Lihat Iklan

Berangkat Sendiri, Pulang dengan Prestasi: Cerita Ahmad Ghozali Juara 2 LKTIN di Bengkulu

Bagikan:
Foto bersama peserta dan Dewan Hakim LKTIN Cais Expo di IAIN Curup, Bengkulu usai pengumuman juara/Istimewa.

Pontianak, jurnalsitiwa.co.id - Adalah Ahmad Ghozali, mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir semester 5 IAIN Pontianak yang berhasil meraih juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di IAIN Curup, Provinsi Bengkulu dalam agenda CAIS EXPO yang berlangsung pada tanggal 23 sampai dengan 25 November 2018.

Ikut sertanya Ghozali pada LKTIN yang mengusung tema “Peran Generasi Milenial Tangkal Radikalisme” ini karena mendapat informasi dari grup whatsAppnya.

Dengan mengirimkan abstrak pada tanggal 31 Oktober, Ghozali sebenarnya tak yakin akan masuk ke 17 besar, sebab abstrak yang dibuat tidaklah sempurna.

Lagipula saat mengirim abstrak Ghozali sebenarnya juga sedang sibuk-sibuknya menyiapkan tulisan untuk agenda USICON di Yogyakarta.

Malam itu Ghozali memang akan tidur larut malam untuk menyelesaikan tulisannya, tiba-tiba pukul 11.23 ada email masuk dari panitia bahwa Ghozali dianggap lulus dan masuk 17 besar dari 25 peserta yang lolos abstrak. Serta dipersilahkan hadir ke IAIN Curup untuk presentasi.

Meski senang, Ghozali juga bimbang sebab panitia meminta untuk mengirimkan full paper dengan batas akhir tanggal 10 November dan biaya pendaftaran ulang.

Selain itu mulai muncul pertimbangan. Pertama, tentang pendanaan. Ghozali mulai pesimis, karena dana tak mungkin ada. "Dari kampus tak memungkian bisa membanu dalam perjalanan ini," katanya.

Ghozali berbicara pada ibunya tentang ini. Dengan membawa ratapan mata yang berkaca-kaca bahwa tak mungkin bisa berangkat, Ghozali tetap bercerita.

Ibu Ghozali hebat, dia berucap dengan ketegasannya, “Udah berangkat saja, nanti pasti ada jalannya, Insya Allah."

Lantas Ghozali bertanya lagi, “Benarkah, ini agenda kampus tak akan bantu sebab akhir tahun dan tak ada anggarannya untuk ini," ujar Ghozali.

Ibunya terus meyakinkan usaha Ghozali. Pada H-2 dari batas akhir pengiriman full paper, Ghozali memutuskn untuk mengirimkan full paper meskipun belum tahu bisa berangkat atau tidak.

Enam hari berselang, Ghozali kembali mendapat email pengumuman bahwa dia lolos 10 besar. Ghozali langsung mengucap syukur.

"Dengan bangga saya menghadap ibu dan mengucapkan saya lulus dan bisa berangkat dan betapa bahagianya ekspresi ibu saya saat itu," kenangnya.

Ghozali kembali ragu setelah melihat teman-teman dari kampus lain yang juga lolos. Ada dari Universitas Patimura, Ambon, Universitas Jambi, Universitas Sriwijaya Palembang, Universitas Bengkulu, Universitas Aysiah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, IAIN Purwekorto, IAIN Pontianak, IAIN Curup, Bengkulu.

Ghozali mendapat informasi bahwa teman-temannya semua mendapat support dari kampusnya bahkan Universitas Patimura, Ambon rela mengeluarkan belasan juta untuk memberangkatkan mahasiswa mereka. Bukan hanya itu, semua delegasi mendapat bantuan dari kampus dengan bantuan pembiayaan dan sebagainya.

Giliran Ghozali terusik, "Pastilah yang dikirimkan semuanya mahasiswa berkualitas," fikirnya. "Yang jam terbangnya melangit, sedang saya tak ada apa-apanya," sambungnya.

Semakin pesimis, Ghozali merasa tidak mungkin menang melawan temannya yang dari Universitas karena kualitas budaya akademiknya.

Sedangkan dari IAIN yang sama-sama lolos yaitu IAIN Purwekerto dan IAIN Curup, Ghozali perhitunhkan pertama IAIN Purwekerto, "Pastilah saya akan ketinggalan jauh dan tak akan bisa menang sebab ini IAIN ada di jawa pasti budaya literasinya luar biasa ditambah lagi yang ikut adalah teman saya yang pernah mengikuti event-event konferensi Internasional dan Nasional, pasti kualitasnya sudah sangat terketahui," ujarnya.

Berikutnya Ghozali coba membandingkan diri dengan IAIN Curup, "Saya berfikir lagi ini tidak mungkin, sebab IAIN curup adalah tuan rumah pasti tidak akan mungkin tuan rumah mengelurakan pemain abal-abal, pasti ini mahasiswa terbaik sebab tak mungkin mahasiswanya akan gagal di kandang sendiri," ujarnya lagi.

Dalam fikiran Ghozali saat itu adalah ia akan gagal dan mendapat pringkat terakhir di babak final nanti.

Semakin dalam keraguan Ghozali tapi lagi-lagi wanita itu, ibunya mencoba meyakinkan lagi. "Berangkat saja, dana Insya Allah ada, pokoknya berangkat saja cari pengalaman," ujar ibunya.

Ghozali yakin betul bahwa doa dan ucapan sang ibu tak pernah berdusta, pasti Allah kabulkan. "Dari ini keyakinan saya lebih kuat untuk berangkat," ucapnya.

Sampai saatnya Ghozali berangkat sendiri.  Dia mencoba memberanikan diri kesana yang tak ada satupun orang yang dia kenali.

Pada hari Jumat, 23 November 2018 tepat pukul 14.00 Ghozali tiba di Bengkulu dan jam 9 malam sampai di Penginapan yang berdekatan dengan IAIN Curup.

Malam itu berubah seolah menjadi ketegangan sebab sudah melihat semua finalis yang akan tampil. Dari roman-romannya, Ghozali menilai teman-temannya begitu keren. Ghozali melihat temannya latihan. Dari Power point yang tampak gambar-gambar yang menarik, dan retorika yang luar biasa.
"Waktu itu saya putuskan untuk ke kamar saja daripada harus keluar dan menambah kegerogian. Saya putuskan tidur saja," ucapnya.

Paginya acara itu pun di gelar dengan mulai acara pembukaan. Pembukaan itu dihadiri oleh Rektor IAIN Curup Bapak Dr. Rahmad Hidayat M.Pd dan Warek 1 IAIN Curup.

Pada akhirnya sampailah waktu-waktu penampilan, saat itu saya mendapat giliran ke 8.

Ghozali tampil dengan membawa budaya melayu Kalbar yakni budaya berpantun sebelum memulai presentasi. Presentasi pun berlangsung dengan penuh kegerogian sampai akhirnya selesai.

Kemudian di sesi tanya jawab Dewan Hakim yang ternyata merupakan teman dari Dr Zainudin, mantan Warek III IAIN Pontianak. Dan semuanya pun selesai dalam waktu 15 menit dan waktu itu merupakan sangat berkesan bagi Ghozali.

Hari Minggu tiba yaitu waktunya pengumuman pemenang. Dan ternyata telah disebutkan bahwa saya mendapatkan juara dua. Dari Universitas Aysiah Yogyakarta juara satu dan dari Universitas Bengkulu juara tiga sekaligus Best Presentation.

Ghozali mengucap syukur terus menerus. Hanya dia sendiri dari IAIN yang mendapatkan juara pada event tersebut. "Alhamdulillah, saya yakin semua ini takdir terbaik dari Allah. Dan saya yakin dibalik kesuksesan ini karena ada wanita dibelakang saya yaitu Ibu yang sangat tulus dalam doanya," kata Ghozali.

Ucapan syukur juga dipanjatkan Ghozali karena dipertemukan dengan teman-teman yang luar biasa dari Indonesia timur sampai ke barat. Disapa pula oleh pemandangan alam yang sangat indah dan keren di Bengkulu.

Air terjun tertinggi, pemandian air panas, pantai panjang 7 KM yang langsung  berhadapan ke samudra hindia, danau di atas bukit, taman bunga, kota yang di kelilingi bukit, rasa sejuk seolah berada di atas awan, semua itu Ghozali nikmati


Selain itu, Ghozali sempat pergi ke rumah Ibu Fatmawati istri Presiden Sukarno, rumah pengasingan Sukarno dan ke benteng peninggalan Belanda yang masih terawat sampai sekarang.

Ghozali benar-benar bersyukur atas pengalamannya itu. "Saya ucapkan terima kasih kepada para dosen saya, Dr. Mukti, Dr. Saifudin Herlambang, Dr. Wajidi Sayadi, Dr. Ridwan Rosdiawan, Dr. Yusiadi, Dr. Ibrahim dan para dosen lainnya, masyaAllah betul-betul sangat memperkaya diri ini dengan setimulus-setimulus keilmuan yang selalu memaksa saya untuk berfikir lebih keras dalam menjawab tantangan global," ungkapnya.

"Untuk Mam Nurmi serta kajur IAT Ustad Bukhari, masyaAllah karena suportnya pula dari semua pembelajaran untuk berangkat agenda-agenda di luar Kalbar begitu besar. Juga ustadz Mukhlas, Pengasuh APTQ pula saya ucapkan jazakAllah pula serta teman-temannya di jurusan IAT dan Kampus IAIN Pontianak," tambahnya.

Dari ini Ghozali faham bahwa tidak ada kata yang mustahil. "Teruslah berbuat dan kejarlah ridho Ibumu maka Allah permudah segala langkahmu dalam menggapi mimpimu," pesannya.

Ghozali berhapan kampus IAIN Pontianak bisa menganggarkan kegiatan seperti ini di tahun-tahun berikutnya.

"Sebab dengan agenda sperti inilah kita bisa mempertajam Tri Darma Perguruan tinggi, memguji kemampuan, betul-betul tercurahkan misi akademisi yang akan terbaca oleh dunia internasional," harapnya.
Bagikan:

FEATURE

PONTIANAK

Komentar:

0 comments:

close