Kenapa Peran Pemuda Penting Dibalik Pemilu Indonesia 2019?

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Ajie Danto Wicaksono*

Pemuda merupakan generasi muda yang sangat berpengaruh untuk proses pembangunan bangsa Indonesia. Pemuda selalu menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa yang dapat merubah pandangan orang dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pemuda zaman sekarang sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan generasi zaman dulu dari segi pergaulan maupun sosialisasinya, pola pikir, dan cara menyelesaikan masalah yang sedang di hadapinya. Pemuda pemuda zaman dulu lebih berfikir secara rasional dan jauh kedepan, dalam artian yaitu mereka tidak asal bertindak maupun melakukan sesuatu, tetapi mereka merumuskannya secara matang dan memikirkan kembali dengan melihat dampak-dampak yang akan terjadi. Sedang pemuda zaman sekarang terkesan acuh terhadap masalah-masalah sosial yang ada dilingkungannya.

Dikaitkan dengan peran pemuda dalam pesta demokrasi  (Pemilu) yang dapat kita ketahui bersama di tahun 2018 merupakan tahun politik bagi para politisi yang ingin mencalonkan diri baik sebagai Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota serta menghadapi Pemilu legislatif anggota DPR RI, DPD RI, serta DPRD dimana setiap partai politik berlomba demi mendapatkan simpati masyarakat dalam proses demokrasi tersebut.

Generasi muda zaman dahulu mampu keluar dari jebakan sikap primordial kesukuan, agama, ras dan kultur budaya yang berlebihan menuju persatuan dan kesatuan bangsa. Tentunya semangat pemuda harus dilanjutkan generasi muda saat ini dengan menyongsong masa depan dunia yang lebih baik. Salah satunya harus sanggup membuka pandangan hingga ke luar batas tembok kekinian dunia.

Peran pemuda dalam menyongsong pesta demokrasi pilkada sangatlah diperlukan. Namun, sayang banyak pemuda sekarang ini acuh terhadap politik, terlebih sekarang ini politik memberikan pembelajaran yang buruk dengan banyaknya pemberitaan tentang kasus-kasus penyelewengan (bisa juga mahar politik istilah zaman sekarang). Pemuda diharapkan turut mengambil bagian dalam perbaikan sistem pemerintahan di Indonesia pada umumnya serta di daerah-daerah.

Koordinator Nasional Indonesia Election Watch Nofria Atma Rizki mengatakan Pemilu 2019 yang diselenggarakan serentak akan menjadi hal yang baru dan sangat rumit bagi pemilih. Pada Pemilu tahun depan, terdapat lima kertas yang harus dicoblos. Kertas bergambar calon presiden dan wakil presiden, lalu bergambar anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Sementara pada pemilu-pemilu sebelumnya, pemilih hanya mencoblos empat kertas.

Para pemuda akan memainkan peran yang sangat penting dalam percaturan politik di Tanah Air, khususnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Pada pemilu yang digelar serentak dengan pemilihan presiden, pemilh berusia 17-30 tahun berjumlah 30% dari total pemilih.

Baru baru ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 14 partai politik sebagai peserta Pemilihan Umum 2019 yang memenuhi syarat administrasi dan verifikasi faktual secara nasional.  Aspek yang menjadi penilaian mencakup keberadaan pengurus inti parpol di tingkat pusat, keterwakilan perempuan minimal 30 persen dan domisili kantor tetap di tingkat DPP serta di tingkat Propinsi ada tambahn syarat, yakni memenuhi keanggotaan di 75 Kabupaten/Kota di 34 Propinsi, serta syarat terakhir tentang status sebaran pengurus sekurang-kurangnya 50 persen kecamatan pada 75 persen Kabupaten/Kota di 34 Provinsi.

Sebagai kelompok yang memiliki idealisme yang tinggi, pemuda mempunyai posisi yang kuat, posisi yang tidak mudah digoyahkan, posisi yang independen dan merdeka. Sebagai pemuda yang peduli akan tanah air, sudah semestinya pemuda tidak lagi menjadi penonton yang baik yang siap menerima keputusan yang ada. Seolah-olah tidak peduli dengan siapapun yang akan memimpin, bagaimana program kerjanya dan bagaimana pula dengan janji politik yang telah dijanjikannya sewaktu kampanye.

Pemuda harus mengambil peran dalam proses ini. Dengan hanya berdiam diri, menjadikan kita pemuda yang apatis, pemuda yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan tidak akan pernah menjadikan kita pemuda yang kritis. Mengutip cuitan Soe Hok Gie “Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus, tetapi aku memilih untuk mardeka”. Begitulah seharusnya pemuda, mampu berdiri sendiri dalam posisi tawar, tidak mempunyai kepentingan dan menguntungkan diri sendiri. Tetapi tetap jeli dan kritis pada politik.

Oleh sebab itu, sebagai pemuda yang tidak berdiri di bawah bendera manapun dan tidak berkostum merah, biru, kuning maupun hijau hendaknya kita dapat mengawal setiap proses pemilu yang akan berlangsung dalam jangka waktu yang tidak akan lama lagi. Minimal dengan mencari tahu serta mengetahui rekam jejak calon pemimpin yang akan memimpin kita nantinya. Demi kemajuan tanah air, pemuda yang kritis diperlukan.

*Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments: