Cari Disini



Pemuda Harus Ikut Serta Memilih dalam Pemilu 2019

Bagikan:
Ilustrasi/Net
 Oleh: Ray Richardo Nainggolan*  

Tahun 2019 indonesia berada di tahun politik. Pemilu akan di gelar di 34 provinsi, 93 kota, dan 415 kabupaten. Dalam menghadapi pemilihan umum 2019, komisi pemilihan umum(KPU) beberapa waktu lalu meluncurkan tagline ‘Pemilih Berdaulat Negara Kuat’.

Ini merupakan cara agar menggencarkan Gerakan Sadar Pemilu kepada masyarakat guna menggambarkan apa yang ada dalam undang-undang yakni kedaulatan berada di rakyat yang menjadi pemilih dalam gelaran pemilu. Kontribusi pemuda dalam menyongsong pesta demokrasi sehat dalam pemilu 2019 sangatlah diperlukan.

Namun sayangnya, banyak pemuda saat ini yang acuh terhadap politik. Banyak anak muda yang terdoktrin bahwa politik cenderung berstigma buruk, terlebih bayaknya berita dari media yang menyebutkan banyaknya kasus penyelewengan wewenang oleh oknum-oknum politik. Padahal pemuda diharakan turut berkontribusi untuk memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia bukan justru sebaliknya acuh dan tak mau tahu.

Partisipasi pemuda dalam Pemilu 2019 adalah bentuk kepedulian anak muda dalam proses politik. Sehingga anak-anak muda di harapakan mempergunakan hak politiknya untuk memilih dan menentukan masa depan bangsa. Banyak pihak yang mengatakan bahwa tidak memilih (GOLPUT) merupakan sebuah pilihan pilihan. Ini adalah persepsi yang keliru.

Banyak juga yang berpikir memilih golput karena menganggap semua calon sama saja ini juga keliru. Saat ini ada banyak daerah indonesia yang mengalami kemajuan signifikan karena kepala daerahnya baik, hal ini karena ia dipilih oleh warganya. Jadi gunakan hak suaramu. Sebab kalau kita ikutan nyoblos itu tandanya kita sudah bertanggung jawab atas hak yang telah kita peroleh dan itu jauh lebih keren, dibandingkan hanya sekedar komen-komen ‘pedas’ di media sosial bahkan cenderung saling menjatuhkan. Berbagai strategi media tidak sedikitpun absen untuk meraih titik nurani masyarakat yang setia menuntut adanya perubahan.

Masyarakat luas yang menitikkan harapan bahwa kelak yang akan menjadi ujung tombak  dalam pembangunan daerahnya adalah orang-orang yang memang bisa diandalkan dan direpotkan dalam berbagai dinamika yang ada di daerah masing-masing. Sedikit mengenang apa yang sudah terlewatkan kemarin, banyak sekali ragam mimpi yang diberikan oleh mereka para petarung untuk bisa mendapatkan sebanyak-banyaknya kertas suara yang menguntungkan mereka.

Janji akan lapangan pekerjaan, bentuk kota yang disulap menjadi ruang publik, membubarkan riuh kemacetan, sampai bantuan dana langsung pada susunan pemeritahan yang terendah di tawarkan layaknya sebuah kepastian. Sekarang, entah apa yang sudah terlewati, jelas masing-masing kandidat hanya bisa menanti tanpa suatu kepastian dari apa yang mereka telah coba perjuangkan.

Setidaknya itulah kondisi ideal yang harusnya terjadi. Menilik irisan yang ada dalam elemen masyarakat bangsa ini, dalam undang-undang Nomor 40 tahun 2009 tertulis bahwa pemuda adalah mereka yang berada dalam rentan umur 16 sampai dengan 30 tahun dengan persentase 24,27 persen dari sekitar 255 juta rakyat indonesia.

Adapun untuk kelompok umur di bawah 16 tahun, ada sekitar 28,27 persen dan untuk kelompok umur di atas 30 tahun ada sekitar 46,92 persen. Dalam sudut padang konstestasi politik, dapat diartikan bahwa kelompok pemuda merupakan lumbung suara yang patut diperhitungkan dalam hal ini. Pemuda menjadi lahan yang perlu dilibatkan dalam menentukan pertarungan politik ini. Namun, sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang lain, generasi muda tidak hanya merupakan lumbung suara semata, tetapi jauh di balik itu, merekalah orang-orang yang akan meneruskan estafet demokrasi politik dan kepemimpinan bangsa ini.

Dinamika yang terjadi selama masa kampanye pemilu ini sangatlah tidak stabil. Namun, yang menarik dan menjadi sorotan jutaan mata adalah bagaimana rakyat menyikapi embusan angin segar ini, tidak terkecuali para generasi muda. Dalam periode pertarungan ini, banyak sekali kita disuguhkan pada berbagai macam mimpi dengan berbagai media peraganya. Banyak sekali terpampang di tiap sudut jalan wajah-wajah asing yang mungkin sedikit sedikit generasi muda yang mengenal menawarkan berbagai perubahan untuk daerahnya masing-masing. Tidak hanya itu, media sosial pun tidak luput menjadi ajang memamerkan berbagai prestasi dan tawaran dari mereka yang baru saja dikenal oleh mayoritas generasi muda.

Melihat peranan pemuda dalam pemilu ini, sedikit banyak dapat mencerminkann bahwa para generasi penerus bangsa ini masih peduli akan demokrasi yang kental akan nuansa politik. Hanya saja, sangat disayangkan pesta demokrasi ini banyak diwarnai oleh tangan kotor yang menjadikan banyak generasi muda tidak peduli akan pentingnya berdemokrasi dalam konteks politik. Sebut saja mengakarnya hoaks di jagat sosial media, yang tidak lain merupakan dunia kedua bagi sebagian besar generasi muda bangsa ini.

Fenomena hoaks ini sangatlah kejam terhadap pandangan politik dan demokrasi para gennerasi muda bangsa ini. Generasi yang seharusya mendapatkan edukasi tentang pentingnya berdemokrasi dan berpolitik, malahan disuguhkan dengan ketidak pantasan dalam berdemokrasi. Sungguh ini disayangkan, mengingat para pemuda ini adalah para aktor yang akan menentukan bagaimana nusantara ini akan berjalan di masa yang akan datang. Jadikan esok sebagai momentum untuk mulai berpikir dan berjuang bagaimana generasi muda bisa menjadi penentu arah pembangunan bangsa ini dan menjadi penyelamat dari tergerusnya makna demokrasi dan politik yang sebenarnya.

Pemuda bukan hanya penerus bangsa, tetapi sudah menjelma pula menjadi pelurus bangsa. Pemuda indonesia harus menjadi barometer demokrasi politik bangsa ini dengan katakan tidak pada golput. Dan anak muda keren itu tidak akan baper dan cepat emosi walau pilihannya berbeda dengan orang lain, karena tidak semua oran bisa menjadi dewasa dan bisa tetap berkepala dingin menerima perbedaan.

Mari kita sukseskan pemilihan presiden 2019 yang aman dan lancar. Gunakan hak pilih sebaik-baiknya karena akan menentukan daerah dan bangsa ini selama 5 tahun kedepan.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: