Gelora Mahasiswa Sukseskan Pemilu 2019 : Bersatu Demi Satu Tujuan

Bagikan:
Ilustrasi/Net
Oleh: Vidia Sava Deviani

Indonesia, Negara yang memberikan kebebasan rakyat untuk memilih. Secara teori, seharusnya suara tidak bisa dibeli, apabila rakyat Indonesia paham dan mengerti dengan baik arti dari sebuah Demokrasi. Namun apakah rakyat Indonesia sudah benar-benar memahaminya? Dan apa yang terjadi?

Terhitung sudah bertahun-tahun rakyat Indonesia berada di titik lelah dan tertatih akibat tipuan yang dilakukan oleh para politisi yang katanya akan memberikan bukti bukan janji. Mengutamakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Tapi begitu ada suara tangis dari pelosok negeri. Mereka acuh tak acuh, sibuk mencari koalisi bukan solusi. Bagaimana bisa kita terus-menerus menggantungkan nasib negeri kita kepada mereka-mereka? Banyak janji tanpa bukti.

Harapan dan kekhawatiran, kata-kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Begitu besar harapan masyarakat agar Pemilu 2019 menjadi lebih baik dan berkaca dari Pemilu di tahun-tahun sebelumnya. Besarnya harapan tersebut disertai pula dengan kekhawatiran dari masyarakat akan Pemilu 2019 yang dapat memecah belah masyarakat dan akan mengoyak serta merusak keutuhan maupun persatuan NKRI seperti halnya yang terjadi pada kasus Pilkada DKI Jakarta 2017 tahun lalu. Memasuki situasi seperti saat ini, para mahasiswa diharapkan dapat menjadi pelopor Demokrasi Pancasila, penguat persatuan, serta membangkitkan gelora mahasiswa dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama mensukseskan Pemilu 2019.

Mengapa Mahasiswa? Kehadiran mahasiswa cukup dianggap berpengaruh terhadap kehidupan politik yang diterapkan di Indonesia. Mahasiswa dengan pendidikannya sehingga tidak diherankan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan intelektual, kepekaan sosial serta sikap kritisnya. Kehadiran mahasiswa sebagai pengontrol kehidupan sosial dan politik dalam masyarakat dengan cara memberikan saran, kritik atau bahkan solusi untuk permasalahan sosial, politik atau bahkan permasalahan bangsa.

Mahasiswa secara sukarela, dengan semangat dan sepenuh hati ingin terjun langsung untuk membantu pemerintah. Membantu? Bukankah Mahasiswa kerjaannya demo atau membuat onar?

Mahasiswa sudah seharusnya memberontak terhadap kebusukan-kebusukan yang terjadi. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk keperdulian mahasiswa demi Indonesia yang lebih baik. Keperdulian tersebut bukan hanya diwujudkan dalam bentuk demo atau turun kejalan dan membuat kerusuhan saja, tetapi dengan pemikiran-pemikiran cemerlang, diskusi-diskusi, atau bantuan moril dan juga materil kepada masyarakat serta bangsa.

Beruntung jika mahasiswa masih perduli dengan segala permasalahan di negeri ini. Apabila mahasiswa acuh dan tidak perduli, maka dipastikan tidak akan ada lagi harapan yang lebih baik untuk kehidupan bangsa di negeri kita ini. Oleh karena itu, figur Pemuda yakni mahasiswa sangat dibutuhkan di Pemilu 2019, demi Pemilu 2019 yang sukses. 

Seperti halnya yang dilakukan oleh salah satu organisasi eksternal yang diperuntukkan bagi Mahasiswa Islam di seluruh Indonesia, sebut saja HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Sambas yang siap mensukseskan Pemilu 2019 dan mengawasi Pemilu 2019.

Dikarenakan  pada tanggal 21 September 2018, organisasi pemuda, Pengawas Pemilu Desa (PPD) dan Bawaslu Kabupaten Sambas mendeklarasikan Gerakan Pengawas Pemilu Partisipatif di Aula Hotel Pantura Jaya. Pada kesempatan tersebut, HMI hadir dan menanggapi deklarasi bersama Bawaslu yang dianggap sebagai langkah bersama untuk menyukseskan Pemilu 2019.

HMI berkomitmen untuk mengawal pesta Demokrasi kali ini, dan bekerja untuk mewujudkan pemilu jujur, adil, makmur, dan bermatabat. HMI dianggap akan menjadi penggerak pemuda di Indonesia untuk mengawal Demokrasi tahun depan. Selepas pelaksanaan kegiatan sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif, kelompok pemuda yang hadir dalam kesempatan tersebut mendeklarasikan Gerakan Pengawas Pemilu Partisipatif. Dimana, Gerakan tersebut yang akan menjadi bagian dari perpanjangan tangan Bawaslu untuk mengawasi jalannya pesta Lima tahunan ini. 

Ambisi HMI untuk menyukseskan Pemilu Damai 2019 terbukti dari Talkshow yang diadakannya yang membahas hal mengenai Strategi Jitu Tangkal Isu Hoax, Intoleransi, dan Radikalisme. HMI menganggap bahwa hoax harus diantisipasi, sebab hoax merupakan pemicu konflik masyarakat. Lebih-lebih lagi situasi kali ini merupakan situasi yang cukup rawan konflik. Adanya hoax dan lain-lain hanya akan memperkeruh tahun politik kali ini dan membuahkan konflik. Oleh karena itu, sebagai salah satu bentuk keperdulian dan upaya untuk menyukseskan pemilu, Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HMI mengadakan antisipasi untuk meminimalisir segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Tidak hanya organisasi HMI yang perduli dengan Pemilu 2019 kali ini. FKUB, STAIBN, Aliansi BEM Jakarta, dan masih banyak organisasi ataupun Mahasiswa lainnya yang perduli dan semangat dengan suksesnya Pemilu 2019 kali ini.

Pada dasarnya, dapat disimpulkan bahwa Pemilu tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang tak akan berjalan dengan baik tanpa adanya figur pemuda-pemudi dibelakangnya. Meskipun faktanya, masih terdapat beberapa pandangan rakyat yang buruk terhadap Pemilu itu sendiri. Namun,  bisa kita lihat sudah seberapa besar usaha yang telah dilakukan pemuda-pemudi Indonesia dalam menyukseskan Pemilu 2019. Mahasiswa adalah sekumpulan orang yang berbeda-beda, terlahir dari universitas atau organisasi berbeda pula. Namun, mereka bersatu untuk satu tujuan yaitu ‘ Sukses Pemilu 2019’ dan itu merupakan salah satu tindakan yang sangat positif dan mulia karena akan berdampak sangat baik bagi Negeri kita.

Apakah seluruh mahasiswa di Indonesia perduli dan semangat untuk menyukseskan Pemilu 2019? Sebagian perduli dan sebagian lagi tidak. Faktanya, di Indonesia tidak sepenuhnya masyarakat perduli dengan Pemilu. Jangankan perduli dengan Pemilu, bahkan untuk menggunakan haknya saja untuk memilih tidak ia gunakan. Kebebasan untuk memilih, menyatakan pendapat dan menjamin warganya untuk bebas mengidentifikasi diri dengan afiliansi politik mana pun ternyata tak mampu mendorong sebagian pemuda-pemudi untuk menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin yang akan menentukan hidup mereka dalam lima tahun ke depan. Hal tersebut sangat disayangkan, lalu bagaimana cara mengatasinya?

Pada dasarnya, sebagian orang yang tidak menggunakan hak suaranya dikarenakan kualitas pemilu yang semakin buruk dan pemimpin yang hanya memegang teguh janji tanpa adanya bukti. Hal tersebut membuat sebagian orang tidak menggunakan hak tersebut. Sehingga, agar seluruh mahasiswa atau pemuda-pemudi di Indonesia antusias dengan pemilu hal pertama yang harus dilakukan adalah perbaikan kualitas pemilu itu sendiri.

Oleh karena itu, adanya figur pemuda-pemudi ini sangat penting untuk mensukseskan pemilu 2019 dan pemilu di tahun yang akan datang. Apabila dilakukan secara terus menerus secara berkesinambungan dapat dipastikan akan memperbaiki kualitas pemilu itu sendiri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

*Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close