Cari Disini



Peran Pemuda dalam Menghadapi Politik Sara dan Politik Uang di Indonesia

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Jason Randall Guiliano*

Indonesia adalah negara maritim yang terbesar di dunia dengan rentangan garis pantai yang mencapai 81.000 KM dan wilayah perairan laut dalam seluas 2,7 juta KM. tak hanya itu, Indonesia juga memiliki 17.499 jajaran pulau yang tersebar dilautnya. Konsekuen dengan hal tersebut  tingkat populasi Indonesia memasuki peringkat 4 terbesar dengan jumlah hampir 270.054.853 juta jiwa pada tahun 2018 ini.

Dengan mayoritas penduduk muslim dengan jumlah 230 juta jiwa, sejak lama Indonesia telah dikenal sebagai negara yang memiliki nilai keberagaman dan toleransi yang tinggi karena banyaknya suku yang memiliki budayanya masing masing yang unik. Hal tersebut semakin diperkuat dengan masuknya Hindu, Buddha, Islam, serta budaya budaya lain yang dibawa oleh bangsa bangsa eropa pada zaman kolonial.

Dengan ribuan pulau dan jumlah penduduk yang setiap harinya bertambah membuat Indonesia lebih sulit untuk dipersatukan, hal tersebut menjadi senjata utama bagi para bangsa penjajah untuk menguasai Indonesia. Mereka menciptakan suatu sistem politik yang disebut dengan “Devide et Impera” atau politik adu domba yang dimana tujuan dari konsep tersebut adalah memecah sebuah kelompok besar menjadi kelompok yang lebih kecil agar lebih mudah ditaklukkan. Namun, hal tersebut berhasil dipatahkan oleh para pahlawan meskipun pada awalnya mereka hanya melakukan perjuangan di daerah masing masing.

Pada era modern ini Indonesia diserang oleh suatu paham yang sama. Namun, anehnya bukannya berasal dari bangsa penjajah tetapi berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi karena adanya agenda agenda politik dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.  Oknum-oknum yang bersangkutan biasanya menjadi dalang dari masalah-masalah atau konflik-konflik yang terjadi. Mereka akan berusaha untuk mengontrol orang orang dari balik layar yang bersedia untuk melakukan pekerjaan pekerjaan kotor bagi mereka. Agar terlihat bahwa konflik tersebut terjadi dengan sendirinya. Meskipun, pada kenyataannya mereka lah yang bertanggung jawab atas konflik yang terjadi. 

Naasnya penduduk Indonesia banyak yang termakan oleh politik adu domba modern tersebut. Dapat kita lihat banyak sekali konflik konflik yang terjadi karena masalah suku, agama, ras, dan antar golongan atau SARA. Politik SARA sering digunakan sebagai batu loncatan oknum oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Karena seperti yang kita ketahui hal-hal sensitif yang seperti itulah yang menuai banyak sekali permasalah dan perpecahan. pada umumnya oknu-oknum akan menggunakan solidaritas mekanik untuk mencari simpati daripada sebuah kelompok misalnya sebuah kelompok agama akan menggunakan agamanya sebagai sebuah senjata untuk menarik perhatian dari pemeluk agama tersebut, sering kali kita lihat di Indonesia agama mayoritas yaitu Islam sering digunakan sebagai senjata politik untuk mengumpulkan suara rakyat yang kokoh.

Tak hanya agama. Etnis dan ras bukan tak jarang digunakan sebagai praktik politik SARA contohnya, pada saat dilaksanakan pidato oleh gubernur DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan dimana beliau menggunakan kata-kata yang konotasi nya negatif dan tidak relevan seperti ‘pribumi’. Seperti yang kita ketahui, kata-kata tersebut adalah kata-kata yang sifatnya membeda-bedakan antara ras yang ada di Indonesia. Tidak hanya gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengatakan hal-hal yang sensitif tersebut, menteri perikanan dan kelautan Susi Pudjiastuti bahkan wakil presiden Indonesia sekarang juga sempat menyampaikan hal-hal yang serupa yang berkaitan dengan kata ‘pribumi’ alangkah baiknya kat- kata yang memecah seperti itu dihindari dalam praktik politik untuk menghindari pandangan-pandangan yang akan memicu sebuah perpecahan.

Lantas bagaimanakah cara kita sebagai pemuda Indonesia untuk menanggapi masalah-masalah atau konflik-konflik yang terjadi ini? para pejuang bangsa telah memberikan kita bekal untuk menjalankan suatu tatanan kepemerintahan dan kewarganegaraan yang baik. Yaitu melalui ideologi negara kita Pancasila, dimana isi dari Pancasila ini tertulis hal-hal yang patut untuk diamalkan oleh pemuda-pemudi bangsa Indonesia.

Contohnya sila ketiga dari Pancasila yang berbunyi ‘Persatuan Indonesia’ dimana rakyat-rakyat Indonesia hendaknya menjunjung tinggi persatuan bukannya memecah belah bangsa dengan pandangan-pandangan fanatik yang sempit terutama mengenai SARA. Maka sebagai pemuda-pemudi Indonesia yang cerdas kita harusnya menghentikan segala pandangan-pandangan yang nantinya akan menghancurkan bangsa kita karena seperti yang diketahui jika tidak ada persatuan dalam suatu negara maka akan tersusul perpecahan, kerusuhan, kekerasan dan lain-lain.

Pada masa masa rawan seperti sekarang kita harus lebih sigap. Karena dalam kurun waktu beberapa bulan yang akan datang kita akan mengadakan pesta politik untuk pemilihan presiden dan legislatif periode 2019-2024. Saat-saat seperti ini adalah momen yang dipergunakan oleh oknum-oknum politik untuk mendapatkan dukungan melalui perpecahan atau konflik konflik SARA. Tak hanya itu tidak jarang juga oknum-oknum politik juga sering menggunakan politik uang untuk mengamankan suara rakyat. Sebagai pemuda tidak seharusnya mengikuti sistem politik uang yang diterapkan oleh para oknum tersebut. Pemuda-pemudi Indonesia hendaknya menolak politik uang dan mmelaporkan ke pihak yang berwajib untuk membantu menghentikan politik uang tersebut karena jika masalah ini dibiarkan maka korbannya adalah rakyat Indonesia sendiri dimana oknum-oknum yang memimpin bangsa kita ini bukanlah orang yang pantas atau berhak untuk berkuasa. Seperti apa yang dikatakan oleh presiden pertama bangsa Indonesia yaitu Soekarno dimana yang dapat mengubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik adalah para pemuda-pemudi yang memiliki jiwa yang cerdas.

Pemuda-pemudi Indonesia harus mulai berfikir kritis dalam menilai informasi-informasi yang beredar. Kita juga harus bisa membedakan diri kita dari pilihan-pilihan massa yang salah, bukan berarti karena banyak orang yang melakukannya hal itu menjadi benar. Dan bukan berarti karena tidak ada orang yang melakukannya suatu hal menjadi salah atau keliru. Pemikiran-pemikiran pemuda dan pemudi harus lebih terbuka dan berani untuk membuat langkah yang baru untuk membuat sebuah gejolak perubahan yang diperlukan. Soekarno pernah berkata “Tuhan tidak merubah nasib bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri” dari perkataan Soekarno itulah kita dapat menyimpulkan bahwa untuk memperoleh integrasi bangsa yang kokoh adalah tugas dari kita pemuda dan pemudi bangsa Indonesia.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: