hal-hal yang tak berfaedah!. Tetapi justru hal yang tak berfaedah itu yang selalu diburu. Ia tak pernah ditinggalkan, meskipun sedetik. Heran saja, sudah jelas tampak tak berfaedah bagi orang-orang yang rasional, tetapi sedetik pun tak pernah di tinggalkan, belum lagi jika satu jam?. Atau  sehari? Seminggu? Mungkin mereka akan merasa menjadi abu.

Faedah sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa arti yakni; Guna, manfaat, sesuatu yang menguntungkan, untung, atau laba. Dengan pengertian ini dapat dikatakan bahwa faedah merupakan suatu bentuk kata dengan tambahan atau imbuhan ber- yang disisipkan diawal kata hingga dapat menggambarkan suatu hal positif yang artinya; bermanfaat, berguna dll.

Beberapa orang berdebat dengan landasan teori yang tepat, tanpa mempertimbangkan praktek. Beberapa orang menghayal tentang masa depan yang indah dengan gagasan-gagasan yang gagah,, tapi nihil perintah. Beberapa lainnya berfilsafat dengan kuat hingga serasa bergulat sampai-sampai meninggalkan mandat dan amanat.

Tak mampukah mereka membedakan mana yang berfaedah, mana yang tidak ada faedahnya?. Saya pikir mereka mampu. Hanya saja untuk praktek mereka tak tau, atau bisa jadi tak mau?. Mungkin, Hanya Tuhan Yang Maha Tau. Benar hanya Tuhan, tapi akan kah kita pasrah tanpa bersusah payah.

Berbicara tentang Tuhan, banyak ideologi tentang ketuhanan. Banyak juga yang mempertanyakan, dan memperdebatkan tentang Tuhan. Dimana Tuhan?. Siapa Tuhan?, tetapi kewajiban yang diperintahkan Tuhan tak diindahkan. Panduan yang diberikan Tuhan diabaikan!. Masihkah manusia memiliki muka dihadapan Tuhan?

Mereka gundah gulana, bermuram durja, sebab apa?. Buya Hamka menjawab dengan berkata, “Sebab merasa ada yang hilang. Yang dicari tak dapat. Yang diingini terlalu dekat. Orang telah dahulu pergi, ditunggu-tunggu juga. Sedang yang belum datang ditungkasi”.

Memang orang yang memiliki karakteristik adalah orang yang berkepribadian kuat, tapi akankah ini yang menjadi karakteristik kita? Yang pandai berorasi tanpa aksi. Berdialektika tanpa kerja.

Mudah jika hanya berkata, semua pun bisa, terserah dari kalangan usia mana. Terserah pekerjaannya apa, yang penting bisa berkata-kata. Terkadang kita terlalu sibuk berkutat dengan permainan kata, sampai bahkan tak tahu makna apa yang terkandung dalam kata-kata ucapan kita.

Lebih mudah jika hanya mengkritik, sangat mudah karena hanya tinggal menilai suatu hal. Kemudian Kita paparkan apa kekurangnnya, apa yang mesti diperbaiki. Itu intinya. Tetapi karena asyik menilai kita lupa untuk menghargai, karena sesungguhnya antara kritik dan penghargaan sama tingkatannya. Tetapi beda dampaknya. Hans Selye seorang psikolog berkata, “ Kehausan kita pada pujian sama besarnya dengan ketakutan kita pada kritik”.

Semua itu perlu keseimbangan tak bisa salah satunya dikesampingkan. Karena tukang kritik memang selalu menjadi sosok antagonis, untuk itu pemberi penghargaan sangat diperlukan, sebagai sosok protagonis.

Terlalu asik mengkritik orang lain, sampai melupakan kekurangan pribadi. Lucu jika seorang motivator justru yan menjadi destructor, dari segi perilaku dan perbuatan.

Bahkan Al-Quran bertuliskan, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Wahai kaum yang menginginkan masyarakat adil, masyarakat makmur sejahtera, pemerintahan yang wibawa, pemimpin yang bijaksana. Niatmu baik, keinginanmu bagus tapi tak cukup dengan hanya merenung dan memperhatikan, tak cukup dengan mengkritik tanpa memberi solusi.

Wahai kaum yang apatis akibat kecewa, karena ekspektasi berlebih yang kau rasa tak terpenuhi. Mungkin kalian telah menemui dan ditabrakkan dengan begitu banyak ketidakadilan. Perasaanmu telah melakukan yang  terbaik. Tetapi dunia tak membalas jasamu itu. Sekarang yang perlu diingat adalah bukan hasil yang perlu kita jadikan orientasi. Tetapi proses jauh lebih penting daripada hasil. Usaha lebih penting. Ikhtiar lebih penting. Biar Yang Maha Kuasa yang menilai.

Sangat berfaedah apabila usaha, kerja, praktek, serta segala amal positif yang diperbuat dilakukan dengan ikhlas, dan selalu bersyukur atas hasil apapun yang diperoleh. Tetapi kenyataannya memang lain. Jika ikhlas maka tak dapat popularitas, hal inilah yang menjadi realita. Ketika kaum-kaum yang melakukan sesuatu dengan tulus dan kesungguhan hati serta ikhlas yang tertanam dalam hati, justru tak disoroti. Sebab apa? Sebab ikhlas itu tak tampak, dan tak berhak untuk ditampakkan. Akhirnya betul-betul tidak ada yang memperhatikan.

Padahal inilah yang sangat berfaedah. Memang dunia ini sudah terbalik sangat terbalik, bahkan mungkin terjungkal, tersungkur. Akhir zaman semakin dekat, serasa sangat dekat. Tanda-tandanya mulai nyata akurat.

Tak bisa diragukan lagi, inilah kenyataannya. Hal yang berfaedah tampak tak berfaedah hingga ditinggalkan. Hal tak berfaedah tampak sangat asyik dan cantik, hingga dirasa sangat menarik. Hati pun tak mampu menahan, masuklah kedalamnya dan tak mampu lagi membeda-beda. Akhirnya bingung dan bimbang terjerumus pada jurang kesesatan yang absurd dan abstrak terkesan tak kasat mata, tetapi ada.

Pilihannya hanya dua, diam dan ikut arus, agar menuai sukses yang yang dianggap bagus. Atau berusaha berjuang melawan tanpa henti dengan risiko mati.
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: