Lihat Iklan

Bangsa dan Pendidikan

Bagikan:
Ilustrasi Pendidikan/Net

Oleh: Cecep Permadi

Di dalam suatu bangsa yang kuat terdapat guru yang begitu hebat dalam mendidik generasi generasi penerus, generasi ini lah yang menjadi barometer kemajuan suatu bangsa, karna Pendidikan merupakan aset penting dalam pembentukan sumber daya manusia. Dapat dikatakan kalau kemajuan suatu bangsa tergantung pada bagaimana bangsa itu membangun sumberdaya manusianya menjadi berkualitas.

Pada hakikatnya sumberdaya manusia yang bermutu dalam konteks pembangunan bangsa adalah manusia yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, sikap dan budi pekerti yang baik serta memiliki keterampilan handal.

Pendidikan merupakan penggerak utama (before to move) bagi pembangunan. Negara-negara sedang berkembang memandang pembangunan yang telah terjadi di dunia barat seakan-akan merupakan cermin bagi diri mereka.

Pendidikan modern yang telah berhasil mengantarkan negara-negara maju (developped countries) dari kemiskinan dan keterbelakangan pada masa lampau sehingga mencapai tingkat seperti yang bisa disaksikan, sudah barang tentu akan berhasil pula mengantarkan negaranegara yang sedang berkembang mencapai tingkat pembangunan sebagaimana yang telah dicapai negara-negara maju.

Empat pilar pendidikan yaitu (1) Belajar untuk mengetahui (Learning to know) (2) Belajar untuk berbuat (Learning to do)‌ (3) Belajar untuk hidup bersama (Learning to life together)‌ dan (4) Belajar untuk menjadi diri sendiri (Lerning to be).

Pada saat ini yang dibutuhkan generasi muda bangsa kita adalah sistem pendidikan yang demokratis, kreatif, terbuka, kritis, dan dialogis. Memang tidak dapat dipungkiri masih sering terjadi kekerasan guru kepada murid dan sebaliknya, sebenarnya hal semacam ini harus ditinggalkan dan dihilangkan karna dapat memperlambat proses kemajuan pendidikan kita diindonesia, karna masih banyak pekerjaan rumah tentang bagaimana memajukan pendidikan di negara kita. 

Diera Sekarang sistem pendidikan di Indonesia tidak membuat generasi open-minded dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan global yang begitu cepat. Kita tidak lagi hidup di era yang mementingkan kecepatan, tapi percepatan. Terus terang, kita tidak dapat membandingkan sistem pendidikan kita dengan China, India, dan Amerika Serikat (AS). pertama adalah kandidat raksasa ekonomi dan teknologi di masa yang datang. Sedangkan AS kini tengah keteteran dengan melesatnya China dan India.

China dan India sudah mempersiapkan sistem pendidikannya dengan serius dan bervisi global. Mereka membangun banyak sekali institut teknologi yang hanya menerima mahasiswa terbaik. Sejak usia belia, anak-anak China dan India sudah diperkenalkan dengan teknologi informasi, plus etikanya.

China dan India mempersiapkan infrastruktur pendidikan dengan baik. Mereka tidak main-main. Sementara itu, mereka terus mengirimkan anak-anak muda terbaik mereka untuk kuliah di universitas-universitas Ivy League (universitas papan atas di AS) sampai program doktor. Setelah itu mereka bekerja di lembaga-lembaga riset dan perusahaan teknologi AS. Setelah kenyang dengan pengalaman riset di AS, mereka pulang dan membangun perusahaan di negeri sendiri.

Thomas L. Friedman, penulis buku The World is Flat mengatakan bangsa Amerika perlu memperbaiki sistem pendidikannya dengan serius. Ia khawatir generasi muda AS akan kalah bersaing dengan generasi muda China dan India. Banyak perusahaan kelas dunia kini yang meng-outsource pekerjaannya ke Bangalore atau Shanghai. Sarjana-sarjana India dan China mempunyai kualifikasi pendidikan setara dengan sarjana-sarjana sains dan teknologi AS namun mereka mau dibayar lebih murah dengan produk yang bahkan lebih baik dari produk AS.

China dan India kini menyusul di AS sekitar tiga bulan, ujar Friedman. Sementara bangsa AS sendiri tengah dilanda kecemasan dengan merebaknya penyalahgunaan senjata api, kecanduan minuman keras dan narkotika, dan seks bebas di antara generasi mudanya. Generasi muda AS kini lebih santai dibanding orang-tua mereka. Mereka memiliki etos belajar yang lemah dan mudah terperdaya dengan budaya pop. Hal ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama, tapi terus menjadi bahaya laten bagi masyarakat AS.

Bagaimana Indonesia? Sulit memprediksi masa depan Indonesia. Saat ini pendidikan Indonesia masih berkutat dengan infrastruktur dan kurikulum. Anggaran pendidikan memang sudah mencapai 20 persen, namun itu dibagi dalam beberapa departemen. Pada saat ini bangsa Indonesia dalam kondisi “darurat pendidikan”. Betapa banyak sekolah renyot di negeri. Guru-guru di daerah tersebut mengajar dengan penuh keikhlasan demi generasi masa depan yang lebih baik.

Dalam pidatonya, sesuai hasil analisis ahli asal Amerika yang tertuang dalam sebuah novel "Ghost Fleet". Prabowo menyebut ada ketimpangan penguasaan kekayaan dan tanah di Indonesia.  terancam punah karna tanpa disadari kita sedang dijajah oleh negara asing melalui sektor sektor tambang dan industri, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam namun bukan pemerintah yang mengelola justru orang asing yang banyak mengeruk kekayaan alam Indonesia. Disini jelas bahwa kita kekurangan sumberdaya manusia yang berkualitas yang memiliki kemampuan dalam mengelola hasil bumi kita.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan di IAIN Pontianak
Bagikan:

OPINI

Komentar:

0 comments:

close