Cari Disini



Peran dan Partisipasi Pemuda dalam Menanggapi Pemilu 2019

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh : Nasranita N.P Tebai*

2019 ganti presiden, pasti ada sebagian besar dari kita yang sudah tahu kalimat ini entah itu di berbagai media-media sosial bahkan ada juga yang sampai membuat baju. Sebagian besar orang menanggapi dengan heboh pergantian presiden ini, memang tidak ada salah tetapi mereka seperti kurang puas akan pemerintahan yang sebelumnya. Lantas apa sih yang menyebabkan pemilihan presiden 2019 itu begitu heboh bahkan sampai ada hastag 2019 ganti presiden.

Apakah dikarenakan pemimpin negara kita yang sekarang tidak kompoten atau kurang mampu menyejaterahkan seluruh rakyat Indonesia? Bahkan ada juga orang yang hanya mengikuti keramaian tanpa tahu apa yang dilakukannya.

Dibalik berbagai macam isu yang bergejolak mengenai pemilihan presiden nanti kita sebagai mahasiswa sekaligus pemuda Indonesia dituntut untuk kompeten dan berpikir kritis dahulu sebelum melakukan segala sesuatu. Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang.

Mahasiswa adalah pemuda yang memiliki karakter yang dinamis, bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda saat ini menghadapi masa perubahan sosial dan kultural. Pemuda seringkali berpartisipasi dengan menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa, karena mereka sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan.

Sekarang ini Indonesia mengalami banyak sekali kasus yang terjadi entah itu bencana alam dan berbagai kasus lainnya, salah satunya mengenai Pemilu presiden 2019. Pemilu 2019 ini dinilai menjadi pemilu yang paling sulit karena kita tidak hanya mencoblos empat suara pemilu legislatif, tetapi tambah lagi satu surat suara pemilu presiden.

Karena itu, sebagian besar dari pemilih tersebut adalah para pemuda maka kita harus adil dan memilih dengan teliti calon legislatif tersebut. Saat hendak berpartisipasi dalam memilih suara, pemuda harus memiliki kemampuan yakni Soft skill (kemampuan kepribadian) dan Hard skill (kemampuan intelektual).

Menurut Indonesia Corruption Watch menilai ada banyak kesalahan yang terjadi pada pemilu 2018 dan diduga dapat terjadi ditahun 2019 yaitu : Jual beli pencalonan antara kandidat dan partai politik; Munculnya nama bermasalah dan calon dengan dinasti; Munculnya calon tunggal; Kampanye berbiaya tinggi akibat dinaikannya batasan sumbangan dana kampanye dan diizinkannya calon memberikan barang seharga maksimal Rp 25 ribu kepada pemilih; Pengumpulan model ilegal dan politisasi program pemerintah untuk kampanye; politik uang; manipulasi laporan dana kampanye; suap kepada penyelenggara pemilu; Korupsi untuk pengumpulan modal, jual beli perizinan, jual beli jabatan, hingga korupsi anggaran. Peran dan partisipasi pemuda sangat penting, terutama untuk membendung upaya pemecah belah bangsa menjelang hajatan pesta demokrasi atau pemilu tahun 2019.

Peran pemuda di zaman dulu yaitu perjuangan melawan penjajah dan mempertahankan NKRI agar tidak jatuh kedalam penjajahan pasca merdeka. Di zaman sekarang para pemuda dianjurkan untuk menjadi agen perubahan dan pembangunan bukan terjerumus ke hal hal yang merugikan bangsa. Pemuda juga berpartisipasi untuk menghalangi dampak negatif dalam pemilu seperti informasi berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian (hate speech).

Tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara dengan penggunaan sosial yang besar sehingga gampang sekali bagi oknum-oknum tertentu untuk menyebarkan hoax. Berita bohong yang disebarkan secara tidak langsung pasti berisi ujaran kebencian yang bisa membuat orang Indonesia menjadi saling membenci tanpa menelusuri terlebih dahulu kebenaran informasi yang disampaikan. Disaat seperti ini pemuda diharapkan untuk lebih teliti dan menyaring mana informasi yang baik dan buruk.

Diperkirakan dalam pemilu, 30 persen dari jumlah total pemilih adalah pemuda dengan usia 17 hingga 30 tahun. Perhitungan ini tentunya  signifikan dan partisipasi mereka akan berpengaruh dalam menentukan hasil pemilu. Sebagian besar pemuda menganggap bahwa politik lebih cenderung berstigma buruk. Apalagi berita di media sosial selalu mengekspos mengenai kasus penyalagunaan kekuasaan oleh sebagian pemimpin politik, tetapi media sosial jarang mengekspos hal-hal positif mengenai politik.

Para pemuda tidak harus menunggu kaum yang tua untuk menyelesaikan kasus-kasus politik yang terjadi, karena kaum orangtua telah melewati masa waktu mereka, sehingga sekarang pemuda yang diharapkan turut andil dalam memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia bukan justru sebaliknya acuh tak acuh dan tak mau tahu. Partisipasi pemuda dalam memilih adalah bentuk kepedulian anak muda dalam proses politik. Para pemuda diharapkan mempergunakan hak politiknya untuk memilih dan menentukan masa depan bangsa.

Banyak orang memilih untuk golput (tidak memilih) karena menganggap semua calon sama saja. Disini peran pemuda dibutuhkan untuk mengingatkan serta memberikan pemahaman bahwa golput merupakan hal yang salah, sebab jika kita ikut mencoblos itu tandanya kita  bertanggung  jawab atas hak politik yang kita peroleh. Daripada hanya sekedar komentar pedas di sosial media yang cenderung saling menjatuhkan. Pemuda keren itu tidak akan baper dan cepat emosi walau pilihannya berbeda dengan orang lain, karena tidak semua orang bisa menjadi dewasa dan tetap berkepala dingin menerima perbedaan.

Pemuda memiliki peran penting untuk mengawasi jalannya pemilu 2019. Karena pemilu 2019 dilakukan secara serentak dengan memilih presiden-wakil presiden dan calon anggota legislatif DPR-RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/kota dan DPD RI. Maka itu, ajang pemilu tersebut mendapat perhatian yang serius. Sehingga, pelaksanaan pemilu yang dilaksanakan dalam lima tahun sekali ini dapat menjadi pesta yang meriah bagi masyarakat.

Pemilu juga merupakan salah satu syarat mendasar sebagai negara demokrasi. Jika pemilu tidak berjalan maka otomatis demokrasinya juga tidak berjalan. Yang menjamin kelancaran pemilu itu tentu saja oleh semua warga negara Indonesia. Khususnya pemuda yang dikategorikan sebagai pemilih yang cerdas dan bertanggung jawab. Selain itu, pemilih ini juga didominasi oleh kaum pemuda dan kaum kaum orangtua. Jika ada perbedaan antara kaum milenial dan kaum orangtua, maka haruslah diberikan pendidikan politik yang sesuai dan wajar sehingga semuanya saling memahami.

Pemuda harus bisa menjadikan pemilu ini menjadi kemeriahan bersama, bukan didasari dengan hoaks atau berita bohong yang dapat memecah belah bangsa.
Maka dari itu, para pemuda harus memiliki jiwa yang kritis dalam melihat segala sesuatu bukan hanya dari satu sudut pandang saja. Bukan hanya pada saat ini ketika hendak memecahkan masalah pemilu yang terjadi. Namun, kedepannya setiap ada suatu kasus maupun tidak  pemuda harus teliti, memiliki soft skill and hard skill.  Pemuda adalah adalah harapan bagi setiap bangsa karena pemuda dapat mengubah sebuah struktur tatanan dalam suatu wilayah negara, serta tombak yang dashyat yang berbahaya apabila tidak dipergunakan dengan baik.

Untuk menjadi pemuda yang baik dan aktif dalam politik kita tidak harus menjadi anggota partai politik melainkan selalu berperan aktif dan berpastisipasi dalam hal-hal yang sederhana terlebih dahulu. Hal sederhana tersebut yaitu dengan menggunakan hak politik kita dengan baik, jujur, teliti, cermat, adil, dan lebih penting yaitu tidak mengandung suatu paksaan dari pihak manapun. Mari kita bersama-sama dengan jiwa muda bergandeng tangan untuk mendukung dan menyukseskan pemilu 2019 nanti sehingga tidak terjadi hal-hal yang dapat menghambat kelancaran pemilu.

*Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: