Lihat Iklan

Memilih Untuk Dipilih

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Opini: Tedy Chandra*

Indonesia akan mengalami pesta demokrasi ditahun 2019 tepatnya pada 17 April mendatang. Seluruh lapisan masyarakat di atas 17 tahun yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia wajib untuk memilih seorang kepala daerah mulai dari Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden dan Wakil Presiden dan beberapa Kepala Daerah di masing masing wilayah. Dengan demikian akan ada 196,5 juta orang Indonesia yang akan memberikan hak suaranya demi Indonesia yang lebih baik ditangan para pemimpin yang akan memimpin selanjutnya.

Lalu, bagaimanakah cara kita sebagai pemuda untuk memilih calon pemimpin yang baik agar kita dapat menjadikan Indonesia lebih baik lagi dan menjadikan ini sebagai pelajaran agar kita dapat menjadi seorang yang dipilih selanjutnya?
Apa itu pemuda?

Menurut Taufik Abdullah “Pemuda adalah generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “ dengan kata lain pemuda memiliki kesempatan yang sangat besar untuk melakukan perbaikan di Indonesia. Tetapi masih banyak penduduk Indonesia dan pemuda sebagai mayoritas tidak menggunakan hak pilihnya dikarenakan mereka tidak terlalu perduli dengan terselenggaranya pesta demokrasi jika dilihat dari pemilu tahun 2014 hanya sebesar 70,9% yang ikut berpartisipasi dalam pemilu bahkan ini lebih sedikit dari jumlah tahun sebelumnya yaitu 75,2%.
Jika dilihat dari penyebab kenapa penduduk Indonesia yang lebih banyak pemuda ini tidak melakukan pemilihan / golput di pemilu tahun sebelumnya antara lain.

Pertama, masyarakat merasa putus asa dengan keadaan yang tidak berubah pada pemerintahan sebelumnya, mereka para calon calon pemimpin yang sudah terpilih banyak sekali mengumbar janji-janji serta visi misi yang telah dipercayakan oleh rakyat namun ketika sudah didalam kepemimpinan orang tersebut malah tidak memberikan apa yang telah mereka katakan sehingga hal ini membuat masyarakat tidak percaya kepada pemimpin yang sebelumnya mereka pilih.

Kedua, masyarakat yang apatis terhadap pemerintah yaitu masyarakat tidak ikut dalam agenda politik yang ada di Indonesia atau kata lain masyarakat masa bodoh dengan gejala gejala politik yang ada disekitarnya. Adapun alasan-alasan mengapa orang-orang menjadi apatis karena ekonomi, ketidaktahuan dan karena mereka terlalu malas untuk mengatasi hal-hal tersebut.

Ketiga, masyarakat mengganggap golput adalah salah satu sikap untuk memprotes pemerintah karena kekecewaan mereka kepada pemerintah selama ini. Keempat, karena hari pemilu adalah hari yang liburkan maka orang-orang lebih mencari agenda lain yang lebih di prioritaskan dari pada pemilu.

Adapun hal yang membuat pemilih muda malas untuk memilih juga karena banyaknya kampanye hitam yang membuat pemilih bingung untuk memilih siapa yang akan mereka pilih nanti, dilihat dari Hoax yang menjelekkan salah satu calon ataupun kampanye yang dilakukan sebelum pada masa / waktu kampanye yang telah ditentukan. Tentu saja ini membuat para pemuda sebagai pemilih pemula yang masih gampang terhasut dan memiliki pemikiran yang kritis pasti menjadi malas untuk menggunakan hak suara mereka untuk memilih.

Presiden Indonesia yang ke-7 yaitu Joko Widodo pernah berkata ketika membuka rapat terbatas “Tahun 2020 – 2030 kita Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dimana penduduk usia produktif sangat besar. Artinya dalam kurun waktu 3-13 tahun kedepan kita akan memiliki banyak sekali SDM yang tengah pada puncak usia produktif.” Dengan kata lain pada saat pemilu selanjutnya akan digantikan oleh pemuda saat ini.

Hal ini membuat para pemuda harus belajar agar tidak terjadinya terus menerus kenaikan persentase orang yang melakukan golput pada saat pemilu yang akan datang seperti, mulai dari sekarang  mencoba untuk menjadi pemuda yang mempunyai visi dan misi yang jelas dan dapat terukur sehingga nanti dapat dipertanggung jawabkan kepada orang lain. Kedua, anak muda harus mengetahui tentang pentingnya berpartisipasi didalam kegiatan politik yang membuat mereka paham sehingga tidak hanya menuntut tapi tahu bagaimana proses yang terjadi didalam pemerintahan dan gejala politik yang terjadi disekeliling mereka. Ketiga, pemuda harus membuat prioritas kepada kepentingan umum seperti pemilu karena suara mereka sangat berharga untuk menentukan orang orang yang akan menjadi pemimpin indonesia di masa yang akan datang.

Pemuda yang nantinya akan menjadi calon yang akan dipilih harus mengikuti segala peraturan yang dibuat oleh KPU. Mereka harus dapat menjadi penengah dan pelurus ketika hoaks yang terus tersebar bukan malah menjadi kompor untuk ikut membuat hoaks tersebut makin tersebar. Pemuda yang akan menjadi calon dipilih juga harus dapat membuat para pedukung mereka tidak melakukan anarkis pada saat kampanye dan menjaga ketenangan dalam mengikuti seluruh alur politik yang akan dilaksanakan.

Pada kampanye pemilihan kepala daerah, sering terlihat banyak anak anak yang belum mempunyai hak untuk memilih ikut dalam proses kampanye yang padahal mereka tidak dibolehkan untuk ikut karena dilarang oleh undang undang perlindungan anak nomor 35 tahun 2014 pada pasal 15 dan pasal 76 H karena anak anak belum dapat memfilter semua hal yang didapatkan mereka dan ditakutkan akan melakukan hal-hal buruk karena tidak bisa menyikapi suatu hal dengan baik. Jadi para pemuda harus berani melakukan politik tanpa melibatkan anak anak karena tidak ada untungnya juga malahan dapat merusak mental dan pola pikir mereka.

Serta pemuda harus dapat melakukan politik tanpa membayar untuk orang lain agar memilih seorang pemimpin bangsa karena jika kita masuk dalam pemerintahan dengan keadaan seperti itu akan membuat orang tersebut berorientasi hanya untuk mendapatkan banyak uang bukan hanya untuk membangun negara dan pemerintahan yang lebih baik.

Jadi sebagai pemuda kita harus membuat sebuah perubahan yang baik untuk negara kita. Mulai dari menggunakan suara kita untuk calon pilihan kita didalam pemilu yang akan datang serta harus berusaha menjadi penerus yang lebih baik ketika nantinya akan menjadi calon untuk dipilih. menjadi golongan putih untuk tidak memilih bukanlah penggunan hak yang baik didalam negara demokrasi ini.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close