Cari Disini



Pemuda Menjadi Tonggak Demokrasi dalam Pemilu 2019

Bagikan:

Oleh: Khairunisa Ahadiyah*

Demokrasi menurut Meriem dapat didefinisikan sebagai pemerintahan oleh rakyat; khususnya, oleh mayoritas; pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada rakyat dan dilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung melalui sebuah sistem perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara mengadakan pemilu bebas yang diadakan secara periodik; rakyat umum khususnya unuk mengangkat sumber otoritas politik; tiadanya distingsi kelas atau privelese berdasarkan keturunan atau kesewenang-wenangan. Dari pemaparan tersebut dapa] disimpulkan bahwa Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat, yaitu rakyat sebagai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Demokrasi memiliki tujuan untuk kebebasan berpendapat, dan kekuasaan pemerintahan. Kebebasan berpendapat merupakan hal yang fundamental bagi negara Demokrasi, termasuk. Kekuasaan pemerintahan dimaksudkan membatasi sikap pemerintah agar tidak menjadi diktator atau kekuasaan absolut.

Dengan adanya Demokrasi, permintaan rakyat dapat terpenuhi dan dapat mewujudkan negara yang maju. Indonesia merupakan satu diantara negara yang menganut sistem Demokrasi karena Demokrasi dirasa tepat dalam menampung seluruh suara yang ada di Indonesia, dimana Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak dan tersebar di berbagai pulau dengan sistem Demokrasi yang dianut adalah Demokrasi Pancasila. Demokrasi di Indonesia selalu berkaitan dengan Pemilu (Pemilihan Umum), karena Pemilu merupakan sarana dalam aspirasi rakyat, dimana rakyat bebas mengeluarkan pendapat dengan pilihannya dalam bentuk memilih wakil rakyat yang akan menjadi pemimpin bagi bangsa Indonesia. Setiap lima tahun sekali, Pemilu dilaksanakan dengan tertib berdasarkan asas LUBER JURDIL. Pemilu yang baik merupakan pemilu yang bebas dari kecurangan, meskipun begitu tetap saja masih terdapat kecurangan yang tidak diketahui siapa pelakunya. Pelaku kecurangan ini membuat pemuda kurang peduli terhadap hasil dari Pemilu itu sendiri.

Sementara itu, kata ‘Tonggak’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah balok (kayu, batu, dan sebagainya) yang dipasang tegak. Hal ini dimaksudkan penegak keadaan Demokrasi yang sekarang ini menjadi masalah besar dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Kata ‘Tonggak’ ini ditujukan pada pemuda zaman ini. Pemuda adalah pewaris masa depan bangsa, di tangan pemudalah masa depan bangsa ditentukan. Berbagai tantangan Demokrasi menghadapi para pemuda sekarang ini, dalam hal ini konteksnya adalah Pemilu di Indonesia yang sebentar lagi dilaksanakan.

Masih membudayakan ‘ikut-ikutan’ dalam politik, pemuda sekarang ini akan memilih yang dominan orang pilih, beberapa faktornya adalah keluarga, kerabat, serta teman. Mereka tidak berani berdiri sendiri, merasa aman ketika ada yang berjalan di arah yang sama, para pemuda beranggapan jika memilih partai politik yang sama mereka akan merasa terjaga padahal mereka sadar bahwa mereka di arah yang salah dalam menentukan pemimpin bangsa selanjutnya. Tantangan selanjutnya adalah Pemuda masih belum mengetahui seluk beluk dunia politik yang membingungkan sehingga mereka asal dalam memilih pemimpin. Dengan sikap ‘bodoh amat’ dan diiringi sifat ‘ikut-ikutan’ mereka memilih pemimpin, menurut mereka selama hal yang buruk belum berdampak pada diri sendiri mereka tidak peduli. Setelah tidak berjalan dengan baiknya pemerintahan, barulah menimbulkan protes dari kalangan pemuda itu sendiri. Dalam hal ini perlu adanya revolusi mental bagi para pemuda, agar bisa menanamkan nilai-nilai
Perkembangan teknologi informasi yang pesat ibarat dua mata pisau. Di satu sisi memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam sumber daya serta daya saing. Dengan adanya iptek, kebebasan dalam mengakses informasi menjadi tak terbatas dan hasil yang didapatkan bisa selengkap mungkin. Sisi yang lainnya memberi efek negatif seperti hoax, pornografi, ataupun konten yang terlarang. Hal ini melahirkan pemuda yang terlalu mengikuti budaya Barat yang tidak sejalan dengan budaya Indonesia serta dapat merusak jati diri pemuda Indonesia.

Pemuda masih saja menjadi ‘budak’ dari perkembangan zaman. Teknologi memang berkembang, akan tetapi sifat para pemuda tumbuh tanpa pengawasan yang membuat mereka bergantung pada teknologi.
Tantangan selanjutnya yang harus dihadapi pemuda sekarang adalah masalah ‘suap’ politik atau yang disebut ‘money politic’ yang selalu mewarnai dunia perpolitikan. Kasus ‘suap’ bukan hal yang mengejutkan lagi, bahkan sekarang sudah menjadi kebiasaan para partai politik demi sukses naik jabatan sebagai seorang Presiden dan Wakil Presiden. Calon dari partai politik kerap memberikan janji-janji serta sikap ‘menjatuhkan’ lawannya dengan cara apapun.

Ciri pemuda yang maju adalah pemuda yang berkarakter, berkapasitas, dan berdaya saing. Revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden dinilai relevan dalam mewujudkan pemuda yang maju. Revolusi mental harus dijadikan sebagi pemicu agar bisa mewujudkan pemuda yang maju yang akan membuat kita menjadi bangsa yang hebat. Pemuda harus bisa memilih dan memilah yang baik dan buruk dalam dunia perpolitikan, tidak bisa asal menerima. Pemuda sebagai tonggak dalam demokrasi harus bisa bersifat netral dan memilih berdasarkan berbagai perhitungan yang dirasa dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan sejahtera.

Pesta Demokrasi tahun 2019 yang akan datang, pemuda diharapkan partisipasinya dalam menyukseskan gelaran tersebut. Partisipasi akif pemuda dalam Pemilu 2019 perlu ditingkatkan unuk mewujudkan Pemilu yang damai, kredibel dan berkualitas. Pemuda sebagai tonggak dalam demokrasi harus bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa, pemuda adalah pewaris bangsa yang kelak nantinya akan memimpin arah bangsa ini. Pemuda harus punya kemampuan dalam menghadapi berbagai pergolakan politik, Pemuda bisa mengontrol bagimana seharusnya menggunakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan bijak.
Pemuda telah banyak kehilangan jati diri, terutama dalam hal kebangsaan dan patriotisme (cinta tanah air). Oleh karena itu dibutuhkan adanya re-thinking (pemikiran kembali) dalam pembangunan karaker bangsa. Sejarah membuktikan bahwa pemuda merupakan tonggak bangsa yang membantu sangat signifikan dalam memajukan bangsa.  Contoh besarnya adalah gerakan Reformasi tahun 1998 yang menyebabkan lengsernya Presiden Soeharo, dari contoh tersebut bisa kita simpulkan bahwa peran pemuda saat itu sangat efektif dalam segi pemerintahan. Harapan besar saya adalah membentuk kembali semangat jiwa muda dalam partisipasi mengikuti Pemilu tahun 2019.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: