Lihat Iklan

Suksesnya Pemilu 2019

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Fikri Fadilah*

Indonesia sebentar lagi akan menyelenggarakan sebuah pesta demokrasi rakyat. Pesta demokrasi atau yang dikenal dengan pemilu sangat ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia terutama dikalangan anak muda karna pemilu sendiri hanya diadakan lima tahun sekali. Pemilu sendiri menjadikan anak muda lebih kritis terhadap pemikirannya. Anak muda sangat berkaitan erat dengan sesuatu hal yang menyangkut dengan politik. Seringkali kita lihat di media massa banyak anak muda yang berperan aktif terhadap sesuatu hal yang menyangkut dengan politik. Mengapa demikian apakah anak muda adalah kunci utama dalam suksesnya pemilu 2019 nantinya?

Pemuda atau yang sering dikenal dengan generasi milennial adalah sekumpulan anak muda yang pada saat ini rata-rata usianya mencapai 17-38 tahun karena lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Generasi milennial sangat banyak jumlahnya jika dipersentasekan sekitar 30% dari total pemilih yang ada di Indonesia. “Jika dilebarkan menjadi usia 17-38 tahun, maka jumlah pemuda meningkat hingga 55%”. Menurut ketua umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Generasi milennial adalah generasi yang dikenal dengan sikap apatisnya, akan tetapi jika berhubungan dengan politik generasi milennial akan menuangkan dan menyampaikan pikiran pendapatnya secara kritis meskipun terkadang tanpa memikirkan kebenarannya.

Hal tersebut saya alami ketika saya berdiskusi bersama teman-teman saya. Mereka yang sangat apatis terhadap lingkungan sekitarnya berubah menjadi kritis ketika berbicara mengenai politik terutama yang menyangkut tentang pemilu 2019. Hal ini sangat berpengaruh positif bagi bangsa dan negara karena generasi milennial sangat dibutuhkan suaranya dalam pemilu nantinya. Generasi milennial adalah generasi yang akan memegang kunci suksesnya pemilu 2019. Generasi milennial akan sangat berguna untuk perubahan bangsa dan negara meskipun masih ada sebagian pemuda yang pikirannya apatis.

Pemilu adalah saat yang tepat bagi masyarakat Indonesia untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin bagi bangsa. Masyarakat terutama pemuda sangat diharapkan untuk menggunakan hak pilihnya. Hak pilih tersebut seharusnya digunakan dan dimanfaatkan oleh pemuda untuk memilih pemimpin yang akan memimpin Indonesia dan untuk memilih wakil rakyat selama lima tahun kedepan. Bukan hal yang mudah bagi Indonesia untuk menjadi lebih baik jika para pemuda tidak menggunakan hak pilihnya. Peran pemerintah sangat penting. Pemerintah harus terus mensosialisasikan jika satu suara generasi milennial dapat merubah keadaan Indonesia. Penekanan ini penting agar generasi milennial sadar akan hak pilihnya.

Salah satu tujuan penyelengaraan pemilu adalah untuk memperkuat sistem ketatanegaraan yang demokratis. Pada pemilu 2019 diprediksi akan menjadi pemilu yang paling rumit didunia. Karena pemilihan presiden dan wakil presiden akan disatukan dengan pemilihan legislatif. Pada pemilu 2014 KPU hanya menyediakan empat kotak suara sedangkan pemilu 2014 KPU menyediakan lima kotak suara. Hal ini  menyebabkan pemuda akan bingung dalam menggunakan hak pilihnya. Pendidikan ataupun pendekatan politik sangat penting untuk diberikan kepada anak muda. Pendidikan atau pendekatan politik dapat diberikan melalui media sosial karena yang kita tahu generasi milennial sangat erat hubungannya dengan teknologi. Pendekatan ini sangat berguna untuk menjadikan pemuda sebagai pemilih yang cerdas dan berintegritas.

Pemimpin yang baik bukan lahir karena kapasitas, kapabilitas dan integritas dari individual pemimpin tersebut. Akan tetapi, pemimpin yang baik lahir akibat pemilih yang cerdas yang tentu saja sesuai dengan makna demokrasi tanpa memandang ras, suku, agama dan isu SARA. Pemuda harus cerdas dalam menggunakan hak pilihnya dengan melihat rekam jejak calon pasangan yang akan dipilihnya. Hal tersebut sangat berguna agar Indonesia dapat dikenal dengan pemilu yang rasional demi tercapainya kepemimpinan yang diinginkan.

Pemimimpin dan pemilih harus sama-sama berintegritas. Selain berintegritas pemimpin dan pemilih juga harus berkualitas. Mengingat kualitas pemimpin yang menjadikan pertimbangan bagi pemilih untuk menggunakan hak pilihnya. Pemimpin yang berkualitas harus menyampaikan visi dan misinya agar pemilih terutama anak muda menggunakan hak pilihnya dengan sungguh-sungguh dan yakin. Jika pemimpin dan pemilih sama-sama cerdas dan berintegritas maka tercapailah pemilu yang berkualitas.

Penyelenggara Pemilu seperti Komisi Pemilihan Umun (KPU), Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) harus bersikap netral agar pesta demokrasi tersebut tidak ternodai. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat diharapkan dapat mewujudkan pemilu yang berkualitas dalam mengontrol dan mengawasi jalannya kampanye hingga ditetapkan hasil penghitungan suara. Pemilu 2019 harus menjadi pemilu yang berkualitas. Mengingat pemilu 2019 berbeda dengan pemilu 2014. Pemilu 2019 sangat sensitif terhadap isu-isu yang menyinggung tentang ras, suku dan agama.

Isu-isu SARA sangat sering terjadi menjelang pemilu. Pemuda harus cerdas dalam menyaring berita-berita politik yang ada untuk mengindari hoax. Pemuda harus berperan aktif menjadi bagian dari pengawasan pemilu 2019. Hal ini dikarenakan banyak pemuda yang menjadi objek tujuan dari kampanye-kampanye gelap.

Pemuda harus bisa memilah dan memilih berita yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Pemuda harus peka terhadap sekitarnya. Pemuda harus pintar dalam menanggapi dan menyikapi pendapat yang berbeda. Pemuda harus memiliki pemikiran yang kritis terhadap politik. Karna pemuda adalah bagian dari Agent of Change. Agent of Change adalah orang-orang yang berindak demi sebuah perubahan yang lebih baik dengan melakukan suatu tindakan yang positif.

Jadi, pemuda adalah kunci suksesnya sebuah pemilu. Pemuda adalah peran penting dalam kesuksesan pemilu 2019. Jumlah pemuda yang banyak adalah salah satu faktornya. Pemuda adalah generasi bangsa yang satu suaranya saja dapat merubah suatu hal yang mungkin signifikan. Pemilu 2019 akan menjadi sebuah pesta rakyat terbesar yang pernah ada.

Pemuda harus memanfaatkan hal tersebut untuk mendapatkan sebuah perubahan. Mengutip kutipan dari Najwa Shihab “Berpolitik jadi sebuah pilihan yang mesti dipertimbangkan bagi siapapun yang menghendaki perubahan. Karna perubahan tak datang tiba-tiba hanya berkat doa ditengah malam buta”.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close