Lihat Iklan

Pemuda dan Pendidikan Politik Menjadi Penentu Kesuksesan Pemilu 2019

Bagikan:
Ilustrasi/Net

Oleh: Mila Zamilatun Nisa*

Menjelang akhir 2018, Indonesia telah dimeriahkan dengan semaraknya menjelang pesta demokrasi pemilu 2019. Kemeriahan ini dimulai dengan deklarasi kampanye damai yang berlangsung pada 23 September lalu di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Berbagai kegiatan yang dilakukan telah menarik perhatian, salah satunya adalah karnaval pakaian adat yang digunakan masing-masing kandidat capres-cawapres dan peserta deklarasi lainnya.

Tidak sampai di situ saja, Komisi Pemilihan Umum ( KPU) yakin bahwa pesta pemilu 2019 akan semeriah Asian Games yang telah menarik perhatian masyarakat Indonesia maupun dunia beberapa waktu lalu. Akan tetapi, harus kita ketahui bahwa semaraknya suatu pemilu bukan ditandai dengan kemeriahan kampanye para pesertanya saja tapi juga dilihat dari antusiasme partisipasi pemilih. Menjadi tugas kitalah sebagai pemuda Indonesia dapat mewujudkan kesuksesan pemilu 2019 mendatang karena pemilu adalah kita.

Pemilu adalah salah satu cara dalam memilih wakil rakyat untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu yakni mulai dari Presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan sampai kepala desa yang akan dipilih secara langsung. Pemilu yang akan berlangsung pada tanggal 17 April 2019 ini telah ditunggu-tunggu oleh khalayak ramai. Bagaimana tidak, Indonesia akan memiliki pemimpin baru yang melanjutkan singgahsana kepresidenan yang sekaligus sebagai harapan terjadinya suatu perubahan yang lebih maju. Fakta uniknya, ini akan menjadi pemilu serentak (pemilu legislatif dan pemilu eksekutif) pertama dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.

Bapak Jusuf Kalla menyampaikan bahwa pemilu 2019 nanti akan menjadi pemilu terumit yang pernah terjadi di Indonesia karena pemilih harus mencoblos semua 5 tingkatan (Presiden, Wakil Presiden, DPR, DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota, dan DPD). Meskipun dengan kerumitan itu, diharapkan antusiasme masyarakat pemilih tidak padam demi kesuksesan pemilu mendatang. 

Ada beberapa penentu terwujudnya pemilu yang sukses. Pertama adalah peran pemuda. Kenapa harus pemuda? Pemuda merupakan penyumbang suara 40% lebih sehingga partisipasi mereka menjadi kunci sukses tidaknya pemilu 2019. Pemuda merupakan agent of change yang mana setiap tindak aksi mereka menentukan masa depan bangsa dan negara. Pemuda kini bukan lagi berjuang mengikuti perang melawan para penjajah, tapi melawan negaranya sendiri dari kebodohan dan kemiskinan. Kita tidak bisa meremehkan potensi para pemuda, karena tanpa kita sadari pemuda memiliki kekuatan yang besar saat ini.

Kehebatan seorang pemuda juga telah diakui jauh sebelum bergantinya hari ini. Bahkan seorang Umar Bin Khattab pernah berkata "Dan setiap kali aku menemui masalah-masalah besar, yang kupanggil adalah pemuda." Pemudalah yang akan melanjutkan rajutan perpolitikan Indonesia karena merekalah yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Kedua adalah pentingnya pendidikan politik. Seorang pemuda hebat tidak lahir begitu saja, harus tetap dilengkapi dengan pendidikan agar mereka tidak lepas kendali. Pendidikan politik adalah proses pembelajaran atau sosialisasi mengenai hak, kewajiban, dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan politik memiliki tujuan utama untuk membuat warga negara memiliki kesadaran politik.

Kesadaran politik inilah yang mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam pembangunan negara dengan menggunakan hak suaranya saat pemilu. Sehingga dapat kita katakan bahwa dengan pendidikan politik yang baik dalam masyarakat menjadi salah satu faktor keberhasilan pemilu nantinya. Sebaliknya, pemuda minim pendidikan politik akan menjadi faktor terbesar kegagalan pemilu 2019 mendatang. Kurang terdidiknya masyarakat terhadap politik menyebabkan semakin tingginya sikap apatis sehingga mudahnya masyarakat memilih untuk tidak memilih atau golput
Setiap pelaksanaan suatu pemilu tidak lepas dari tindakan golput. Golput atau golongan putih adalah istilah bagi masyarakat yang tidak menggunakan hak suaranya dalam pemilu.

Berdasarkan sejarahnya, golput merupakan awal dari gerakan protes terhadap pelaksanaan pemilu 1971 yang merupakan pemilu pertama sejak Orde Baru berkuasa yang diprakarsai oleh Arief Budiman, Julius Usman, dan Imam Malujo Sumali. Golput tidak dilarang secara eksplisit oleh Undang-Undang, tetapi ini merupakan kesadaran kita secara individu bahwa pentingnya partisipasi dalam berpolitik. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa  satu hak suara mereka sangat menentukan masa depan bangsanya. Kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas tokoh-tokoh politik juga semakin berkurang karena maraknya penyimpangan yang terjadi, tapi golput bukan solusi terbaik yang harus dilakukan.

