Regenerasi Pemuda, Politik, dan Idealis dalam Antena Pemilu 2019

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh : Afifa Ardelia*

Indonesia adalah sebuah negara besar ke-4 dengan populasi penduduk yang begitu melimpah dan semakin menanjak drastis. Terbukti pada tahun 2020 nanti diprediksikan Indonesia akan mendapatkan bonus demografi besar - besaran hingga 2036. Menjadi negara dengan kompleksitas budaya, agama, sosial, dan berbagai adat yang beragam membuat Indonesia berada dalam zona generasi kritis dan idealis dalam beberapa tahun kedepan. Dengan berada di area yang sulit dan kuat ini, Indonesia membutuhkan kekuatan terbesar demi tercapainya negara yang hendak dicapai. Makmur, jaya, dan bermartabat di kalangan negara lainnya adalah wujud dari revolusi mental negara Indonesia. Di Titik inilah pemuda bangsa harus unjuk gigi untuk memberikan sedikit cahaya menghiasi lampu lampu negara kita, Indonesia.

Pemuda merupakan generasi muda yang sangat berpengaruh untuk proses pembangunan bangsa Indonesia. Pemuda juga  salah satu elemen bangsa yang telah memiliki pengaruh besar dalam sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Di zaman penjajahan ada peristiwa Sumpah Pemuda yang mampu menyatukan seluruh anak bangsa dalam satu kesatuan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia, serta zaman kemerdekaan dimana Soekarni dan para pemuda lainnya yang  menculik Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Masih banyak lagi tokoh – tokoh pemuda yang lain yang dengan perjuangannya sebagai bukti bahwa pemuda pada dasarnya memegang peranan penting untuk keberlangsungan dan kemajuan sebuah peradaban, negara, komunitasnya, ataupun mempertahankan NKRI dari sabang hingga merauke.

Pasca kemerdekaan Indonesia, para pemuda tidak pernah terlepas dalam aksi nyata suatu perubahan dalam peran sosial, politik dan yang lainnya, contohnya di masa orde lama yaitu pada tahun 1966, para pemuda menyerahkan Tritura yaitu tiga tuntutan kepada pemerintah yang diserukan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Ada juga tokoh pemuda di tahun 60’an, dialah seorang Soe hok Gie yang juga tokoh yang kritis terhadap pemerintahan di masanya, dengan semangat revolusionernya mampu memberikan dampak positif dengan menebarkan semangatnya kepada pemuda – pemuda masa itu, bahkan sampai masa kini. Dan yang paling mengguncang viabilitas Indonesia pada era reformasi tahun 1998 yang mampu membuka kran demokrasi yang selama kurang lebih 32 tahun tersumbat oleh rezim orde baru.

Beberapa deretan peran pemuda hebat pada masa lalu telah menjadikan lukisan sejarah panjang bangsa Indonesia yang bisa dijadikan rujukan semangat atau motivasi bagi pemuda masa kini. Berangkat dari deretan peranan pemuda dalam sejarah panjang bangsa Indonesia di atas, menarik bagi kita untuk mengamati peranan pemuda saat ini, khususnya dalam ruang politik.

Tidak bisa dipungkiri masyarakat yang cenderung kritis berusaha berperan aktif dalam jalannya lingkaran politik tak terkecuali pemuda yang merupakan salah satu elemen masyarakat yang juga memiliki kesempatan besar dan terbuka untuk terlibat dan berperan penuh dalam Pemilu. Tidak hanya menjadi pemilih atau kontestan dalam kompetisi perebutan jabatan politik tetapi juga menjadi pemantau ataupun penyelenggara jalannya pesta demokrasi itu sendiri.

Pemilu sendiri untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1955  pada masa pemerintahan Soekarno yaitu memilih anggota DPR dan Konstituante. Setelah ditinggal oleh Soekarno, pemilu di Indonesia berubah menjadi serangan otoriter dimana sepanjang era kepemimpinan Presiden Soeharto atau dikenal sebagai era orde baru, Indonesia telah melaksanakan setidaknya lima kali pemilu, yaitu tahun 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997. Pada pemilu-pemilu tersebut, Partai Golongan Karya (Golkar) selalu menang. Dan Soeharto, selalu terpilih sebagai presiden. Dari tiga partai yang ditentukan pemerintah dan DPR saat itu dalam UU No. 3 tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Termasuk dua partai lainnya yaitu PPP dan PDI.

Hingga pada tahun 1999, akhirnya pemilu digelar dengan demokratis dan merupakan pemilu pertama sejak berakhirnya rezim Orde Baru. Dalam pemilu ini, dipilih anggota DPR, DPRD Tingkat 1 Provinsi, dan DPRD Tingkat II Kabupaten/Kotamadya periode 1999-2004. Pemilu era reformasi ini diikuti oleh 48 partai politik yang berasal dari berbagai elemen. Penentuan kursi dilakukan secara proporsional berdasarkan persentase suara nasional. Bisa dikatakan pemilihan umum di negara Indonesia mulai membaik meskipun tidak mencapai target yang diinginkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai suatu lembaga negara yang menyelenggarakan pemilihan umum di Indonesia.

Meskipun tidak bisa dipungkiri, pasca reformasi 1998, partisipasi politik masyarakat dalam momentum pesta demokrasi atau Pemilu mulai meningkat. Namun, penurunan partisipasi politik masyarakat terjadi pada tahun 2014 dimana partisipasi pemilih dalam Pilpres 2014 meleset dari yang ditargetkan KPU sebesar 75 persen. Tak hanya itu, partisipasi pemilih juga menurun dibandingkan dengan pemilu 2009 dan pemilu legislatif April 2014 lalu.

Terjadinya kecenderungan  penurunan partisipasi politik sepanjang era reformasi ini disebabkan tingkat apatis generasi muda Indonesia yang cukup  tinggi. Para pemuda beranggapan bahwa siapapun yang menang, Indonesia akan begini-begini saja, tidak akan mengubah apa-apa. Tentu pemikiran ini harus segera diubah. Politik tidak segalanya mengarah ke arah negatif, politik juga menyangkut tentang hal-hal positif tentang Indonesia yang patut diperjuangkan dan mengapa partisipasi para anak muda sangat penting dalam menentukan arah negara.

Dalam konteks pemilihan umum yang semakin menguat, harapan KPU dalam pemilihan umum di tahun 2019 dapat dijalankan dengan sangat baik. Berbagai perubahan dan sosialisasi untuk membentuk kesadaran masyarakat terus berkembang. Apalagi terjadi sebuah ledakan kritis antara para pendukung dari masing masing pemimpin di tahun ini yang bisa jadi akan meningkatkan tingkat partisipasi politik. Kini para pemuda tidak kalah sibuk mengatur jalannya Indonesia dalam tangan mereka. Pemuda kian kritis dalam menilai seorang figur, apa yang dipilih pemuda tentu lahir dari banyak pertimbangan-pertimbangan baik dari sisi visi-misi calon, track record calon maupun sikap dan perilaku calon dalam menjalani aktivitasnya. Oleh karena itu, apa yang dipilih oleh pemuda dalam Pemilu atau Pilkada berpotensi melahirkan pemimpin yang berkualitas.

Pada tahun 2019, pemilihan umum yang diselenggarakan serentak akan menjadi hal yang baru dan sangat rumit bagi pemilih. Pada Pemilu tahun depan, terdapat lima kertas yang harus dicoblos. Kertas bergambar calon presiden dan wakil presiden, lalu bergambar anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Sementara pada pemilu-pemilu sebelumnya, pemilih hanya mencoblos empat kertas. Lantaran ini hal yang baru, semua pihak harus bahu-membahu menyukseskan Pemilu 2019. Salah satu yang dapat dilakukan pemuda adalah mendorong masyarakat untuk tidak golput.

Banyaknya kasus di arena politik yang  dapat menggerakkan pemuda ke segala jalur yang ada. Menjadi pemuda yang mendorong masyarakat memilih atau menjadi pemuda yang menyerukan masyarakat untuk memilihnya. Negatif atau positif. Pemuda berusaha semaksimal mungkin mengkritisi yang ada. Idealisme pemuda mulai berkembang hingga titik saat ini. Pemuda diharapkan mampu menjadi tonggak lahirnya para pemimpin negara Indonesia. Idealis sendiri identik dengan pengorbanan, penderitaan, kekurangan bahkan keterasingan. Barang siapa yang berpegang pada idealisme maka ia harus berani berperang dengan diri sendiri, orang lain bahkan sistem di sekitarnya.

Sebuah ungkapan kata dari seorang Bapak Republik Indonesia ‘yang terlupakan’, Bapak Tan Malaka mengenai idealisme menarik untuk di tarik artinya yaitu “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda.”. Sempitnya idealis bagi pemuda adalah dengan memiliki mental atau jiwa negarawan. Maksudnya adalah sadar diri untuk bisa mengambil perannya dalam hal memajukan bangsanya. Kuat dalam hal idealisme dan idiologisnya, namun tidak memaksakan kehendak dan menyadari perbedaan yang bersifat heterogenitas.

Patutkah jika idealisme mereka kita kotori dengan keserakahan dan ego semata. Maka sejak saat inilah, pemuda harus cerdas berpolitik dan bernegara. Pemuda sebagai manifestasi bangsa, merupakan sebuah takdir yang tidak dapat dielakkan lagi. Memutar terus roda kepemimpinan dan reformasi tentunya jelas memerlukan gebrakan semangat dan juga ide – ide cerdas untuk dapat mencapai sebuah hasil yang merupakan cita bangsa. Gambaran seperti itu hanya dapat ditemui pada diri seorang pemuda yang tentunya peduli terhadap keberlangsungan bangsa ini, bukan pemuda yang hanya memikirkan bagaimana menghabiskan masa mudanya dengan foya – foya, menjalani masa tua dengan kondisi keuangan yang melimpah ruah, dan berharap dengan matinya dia akan masuk surga nantinya. Mental seperti inilah yang menyebabkan para pemuda tidak lagi produktif. Menempatkan kepentingan hanya untuk dirinya dan tidak memperhatikan sebuah kondisi yang seharusnya dia bisa masuk ke dalam sistem pembangunan bangsa ini.

Untuk itu, mari kita sukseskan pemilu 2019 yang akan datang. Singsingkan lengan baju kalian. Masa depan adalah kewajiban, bukan semata hak saja untuk dinikmati. Kemerdekaan yang diwariskan oleh pendahulu bukanlah diperoleh dari hadiah dari penjajah, melainkan dari perjuangan jiwa dan raga. Berikan pilihan kalian yang terbaik bagi bangsa Indonesia untuk saat ini dan lima tahun yang akan datang. Ingatlah bahwa 30% pemilih nanti adalah pemuda. Pilihlah calon yang berkualitas dan dapat ditarik amanahnya. Berhenti memberi pandangan negatif bagi masing masing kubu untuk menjatuhkan mangsa sang raja. Kita bangsa demokratis. Kita Indonesia bersatu sebagai negara republik. Karena bukan kita siapa lagi, bukan kita siapa yang akan menggiring Indonesia menuju jembatan emas dari masa lalu, sekarang dan nanti.

*Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: