Cari Disini



PUTRI SAGITTA - Cerpen Icmi Risalati

Dahulu kala, ada sebuah istana megah di tepi pantai yang begitu indah dan ditempati oleh seorang Raja yang bijaksana bersama keluarganya.
Bagikan:
Ilustrasi/Net

Oleh : Icmi Risalati
Dahulu kala, ada sebuah istana megah di tepi pantai yang begitu indah dan ditempati oleh seorang Raja yang bijaksana bersama keluarganya. Raja memiliki istri yang sangat anggun dan baik hati dan juga seorang putri berusia 18 Tahun yang begitu cantik bernama Sagitta.
Suatu hari, kemalangan menimpa keluarga kerajaan. Ratu meninggal karena sakit. Putri Sagitta sedih dan selalu menangis setiap harinya. Tidak lama setelah itu. Raja memutuskan untuk menikah lagi. Putri Sagitta tidak setuju dengan keputusan ayahnya.
"Aku tidak setuju ayah! Apakah Ayah akan melupakan ibuku sebegitu mudahnya, hah? Ini baru saja 6 bulan setelah Ibuku meninggal!" Ucap Putri Sagitta dengan nada tinggi. Matanya berkaca-kaca.
"Tidak sayang. tapi siapa yang akan merawatmu nanti?" Ujar Raja.
"Aku bilang tidak! terima kasih ayah! terima kasih sudah membuatku semakin sedih!" Teriak Putri Sagitta. Putri Sagitta menangis dan berlari ke kamarnya.
Tak lama kemudian, Raja tetap menikah dengan wanita pilihannya. Wanita itu adalah seorang Ratu dari kerajaan lain yang bernama Ratu Lacerta. Ratu Lacerta sangat baik hati dan lemah lembut. Dia juga memiliki seorang Putri cantik yang dua tahun lebih muda dari Putri Sagitta, namanya adalah Putri Lyra.
Putri Sagitta merasa bahwa kebahagiaan dan kasih sayang ayahnya akan diambil oleh Putri Lyra. Dia selalu menjauh dari Putri Lyra dan tidak menghormati Ibu tirinya. Putri Sagitta bahkan selalu mencoba mencelakakan dan menyakiti Putri Lyra tetapi selalu gagal dan tidak berhasil.
Disisi lain, Ratu Lacerta dan Putri Lyra memahami perasaan Putri Sagitta dan selalu memaafkannya.
Suatu malam, ketika seluruh keluarga kerajaan makan malam bersama, Putri Sagitta hanya diam dan menunjukkan wajah arogannya. Ia menatap sinis pada Putri Lyra dan pada ibu tirinya.
"Sagitta sayangku, mengapa kamu tidak makan makananmu?" tanya Ratu Lacerta.
"Jangan pura-pura peduli padaku!" teriak Putri Sagitta.
Raja begitu marah dan membentak Putri Sagitta. "Jaga mulutmu Sagitta! Hormatilah dia sebagai ibumu!" Bentak Raja kepada Putri Sagitta.
Putri Sagitta menangis dan berkata kepada ayahnya. "Ayah, kamu tidak pernah menyayangiku!" Ucap Putri Sagitta dan berlari ke kamarnya.
Putri Lyra tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa bersalah Pada Putri Sagitta dan merasa kasihan pada ibunya.
Suatu sore. Putri Sagitta duduk di depan cermin besar di kamarnya dan mengoleskan krim pada wajahnya. Dia merasa tidak secantik Putri Lyra. Sebelumnya, dia tidak pernah menggunakan krim apa pun, Dia menggunakan krim itu untuk pertama kalinya dan dia tidak menyadari dirinya begitu ceroboh, sehingga sedikit krim yang digunakannya mengenai matanya. Putri Sagitta merasakan sakit yang tak tertahankan, ia berlari kesini kesini tanpa melihat dan terus menerus mengucek matanya.
Setelah itu Putri Sagitta hampir terjatuh dari balkon yang tidak memiliki pagar pembatas, tetapi Putri Lyra segera menarik tangannya.
"Apa yang kamu lakukan kakak?" tanya Putri Lyra cemas.
"Kenapa? kenapa kamu bantu aku!" tanya Putri Sagitta tanpa menghiraukan pertanyaan Putri Lyra.
"Sekarang bukan waktunya bertanya! Kakak ingin jatuh, Hah!" Bentak Putri Lyra.
Putri Sagitta hanya diam.
"Apa yang kakak pikirkan? Cepat pegang tanganku!" Ucap Putri Lyra.
Putri Sagitta memegang tangan Putri Lyra. Dan Putri Lyra segera menarik Putri Sagitta kembali ke balkon.
Putri Sagitta hanya diam. Ia merasa begitu lega dan juga bersalah.
"Mengapa kamu membantuku?" Tanya Putri Sagitta.
"Karena kakak saudaraku. Aku tidak akan membiarkan saudaraku dalam bahaya." Jawab Putri Lyra tulus.
"Tapi aku selalu berusaha menyakitimu." Ucap Putri Sagitta merasa begitu bersalah.
"Dan aku selalu memaafkanmu kakak, Aku mengerti perasaan ditinggalkan orang yang begitu disayangi, karena aku juga mengalaminya. Perasaan sedih dan campur aduk saat ayahku meninggalkanku." Jelas Putri Lyra sambil menahan air matanya.
Putri Sagitta menangis dan memeluk Putri Lyra. Putri Sagitta mengucapkan terima kasih yang mendalam pada Putri Lyra.
"Terima kasih Lyra. Aku salah! Aku menyadari itu. Aku hanya tidak ingin Ayah tidak menyangiku lagi. Yang aku miliki hanya Ayahku." Isak Putri Sagitta.
"Baiklah. Aku mohon pada kakak, jangan permasalahkan itu lagi sekarang." Ucap Putri Lyra sambil tersenyum dan mengusap-usap punggung Putri Sagitta.
“Ngomong-ngomong, Apa yang harus aku lakukan untukmu?” Tanya Putri Sagitta sambil melepaskan pelukannya dari Putri Lyra.
“Aku tidak akan meminta apa pun yang sulit kakak. Cukup anggap aku sebagai adikmu dan hormati serta sayangi ibuku sebagai ibu kakak, sebagaimana kakak menghormati dan menyayangi ibu kandung kakak.” Ucap Putri Lyra begitu tulus.
Putri Sagitta merasa begitu sedih. Dia tidak menyangka saudara tirinya sangat baik. Selama ini dia salah faham Ibu dan Saudara tirinya. Dia begitu menyesali perbuatannya selama ini pada Ibu dan Saudara tirinya. Yang Putri Sagitta lakukan hanyalah menyakiti Ibu dan Saudara tirinya. Tanpa ia pikir ternyata Ibu dan Saudara tirinya begitu tulus menyayangi dan memperhatikannya.
Tak lama setelah kejadian itu. Pada suatu pagi, Putri Sagitta menemui Ayahnya dan Ibu tirinya. Dia ditemani oleh Putri Lyra.
Putri Sagitta merasa begitu malu dan bersalah. Dia berlutut di depan ibu tirinya.
"Apa yang kamu lakukan Sagitta? Ada apa?" Ratu Lacerta bertanya-tanya.
"Aku minta maaf karena selama ini tidak menghormatimu." Jawab Putri Sagitta pelan.
"Tentu sayang. Tentu saja Ibu memaafkanmu Sagitta. Ibu begitu senang kamu meminta maaf." Ucap Ratu Lacerta sambil menangis.
Setelah itu, Raja tersenyum mendekati Putri Sagitta dan memeluknya.
"Kamu sudah melakukan hal yang baik dan benar. Ibumu akan bahagia di surga sana." Ucap Raja pada Putri Sagitta
Semenjak kejadian itu. Putri Sagitta dan keluarga tirinya hidup dengan penuh kedamaian dan kebahagian di istana yang begitu megah tersebut.



Biografi Penulis
Saya adalah Icmi Risalati, anak ke-1 dari dua bersaudara yang dilahirkan 19 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1999 di Sukabumi, Jawa Barat. Sejak usia 7 tahun saya diajak bertransmigrasi ke Pulau Kalimantan oleh kedua orang tua saya. Dan sekarang orangtua saya menetap di Kota Sambas. Saya adalah seorang alumni SMA Negeri 10 Singkawang. Setelah saya lulus dari SMA Negeri 10 Singkawang, saya melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi di Pontianak. Saya diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Pontianak, tepatnya di Poltekkes Kemenkes Pontianak dan mengambil jurusan kebidanan.
Bagikan:

CERPEN

SASTRA

Komentar:

0 comments: