Sosok Pemilih Pemula

Bagikan:
Ilustrasi/Net

Oleh: Muhammad Fiqri Kurniawan*

Indonesia adalah negara dengan sistem pemerintahan demokrasi yang dimana warga negara memiliki hak untuk ikut serta dalam pengawasan jalannya pemerintahan. Warga negara Indonesia berhak memilih para wakilnya di pemerintahan dengan cara pemilu atau pemilihan umum yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk sebagai bukti negara Indonesia adalah negara dengan sistem demokrasi yaitu pemerintahan dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat.

Pelaksanaan pemilu dilaksanakan sebagai bukti bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilaksanakan sesuai, Pasal 1 dan 2 Undang–Undang Dasar 1945. Pelaksanaan pemilu merupakan suatu bentuk partisipasi politik yang terjadi di masyarakat karena partisipasi politik adalah keikutsertaan warga negara dalam kegiatan yang legal dalam kehidupan politik untuk ikut serta mempengaruhi keputusan pemerintahan dan ikut serta memilih wakil-wakil rakyat dikursi pemerintahan.

Pemilu juga merupakan kehendak rakyat atau keinginan rakyat agar ada perubahan dalam proses pemilihan pemimpin melalui pemilu dengan sistem yang lebih baik dan terbuka baik dalam pemilihan presiden maupun kepala daerah. Tiap pelaksanaan pemilu pasti akan terdapat pemilih pemula yang baru pertama kali mengikuti atau memiliki hak mereka hak pilih untuk ikut serta dalam pelaksanaan pemilu baik itu pemilu presiden ataupun pemilihan kepala daerah.

Siapa pemilih pemula itu, dimana mereka, bagaimana orientasi mereka,bagaimana pola preferensinya? Berbagai pertanyaan ini penting melekat dibenak para peserta pemilu agar menjadi sumber perolehan suara di pemilu mendatang. Maka, mengenali sosok pemilih pemula menjadi penting bagi peserta pemilu.
Secara konseptual, pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali mengunakan hak pilihnya. Diprediksi jumlah pemilih pemula usia 17-30 tahun berjumlah 30 persen dari total data pemilih di Indonesia. Jika diperkirakan pemilih sekitar 180 juta pemilih maka sekitar 50-60 juta  adalah pemilih pemula. Jika diprediksi pemilih di kota A ada sekitar 290 ribu pemilih, maka ada sekitar 30-40 ribu pemilih pemula. Dapat dipastikan para pemilih pemula  dinilai berkontribusi besar bagi hasil pemilu Tidak keliru jika dikatakan, para pemenang pemilu mendatang akan disokong oleh mereka yang disebut sebagai pemilih pemula ini.   

Umumnya pemilih pemula adalah pelajar SMU tingkat atas (kelas 12) atau mahasiswa semester awal. Tipikal mereka adalah rasional, idealis dan kritis. Yang menjadi ciri menonjol pemilih pemula adalah kedekatan mereka dengan teknologi informasi. Sebagian besar mereka melek teknologi informasi dan akan mengakses informasi termasuk informsai politk melalui media tersebut. Minat mereka juga cenderung dengan hal-hal baru yang lebih menjanjikan di masa depan. Mereka juga bukan tipikal pengemar kemapanan.

Namun mendekati pemilih pemula ini bukan perkara mudah. Sedikitnya ada 3 penjelasan terhadap hal tersebut. Pertama pemilih pemula akan cenderung dinamis dalam berpikir dan bertindak. akibatnya, amat sulit bagi peserta pemilu melihat tren yang sedang berkembang di komunitas pemilih pemula. Hal ini memicu kebingungan yang dalam bagi peserta pemilu untuk mendekati mereka. Kedua, pemilih pemula cenderung ingin tahu lebih banyak terhadap kehidupan politik meskipun disaat yang sama, mereka cenderung berpikir skeptis terhadap politik. Implikasinya, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan metode yang berbeda dibandingkan dengan pemilih yang bukan pemilih pemula. Ketiga, Pemilih pemula juga merupakan pemilih yang ekslusif sehingga tidak mudah  terjangkau oleh program dan pendekatan dari partai politik. Hal ini tercermin dari beragamnya komunitas yang di bentuk oleh pemilih pemula. Resikonya, para peserta pemilu akan mengeluarkan  biaya tidak sedikit untuk mendapatkan simpati dari pemilih pemula.

Disinilah tantangan yang harus dihadapi oleh peserta. Kejelian dan keberanian untuk mencoba hal yang baru dalam kampanye menjadi faktor penting bagi peserta pemilu menghadapi para pemilih pemula. Kesiapan untuk melakukan berbagi pertemuan terbatas bagi siswa SMA dan para mahasiswa baru dengan menyuguhkan materi yang mampu menggugah minat mereka patut untuk dicoba. Atau juga kemampuan untuk membuat dan menyebarkan leflet atau bahan kampanye lainnya  yang unik dan berbeda kepada pemilih pemula harus menjadi prioritas. Bahkan kesiapan mengelar dialog dan debat tentang materi yang sedang menjadi fokus remaja tidak kalah penting untuk menjadi alternatif mendekati pemilih pemula. Intinya, kesiapan peserta pemilu untuk berpikir out of the box.

Pada saat kampanye, peserta pemilu seharusnya tidak lagi melihat pemilih pemula hanya sebagai pelengkap kesuksesan dalam pemilu mendatang. Sudah saatnya peserta pemilu lebih fokus terhadap pemilih pemula. Jadikan mereka obyek politik sehingga mereka menjadi tertarik terhadap politik dan pemilu pada khususnya. Momentum dimulainya masa kampanye ini, peserta pemilu harus perlahan-lahan mampu mengambil hati pemilih pemula dengan menggelar metode kampanye yang sesuai dengan karakter, minat dan kecenderungan pemilih pemula itu sendiri.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: