Lihat Iklan

Peran Pemuda Mewujudkan Pemilu yang Sehat dalam Cyberspace

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Devi Amelia Kartika, 

Tinggal menghitung bulan masyarakat Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi yaitu Pemilihan Umum legislatif Indonesia 2019. Disebut sebagai pesta demokrasi dikarenakan membludaknya jumlah pemilih pada Pemilu tahun 2019. Salah satu yang menjadikan Pemilu kali ini sangat menarik perhatian dari berbagai pihak yaitu dikarenakan tingkat partisipasi pemilih meningkat dan notabene dari pemilih pemula. Pada pemilu tahun depan, terdapat lima kertas yang harus dicoblos yaitu kertas bergambar calon presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Sebagai bagian dari komponen bangsa, pemuda tidak dapat melepaskan diri dan menghindar dari politik. Pemilu sebagai sistem demokrasi langsung memberikan ruang yang luas bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam menentukan pemimpin secara langsung tanpa melalui perwakilan. Sistem Pemilu maupun Pilkada yang dilaksanakan secara langsung telah membukakan panggung kepada setiap element masyarakat untuk berpentas diatasnya termasuk pemuda.

Dalam menghadapi Pemilu 2019, terdapat oknum yang tidak bertanggung jawab mulai bertebaran dalam hal menyebarkan isu SARA, hoax, fitnah dan kampanye hitam untuk mempengaruhi pemikiran pemilih terutama pemuda dan pemilih pemula. Sosial media menjadi kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari setiap manusia dan dengan seiringan waktu pemilu tidak sehat mudah ditemukan. Tidak dapat dipungkiri bahwa para pemudalah yang akan lebih cepat mendapatkan informasi baik itu informasi baik ataupun hoax dari sosial media yang mereka gunakan.

Isi media sosial terutama menjelang pemilu 2019 cukup membuat miris dikarenakan masyarakat semakin terpolarisasi terhadap pandangan dan pendapat yang tidak rasional. Pemuda yang menjadi pemilih pemula dan di lain sisi juga merupakan pengguna sosial media terbanyak di bandingkan dengan golongan lainya jarang menggunakan sosial media untuk mencari visi misi, rekam jejak, serta program dari pasangan calon pemimpin. Tetapi lebih sering tertarik dengan hal yang berbau ujaran kebencian, hoax dan fitnah.

Internet merupakan fasilitas positif yang memang ditujukan untuk mendatangkan kebaikan. Namun, jika disalah gunakan dapat memberikan ancaman khususnya terhadap ideologi bangsa. Maraknya penyebaran berita hoax didorong oleh keinginan sebagian masyarakat yang ingin eksis dengan memberikan informasi secepatnya dengan ikut menyebarluaskan lewat media sosial tanpa dibaca dan ditelaah lebih lanjut dan bisa juga dikarenakan oleh kepentingan individu dalam bidang politik.

Sosial media yang digunakan untuk Pemilu atau politik tidak sehat ini lah yang akan merusak demokrasi kita dimana kita sedang berada ditahun politik yang harus kita jaga supaya tidak merusak sistem demokrasi negara kita. Pemilu yang notabene sebagai kontes perebutan kekuasaan memang selalu menguras emosi, tenaga, pikiran bahkan biaya. Dengan tensi politik yang sedang memanas dan suhu politik mulai mendidih menyebabkan pertarungan membangun citra kian hingar-bingar seiring berbagai publisitas yang dimainkan oleh media, partai politik, elit politik, simpatisan, dan calon pemimpin tentu berlomba mati-matian untuk meraih kemenangan dengan berbagai strategi dan manuver. Sehingga tak jarang banyak orang terjebak kedalam praktek politik seperti money politics (politik uang), kampanye hitam, penyebaran isu SARA, fitnah dan hoax.

Memang suatu fakta politik bahwa isu sara adalah isu yang paling ampuh digunakan dalam meraup dukungan dan kepentingan pribadi yang sebesar-besarnya. Mereka sudah tidak peduli dengan akibat yang dihasilkan dari manuver yang dilakukan, karena yang terpenting adalah bagaimana cara menduduki kursi kekuasaan. Fenomena seperti ini sering kita jumpai dalam Pemilu yang telah berlangsung.
Pemanfaatan internet sebagai sumber informasi publik terutama bagi generasi millenial merupakan bagian dari kewajiban kita bersama dalam mengakses teknologi dan informasi. Semua lapisan masyarakat baik itu golongan tua ataupun golongan pemuda harus mengambil peran dalam proses ini. Dengan hanya berdiam diri dan menjadi penonton setia tanpa melakukan apapun dalam menghadapi penyebaran isu SARA, fitnah, dan hoax menjadikan kita masyarakat yang apatis, tidak perduli dengan lingkungan sekitar dan tidak akan pernah menjadikan kita masyarakat yang kritis.

Sebagai kelompok yang memiliki idealisme yang tinggi, pemuda harus mempunyai posisi yang kuat, tidak mudah digoyahkan dan tidak mempunyai kepentingan yang dapat menguntungkan diri sendiri, tetapi tetap jeli dan kritis pada politik.

Kabar-kabar terkait Pemilu 2019 ini mungkin sedang beredar luas di media sosial. Ujaran kebencian, hoax dan fitnah dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Tidak menutup kemungkinan hal itu dapat saja terjadi dalam Pemilu serentak mendatang jika pemerintah dan juga masyarakat lalai dalam mengantisipasi gejala-gejala dini yang terjadi saat ini.  Jangan buru-buru mengira informasi yang didapat dari kerabat, pacar, teman dekat atau sejawat benar adanya. Bisa jadi itu kabar bohong alias hoax belaka. Hoaks lebih berbahaya daripada politik uang karena dari dampak tersebarnya hoax lebih masif dibandingkan dengan money politics.

Kita harus mencegah penyebaran konten negatif dan menggunakan internet secara positif dan sehat, diantaranya yaitu dengan membaca, menelaah dan mencari sumber berita yang didapat, tidak asal menyebarkan berita atau informasi yang didapat dan ikut menyukseskan deklarasi kampanye damai.

Ada 2 poin dalam deklarasi kampanye damai di Pemilu 2019. Pertama, mewujudkan Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Kedua, melaksanakan kampanye pemilu yang aman, tertib, damai, berintegritas tanpa hoax politisasi SARA dan uang. Jangan sampai Pemilu kali ini menjadi lahan basah untuk meraup keuntungan pribadi semata. Jika ada postingan di media sosial yang menyebarkan berita kebencian, fitnah, atau hoax, lebih baik langsung dilaporkan ke pihak media sosial yang bersangkutan atau ke pihak berwajib. Para pemuda diharapkan turut berperan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

*Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Untan
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close