Meskipun golput merupakan hak bagi seseorang untuk memilih tanpa ada paksaan dari orang lain. Seseorang yang memutuskan golput adalah seseorang yang pesimis terhadap masa depan bangsanya. Memutuskan untuk golput berarti telah pasrah terhadap siapapun pemimpinnya dan apapun konsekuensinya karena pemilu bukan hanya untuk memilih yang terbaik tapi juga mencegah yang terburuk berkuasa.

Tindakan golput tidak sejalan dengan sistem politik yang dianut Indonesia yakni demokrasi. Indonesia merupakan negara demokrasi sehingga rakyat memiliki kekuasaan yang paling tinggi di dalamnya. Tapi apa yang akan terjadi jika partisipasi sang pemilik kekuasaan tertinggi itu tidak sepenuhnya berjalan dengan baik?

Banyaknya masyarakat yang tidak ikut berpartisipasi atau golput, tentu ini akan berdampak pada demokrasi yang telah lama ditegakkan di Indonesia. Sistem demokrasi di Indonesia akan rusak dan kita sebagai rakyatlah yang akan merasakan sendiri dampak buruknya. Proses pembangunan negara akan terhambat dan terganggunya komunikasi yang baik antara rakyat dengan pemerintah. Padahal demokrasi memiliki tujuan yang tidak jauh untuk menyejahterakan rakyat negaranya sendiri. Menurut Bapak Soekarno, demokrasi di Indonesia merupakan demokrasi yang lahir dari kehendak memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sehingga demokrasi merupakan aspek yang tidak bisa lepas dari negeri ini karena telah lahir dan tumbuh bersama.

Menangani permasalahan ini tentu pemerintah tidak dapat berdiam diri saja. Sudah dijelaskna sebelumnya, pemuda merupakan kunci sukses tidaknya pemilu mendatang sehingga partisipasi mereka sangat diharapkan. Untuk menarik perhatian pemuda mengenai pentingnya partisipasi politik dalam pemilu tentu dibutuhkan suatu hal yang kreatif,  menarik, dan juga yang dapat viral di kalangan mereka. Apalagi di zaman sekarang dimana hal-hal yang viral lebih mudah menyebar dan diikuti oleh mereka. Mereka akan lebih enggan menaruh perhatiannya kepada hal-hal yang kuno dan lama. Terlebih lagi, seperti yang kita ketahui bahwa generasi pemuda sekarang adalah generasi milenial yang mana mereka tidak dapat terpisahkan dari pengaruh teknologi seperti pada sosial media. Sehingga, semua upaya yang dilakukan diharapkan dapat terhubung kepada semua pemuda melalui sosial media.

Menurut penulis, cara yang dapat pemerintah lakukan ialah membuat karya berupa iklan, lagu, maupun film pendek kreatif yang membahas akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemilu dengan melibatkan artis-artis Indonesia. Memperbanyak sosialisasi ke sekolah-sekolah maupun di tempat lainnya sekaligus menanamkan pendidikan politik kepada anak-anak muda. Suatu sosialisasi juga harus disampaikan dengan menarik dan tidak membosankan agar terhindar dari rasa bosan. Selanjutnya adalah aksi kita sebagai pemuda sendiri bagaimana mengajak keluarga, teman, maupun orang lain di sekitar kita untuk berpartispasi dalam pemilu. Caranya adalah dengan berdiskusi bersama keluarga dan ngobrol asik dengan teman yang membahas mengenai pentingnya satu hak suara kita dalam pemilu. Kita juga dapat membagikan informasi-infromasi penting mengenai pemilu di sosial media kita. Semua yang kita lakukan adalah salah satu contoh tugas kita menjadi seorang warga negara Indonesia. Masih banyak masalah di luar sana yang menanti kita untuk diselesaikan. Meskipun hanya menghitung bulan menuju puncak pemilu 2019, lebih baik kita segera bertindak daripada tidak sama sekali. Kita tidak bisa hanya menunggu hasil, tapi juga ikut serta sebagai pemberhasil.

Dari poin-poin di atas dapat kita simpulkan bahwa Indonesia akan menggelar pesta demokrasi pemilu 2019 yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 April mendatang. Meskipun telah dimeriahkan dengan dengan kampanye para peserta pemilu, ini tidak menandakan bahwa pemilu mendatang akan sukses. Kesuksesan suatu pemilu diukur berdasarkan antusiasme partisipasi para masyarakat pemilih. Pemuda dan pendidikan politiklah yang menjadi peran penting dalam prosesnya suatu pemilu akan sukses. Sebalikknya, minimnya pendidikan politik dalam masyarakat menjadi faktor seseorang memutuskan untuk golput dan hal ini menjadi faktor kegagalan suatu pemilu. Suatu pemilu tidak dapat terlepas dari tindakan golput, yang mana menjadi momok menakutkan yang terus terjadi. Dan tindakan golput tidak sejalan dengan sistem demokrasi yang telah lama Indonesia tegakkan. Seterusnya, sistem demokrasi akan rusak dan berdampak pada rakyat sendiri. Menangani dampak dari maraknya tindakan golput, seluruh warga negara tidak dapat berdiam diri saja, baik pemerintah maupan para pemuda. Banyak sekali cara yang dapat kita lakukan dalam melakukan suatu upaya tersebut yang dapat kita lakukan mulai dari sekarang.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close